Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Mantan Pustakawan Perpusda Blora
Program Duta Baca Desa Kabupaten Blora 2026 patut diapresiasi. Dengan mengusung semangat “Berkarya Menggerakkan Desa, Bersama Memajukan Blora”, program ini menawarkan gagasan yang cukup strategis: menghadirkan anak muda sebagai penggerak budaya literasi sampai ke tingkat desa dan kelurahan.
Setiap Bunda Literasi Desa/Kelurahan diarahkan memilih satu Duta Baca. Dengan cakupan sekitar 295 desa/kelurahan, program ini memiliki potensi membangun jejaring literasi yang sangat besar.
Duta Baca bukan sekadar anak yang pandai membaca atau mampu berbicara di depan umum. Tetapi lebih dari itu, ia harus menjadi role model dan penggerak perubahan di lingkungan sekitarnya.
Kalau satu desa memiliki satu Duta Baca, maka idealnya duta tersebut mampu mengajak anak-anak lainnya untuk membaca, berdiskusi, menulis, membuat karya, menggunakan teknologi secara positif dan mengenali berbagai persoalan di lingkungannya.
Dengan demikian, ukuran keberhasilannya adalah lahirnya anak yang tergerak karena adanya Duta Baca. Mengapa demikian? Karena Duta Baca adalah input. Kegiatan literasi adalah proses.
Sedangkan perubahan perilaku dan peningkatan kualitas SDM adalah outcome.
Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat buku. Paradigma perpustakaan juga sudah berubah.
Perpusnas menegaskan bahwa Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) menempatkan perpustakaan sebagai ruang membaca, ruang aktivitas literasi, ruang pengembangan keterampilan hidup, sekaligus ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran kontekstual.
Bahkan Perpusnas mencatat dampak yang cukup menarik: 85,5 persen responden melaporkan peningkatan prestasi akademik, 91 persen peningkatan keterampilan, dan 70,2 persen memperoleh peluang kerja setelah mengikuti praktik-praktik baik dalam program tersebut.
Artinya, literasi sebenarnya bisa menjadi instrumen pembangunan manusia dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu Duta Baca Desa Blora diarahkan pada gerakan: “Ayo membaca, memahami, berkarya dan memberi manfaat.”
Menurut saya, kegiatan ini sangat inovatif. Ini akan lebih baik lagi apabila Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menyusun indikator keberhasilan yang terukur seperti Duta Baca aktif, kegiatan rutin di desa, pengguna perpustakaan desa, peminjaman buku, karya anak desa, komunitas literasi, kolaborasi (dengan sekolah, pemerintah desa), pemanfaatan teknologi, terakhir ada perubahan perilaku.
Tentu saja untuk melahirkan Duta Baca Desa sesuai standar kita, ada tantangannya antara lain risiko seremonial, kesenjangan antar-desa, persaingan dengan budaya digital.
Anak-anak sekarang hidup di tengah YouTube, TikTok, Instagram, gim dan berbagai platform digital. Kalau literasi hanya dikemas sebagai kewajiban membaca buku, tentu akan menghadapi tantangan besar.
Maka Duta Baca harus mampu masuk ke dunia mereka. Buat konten, buat podcast, buat video, buat klub baca, dan buat kelompok diskusi. Jadikan teknologi sebagai kendaraan literasi, bukan musuh.
Blora mempunyai peluang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar program Duta Baca. Jika satu Duta Baca mampu menggerakkan minimal 20 anak di desanya, maka secara teoritis terdapat potensi menjangkau sekitar 5.900 anak secara langsung.
Dan itu baru efek lapis pertama. Anak membawa kebiasaan ke rumah. Kemudian keluarga terlibat. Sekolah terlibat. Pemerintah desa terlibat. Komunitas ikut bergerak. Maka terciptalah ekosistem literasi desa.
Inilah yang seharusnya menjadi tujuan akhirnya.
Saya melihat program ini dapat dikembangkan menjadi salah satu instrumen pembangunan SDM Blora.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan tidak harus berjalan sendirian. Dinas Pendidikan, Dinas PMD, Diskominfo, Bapperida, pemerintah desa, sekolah, perguruan tinggi, komunitas dan dunia usaha dapat dilibatkan.
Duta Baca menjadi simpul kecil yang menghubungkan berbagai potensi tersebut.
Perpusnas sendiri pada 2026 terus mendorong perpustakaan sebagai ruang pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat serta memperkuat model pembelajaran sebaya.
Ini sangat cocok dengan karakter Duta Baca. Anak belajar dari anak. Remaja mengajak remaja.
Mereka tidak merasa sedang digurui.
Mereka merasa sedang berkegiatan bersama. Dari Duta Baca menjadi “Desa Literasi”.
Saya kira Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora perlu menyiapkan program lanjutan, berupa Gerakan Desa Literasi Blora.
Setiap Duta Baca diberi kesempatan membuat satu proyek literasi desa selama satu tahun seperti gerakan 15 menit membaca, podcast anak desa, Satu Bulan Satu Buku, Menulis Sejarah Desa, Literasi Digital Anti-Hoaks, Kampung Dongeng, Literasi UMKM, dan Perpustakaan Keliling Remaja.
Pada akhir tahun, DPK memberikan penghargaan kepada Duta Baca Terbaik, dan kepada Desa dengan Gerakan Literasi Terbaik.
Dengan demikian kepala desa, Bunda Literasi, sekolah, pemuda dan masyarakat akan memiliki kepentingan yang sama: menghidupkan literasi.
Sebagai mantan pustakawan, saya melihat program Duta Baca Desa Kabupaten Blora 2026 sebagai sebuah peluang yang sangat baik untuk menghidupkan kembali gerakan literasi dari desa.
Duta Baca bukan tujuan. Duta Baca adalah alat untuk menggerakkan. Perpustakaan bukan tujuan akhir. Perpustakaan adalah pintu menuju pengetahuan.
Dan membaca bukan tujuan terakhir.
Membaca harus berujung pada berpikir, berpikir berujung pada berkarya, dan berkarya harus memberi manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, “Duta Baca bukan sekadar gemar membaca, tetapi berani berkarya dan menggerakkan desa.”
Jika 295 desa/kelurahan mampu melahirkan satu penggerak literasi yang benar-benar bekerja, Blora bukan hanya sedang memilih Duta Baca 2026. Blora sedang menanam benih pemimpin masa depan.
Dan benih itu, sebagaimana pembangunan SDM, harus dirawat dipupuk, disiram, bukan hanya dipilih dan kemudian ditinggalkan (*).
Editor : Ali Mustofa