Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Sekretaris IPHI Kabupaten Blora
Baru-baru ini, Pengurus Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, meresmikan sebuah gedung pertemuan. Kehadiran gedung tersebut tentu patut disyukuri.
Sebuah gedung bukan sekadar bangunan fisik, tetapi dapat menjadi tempat bertemunya gagasan, mempererat silaturahmi, menyusun program, dan menghidupkan berbagai kegiatan keumatan.
Namun, ada pesan yang jauh lebih dalam disampaikan KH. Khasbullah dari Cepu dalam mauidhoh hasanah pada acara tersebut.
Menurut beliau, membangun gedung pertemuan itu mudah, tetapi yang sulit adalah bagaimana memanfaatkan gedung tersebut untuk mewujudkan kemabruran haji. Pesan sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung renungan yang sangat besar.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah pembangunan tidak semata-mata terletak pada berdirinya bangunan. Gedung yang megah akan kehilangan makna apabila tidak diisi dengan kegiatan yang memberi manfaat.
Demikian pula ibadah haji. Seseorang mungkin telah menunaikan rukun Islam yang kelima, tetapi pertanyaan berikutnya adalah: apa yang berubah dalam dirinya setelah pulang dari Tanah Suci? Haji mabrur bukanlah sekadar gelar sosial yang melekat di depan nama.
Kemabruran semestinya tercermin dalam perilaku. Orang yang telah berhaji diharapkan semakin baik hubungannya dengan Allah sekaligus semakin baik hubungannya dengan sesama manusia.
Karena itu, kemabruran haji tidak cukup diukur dari cerita tentang perjalanan spiritual di Tanah Suci.
Ia justru diuji setelah seseorang kembali ke tengah masyarakat. Apakah ia semakin mudah menolong? Apakah ia semakin santun kepada tetangga? Apakah ia semakin peduli kepada orang miskin?
Apakah ia semakin ringan tangannya membantu orang yang sedang kesusahan? Apakah ia mampu menjadi penyejuk ketika masyarakat menghadapi perbedaan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sesungguhnya membawa kita kepada makna kemabruran. Haji yang mabrur semestinya melahirkan manusia yang manfaatnya dirasakan oleh lingkungan di sekitarnya.
Ada satu pesan KH. Khasbullah yang sangat relevan dengan kehidupan kita: untuk berbuat baik, kita tidak perlu menunggu menjadi pintar. Kadang-kadang manusia terlalu banyak membuat syarat untuk dirinya sendiri.
"Nanti kalau saya sudah pintar, saya akan mengajar." "Nanti kalau saya sudah kaya, saya akan bersedekah." "Nanti kalau saya punya jabatan, saya akan membantu masyarakat."
"Nanti kalau saya memiliki banyak waktu, saya akan aktif dalam kegiatan sosial."
Padahal kebaikan tidak selalu membutuhkan kepandaian yang tinggi, kekayaan yang berlimpah, ataupun jabatan yang besar. Tersenyum adalah kebaikan. Menyapa adalah kebaikan.
Membantu tetangga adalah kebaikan. Menjenguk orang sakit adalah kebaikan. Memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan adalah kebaikan. Mendamaikan orang yang berselisih adalah kebaikan.
Bahkan menjaga agar lisan kita tidak menyakiti orang lain juga merupakan bentuk kebaikan. Dengan demikian, pintu kebaikan sesungguhnya terbuka bagi siapa saja.
Demikian pula dengan berbagi. Sering kali kita berpikir bahwa berbuat baik harus dengan harta yang banyak. Padahal kemampuan manusia untuk berbuat baik jauh lebih luas daripada sekadar memberikan uang. Orang yang memiliki ilmu dapat berbagi ilmu.
Orang yang memiliki tenaga dapat membantu dengan tenaganya. Orang yang memiliki pengalaman dapat memberikan nasihat. Orang yang memiliki waktu dapat menemani mereka yang kesepian.
Orang yang memiliki kemampuan berbicara dapat menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Bahkan seseorang yang tidak memiliki apa-apa pun masih dapat memberikan senyum, keramahan, perhatian dan doa.
Inilah pentingnya memperluas makna amal. Kebaikan bukan monopoli orang kaya. Kebaikan adalah kesempatan bagi setiap manusia.
Karena itu, gedung pertemuan IPHI Kecamatan Randublatung yang baru diresmikan hendaknya tidak berhenti sebagai simbol keberhasilan pembangunan fisik.
Gedung tersebut diharapkan benar-benar menjadi rumah kemabruran haji.
Di tempat itu para alumni haji dapat bertemu, berdiskusi, menyusun kegiatan sosial, menguatkan ukhuwah, memberikan edukasi keagamaan, membantu masyarakat, membina generasi muda, serta menghadirkan berbagai program yang manfaatnya dirasakan masyarakat.
Gedung yang baik adalah gedung yang hidup. Bukan sekadar ramai ketika ada acara seremonial, tetapi terus menghadirkan manfaat setelah acara selesai.
Jika setiap alumni haji membawa satu kebaikan ke lingkungannya, kemudian kebaikan itu dilakukan secara bersama-sama melalui wadah IPHI, maka dampaknya tentu akan jauh lebih besar.
Dari gedung itu dapat lahir gerakan kepedulian. Dari gedung itu dapat tumbuh persaudaraan. Dari gedung itu dapat muncul gagasan pemberdayaan. Dan dari gedung itu pula kemabruran haji dapat diterjemahkan menjadi amal nyata.
Pada akhirnya, perjalanan haji bukanlah garis akhir dari ibadah. Haji justru dapat menjadi awal perjalanan baru untuk menjadi manusia yang lebih baik. Seorang alumni haji tidak perlu merasa harus melakukan sesuatu yang luar biasa.
Cukup mulai dari lingkungan terdekat. Mulai dari keluarga. Mulai dari tetangga. Mulai dari teman. Mulai dari orang yang membutuhkan pertolongan. Mulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan hari ini.
Sebab kebaikan yang kecil tetapi dilakukan dengan ikhlas dan terus-menerus dapat memiliki makna yang besar.
Pesan KH. Khasbullah menjadi sangat penting untuk direnungkan: membangun gedung memang membutuhkan biaya, tenaga dan waktu. Tetapi menghidupkan gedung dengan kemabruran membutuhkan hati, keteladanan dan konsistensi.
Maka, peresmian Gedung IPHI Kecamatan Randublatung jangan hanya menjadi momentum berdirinya sebuah bangunan.
Jadikan ia sebagai awal berdirinya sebuah gerakan kebaikan. Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa megah gedung yang kita bangun, tetapi seberapa banyak kebaikan yang lahir dari dalamnya dan seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat. Gedung boleh berdiri kokoh.
Tetapi kemabruran haji harus lebih kokoh dalam perilaku. Dan untuk berbuat baik, kita tidak perlu menunggu pintar, tidak perlu menunggu kaya, tidak perlu menunggu memiliki jabatan.
Hari ini pun kita bisa berbuat baik. Sebab setiap orang memiliki jalan untuk menjadi manusia yang bermanfaat (*).
Editor : Ali Mustofa