BLORA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah sekitar tiga bulan tidak lagi diterima siswa SMP Negeri 1 Blora.
Kondisi tersebut terjadi setelah sebelumnya sekolah itu pernah mengalami kejadian keracunan massal yang diduga berkaitan dengan makanan dari program MBG.
Peristiwa tersebut terjadi pada 25 November 2025. Saat itu, sekitar 204 siswa SMPN 1 Blora mengalami sejumlah keluhan seperti mual, pusing, hingga diare setelah menyantap makanan MBG.
Sebagian siswa harus mendapatkan penanganan di rumah sakit, sedangkan beberapa lainnya memilih tidak masuk sekolah karena kondisi kesehatan mereka.
Setelah kejadian tersebut, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangjati 1 sempat dihentikan sementara.
Pihak sekolah bersama para siswa dan guru yang masih merasa khawatir dengan kejadian serupa kemudian meminta agar penyedia MBG untuk sekolah tersebut diganti.
Kepala SMPN 1 Blora Ainur Rofiq mengatakan, permintaan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pergantian SPPG.
Penyaluran MBG sempat dilanjutkan melalui SPPG Alugoro 410, sebelum kemudian kembali berpindah ke SPPG Karangjati 3.
“MBG sempat jalan lagi dari Alugoro 410. Lalu pindah lagi ke SPPG Karangjati 3,” kata Rofiq.
Namun, penyaluran makanan bergizi gratis melalui SPPG tersebut tidak berlangsung hingga sekarang.
Menurut Rofiq, pemberian MBG terakhir diterima siswa sekitar pertengahan Juni.
“Seingat saya sejak 15 Juni nggak ada lagi sampai sekarang,” ujarnya.
Jika dihitung hingga September, kondisi tersebut membuat siswa SMPN 1 Blora sudah lebih dari tiga bulan tidak memperoleh menu MBG.
Rofiq menyebut terhentinya program MBG di sekolah tentu memiliki sisi positif dan negatif.
Dari sisi negatif, siswa SMPN 1 Blora tidak memperoleh program pemerintah tersebut sebagaimana siswa di sekolah lain yang masih menerima MBG.
Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga membuat pihak sekolah merasa lebih tenang setelah pengalaman keracunan yang pernah terjadi.
“Positifnya, tidak khawatir ada keracunan lagi,” ungkapnya.
Bagi pihak sekolah, persoalan keamanan dan kenyamanan siswa menjadi perhatian setelah kejadian pada November 2025.
Karena itu, penghentian sementara pemberian MBG dinilai memiliki sisi lain yang membuat sekolah tidak lagi dihantui kekhawatiran kejadian serupa terulang.
Wakil Bupati Blora Sri Setyorini juga membenarkan bahwa hingga saat ini siswa SMPN 1 Blora belum kembali mendapatkan MBG.
Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi di SMA Negeri 1 Tunjungan, yang pemberian MBG-nya turut dihentikan setelah sebelumnya terjadi kasus keracunan.
“SMPN 1 Blora sampai sekarang tidak mendapatkan MBG. Seperti SMA Negeri 1 Tunjungan yang juga diberhentikan MBG-nya akibat keracunan,” jelas Sri Setyorini.
Ia menambahkan, sejauh ini kondisi sekolah tetap berjalan seperti biasa meskipun siswa belum kembali memperoleh makanan dari program MBG.
“Aman-aman saja tidak menerima MBG,” imbuhnya.
Kondisi tersebut membuat keberlanjutan program MBG di sejumlah sekolah yang pernah mengalami kasus keracunan masih menjadi perhatian.
Terutama terkait keamanan makanan dan kesiapan penyedia layanan sebelum program kembali diberikan kepada para siswa. (tos)
Editor : Ali Mustofa