Ramai-ramai Warga Blora Keluhkan Desil, BPS Jateng Buka Suara

Arif Fakhrian Khalim • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 22:17 WIB
AUDIENSI : Bupati Blora Arief Rohman (kiri) dan Kepala BPS Jateng Ali Said (kanan) membahas tentang pertumbuhan ekonomi warga dan desil di Kabupaten Blora
AUDIENSI : Bupati Blora Arief Rohman (kiri) dan Kepala BPS Jateng Ali Said (kanan) membahas tentang pertumbuhan ekonomi warga dan desil di Kabupaten Blora

‎BLORA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mendatangi Kabupaten Blira terkait hasil pelaksanaan sensus ekonomi 2026. Audiensi bersama Bupati Blora Arief Rohman juga menyoroti persoalan data DESIL yang saat ini menjadi perhatian masyarakat.

‎Pertemuan BPS Jateng dan Pemkab Blora menjadi bagian dari agenda audiensi terkait hasil pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 sekaligus membahas perkembangan kondisi sosial dan ekonomi Kabupaten Blora. Ditambah, pemutakhiran data DESIL yang menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah.

‎Dalam kesempatan tersebut, Kepala BPS Jateng Ali Saidmenyampaikan perkembangan perekonomian Kabupaten Blora berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan II 2026. Perekonomian Kabupaten Blora pada Triwulan II 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif secara tahunan.

‎"PDRB Blora tumbuh sebesar 2,67 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), sedangkan pertumbuhan kumulatif Semester I 2026 mencapai 3,90 persen,"ujarnya.

‎Meski demikian, ia menambahkan secara triwulanan perekonomian Blora mengalami kontraksi sebesar 3,97 persen (quarter-to-quarter/q-to-q). Kondisi tersebut menunjukkan adanya perlambatan aktivitas ekonomi dalam jangka pendek yang perlu menjadi perhatian bersama.

‎"Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian Blora dengan kontribusi sebesar 67,26 persen. Komponen ini tumbuh 4,93 persen dibandingkan Triwulan II 2025"jelasnya.

‎Selain itu, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan sebesar 20,61 persen, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh sebesar 9,29 persen. Pertumbuhan sejumlah komponen tersebut menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, dan investasi masih memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi daerah.

‎Sementara dari sisi lapangan usaha, struktur ekonomi Kabupaten Blora masih didominasi sektor pertanian, pertambangan, perdagangan, dan industri pengolahan. Keempat sektor tersebut secara bersama-sama memberikan kontribusi sekitar 69,37 persen terhadap PDRB Kabupaten Blora.

‎"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Blora masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap sektor berbasis sumber daya alam, produksi primer, perdagangan, dan industri pengolahan,"tuturnya.

‎Karena itu, pihaknya mengaku bahwa tantangan ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif, tetapi juga meningkatkan kualitas pertumbuhan agar lebih tinggi, stabil, dan berkelanjutan.

‎"Penguatan produktivitas pertanian, peningkatan nilai tambah dan hilirisasi komoditas, pengembangan industri pengolahan, penguatan sektor perdagangan, serta peningkatan investasi menjadi sejumlah langkah strategis yang perlu terus didorong,ujarnya.

‎Selain membahas perkembangan ekonomi, audiensi juga menyoroti persoalan data DESIL yang saat ini menjadi perhatian masyarakat.

‎Bupati Blora Arief Rohman mengatakan, pemerintah daerah menyambut baik kunjungan BPS Jawa Tengah dan BPS Kabupaten Blora untuk berdiskusi mengenai berbagai perkembangan data dan kondisi masyarakat di Kabupaten Blora.

‎“Alhamdulillah pagi hari ini kita kedatangan Kepala BPS Jawa Tengah dan BPS Blora. Kita tadi berdiskusi berbagai hal, khususnya sekarang yang menjadi perhatian publik ini terkait dengan DESIL,” ujar Bupati.

‎Ali Said menjelaskan, data DESIL yang menjadi rujukan saat ini masih menggunakan kondisi tahun 2022. Sementara itu, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pada 2026 telah mengalami berbagai perubahan.

‎Menurutnya, perubahan kondisi tersebut perlu diikuti dengan pemutakhiran data secara menyeluruh agar informasi yang digunakan dalam berbagai kebijakan benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat terkini.

‎“DESIL yang saat ini rujukannya masih kondisi tahun 2022 dan sekarang sudah 2026 banyak perubahan kondisi di masyarakat yang tentu itu mempengaruhi informasi pada data itu sendiri, sehingga perlu pemutakhiran data secara menyeluruh,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, pemutakhiran data membutuhkan kerja sama dan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah kabupaten, pemerintah desa hingga masyarakat.

‎Hal tersebut karena perubahan status DESIL tidak hanya berkaitan dengan perubahan kondisi individu atau satu keluarga, tetapi juga mempertimbangkan kondisi seluruh anggota keluarga.

‎“Kita membutuhkan kerja sama dan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, Pemkab, desa dan masyarakat, karena perubahan pada DESIL ini tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan individu atau personal pada keluarga itu sendiri, tetapi seluruh anggota keluarga,” katanya.

‎Menanggapi hal tersebut, Bupati Arief menegaskan bahwa BPS terbuka terhadap masukan masyarakat terkait status DESIL yang dinilai belum sesuai dengan kondisi terkini.

‎Masyarakat yang merasa terdapat ketidaksesuaian data dapat menyampaikan informasi melalui Dinas Sosial maupun langsung kepada BPS Kabupaten Blora untuk selanjutnya dilakukan pemutakhiran sesuai mekanisme yang berlaku.

‎“BPS sangat menerima masukan atas status DESIL yang ada. Bisa dilaporkan melalui Dinsos atau langsung ke BPS Blora. Perubahan data sesuai kondisi terbaru itulah yang nantinya bisa mengubah status atau urutan DESIL,” terang Bupati.

‎Bupati berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Blora dan BPS dapat terus diperkuat, terutama dalam menghadirkan data yang akurat dan mutakhir sebagai dasar perencanaan pembangunan.

‎“Terima kasih atas penjelasannya. Semoga kita bisa terus bersinergi dalam rangka perkembangan pertumbuhan ekonomi di Blora, angka kemiskinan turun,” ujarnya. (ari) 

Editor : Mahendra Aditya
Desil blora