BLORA – Hasil pemeriksaan laboratorium terkait kejadian yang diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Tunjungan, Blora, menunjukkan adanya temuan bakteri pada sejumlah sampel.
Pemeriksaan tersebut dilakukan terhadap makanan yang diproduksi SPPG Sukorejo 2 Tunjungan serta sumber air yang digunakan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Blora mengungkapkan, pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air sumur.
Selain itu, bakteri Bacillus cereus juga terdeteksi dalam dua sampel makanan yang diperiksa.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Nur Betsia Bertawati, menjelaskan bahwa pemeriksaan diawali dengan kegiatan surveilans di lokasi SPPG bersama sejumlah tim terkait.
Selanjutnya, sampel diperiksa di dua laboratorium, yakni Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Blora dan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Dari pemeriksaan di Labkesda Blora, air sumur diketahui mengandung bakteri E. coli dengan jumlah yang melampaui ambang batas yang diperbolehkan.
Sementara itu, sampel air minum yang turut diperiksa dinyatakan normal dan tidak ditemukan bakteri E. coli.
Pemeriksaan terhadap sampel makanan dilakukan di Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Hasilnya, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada dua menu, yakni kuah sop dan ayam woku kemangi.
Menurut Dinkes, keberadaan bakteri tersebut dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan berupa keracunan makanan.
Gejalanya juga disebut memiliki kemiripan dengan keluhan yang dialami sejumlah siswa SMAN 1 Tunjungan, seperti mual, muntah, dan diare.
“Bakteri itu, bisa menyebabkan keracunan. Dengan gejala yang hampir sama dengan yang dialami anak-anak (murid SMAN 1 Tunjungan, Red). Seperti muntah, diare, dan mual,” ujarnya.
Meski demikian, tidak seluruh sampel makanan menunjukkan hasil yang sama.
Beberapa makanan lainnya dinyatakan normal. Sampel tersebut terdiri atas nasi putih, tempe, apel, rebusan brokoli, dan jagung manis.
Dinkes Kabupaten Blora menyebut kontaminasi bakteri pada makanan dapat dipengaruhi berbagai tahapan dalam pengelolaan makanan.
Faktor tersebut antara lain proses pengelolaan yang kurang optimal, penyimpanan bahan makanan yang tidak sesuai standar, proses memasak, hingga tahapan pendistribusian makanan.
Berdasarkan pendataan yang dilakukan, terdapat 334 kasus yang tercatat dalam kejadian tersebut.
Dari jumlah itu, 198 orang menjalani rawat jalan, sedangkan 10 orang mendapatkan perawatan inap. Sementara itu, 126 orang mengalami gejala tetapi tidak memeriksakan diri.
Kasus yang dilaporkan juga tidak hanya berasal dari satu sekolah.
Sejumlah satuan pendidikan turut melaporkan adanya kejadian serupa, antara lain SMAN 1 Tunjungan, SDIT Permata Mulia, dan SMP Permata Banjari.
Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut selanjutnya telah disampaikan kepada Satgas Kabupaten bersama SPPG.
Temuan itu menjadi salah satu bahan untuk menentukan langkah tindak lanjut terkait pengelolaan dan keamanan makanan program MBG.
“Hasil pemeriksaan labo rato rium itu, selanjutnya telah disampaikan kepada Satgas Kabupaten bersama SPPG untuk menjadi bahan tindak lanjut,” imbuhnya. (ari)
Editor : Ali Mustofa