BLORA – Sebanyak 136 siswa dan seorang guru SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan bergizi gratis (MBG) pada Selasa (8/9).
Para siswa mengeluhkan sejumlah gejala seperti sakit perut, diare, pusing hingga tubuh terasa lemas.
Keluhan tersebut mulai dirasakan setelah para siswa menyantap menu MBG yang dibagikan pada Senin (7/9). Makanan tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2.
Salah seorang siswa, Rafa Eka Bagos, menceritakan bahwa kondisi tubuhnya mulai tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan tersebut. Ia merasakan perut mulas disertai pusing dan mengalami diare hingga harus buang air besar beberapa kali.
“Mulai malam sekitar jam 2 dini hari dan jam 3. Kalau pagi sebelum berangkat sekolah dan ketika sudah di sekolah juga sempat ke toilet,” ungkap Rafa.
Ia mengatakan menu MBG yang diterimanya terdiri atas nasi, ayam, tempe, sayuran, serta buah apel.
Dugaan keracunan massal tersebut kemudian mendapat perhatian dari Ketua Satgas SPPG Blora, Sri Setyorini.
Ia datang langsung ke SMAN 1 Tunjungan untuk melihat kondisi para siswa sekaligus mendengarkan keluhan yang mereka alami.
Menurut Setyorini, ratusan siswa menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, beberapa siswa bahkan harus mendapatkan penanganan lebih lanjut di klinik.
“Jumlah pasti yang diperiksa ada sebanyak 133 siswa, dirujuk ke klinik ada enam siswa, tiga masih dirawat dan tiga sudah pulang,” ujarnya.
Setyorini mengungkapkan, SPPG Sukorejo 2 sebenarnya telah mendapatkan peringatan sebelumnya.
Bahkan, insiden yang terjadi di SMAN 1 Tunjungan disebut menjadi kejadian ketiga yang berkaitan dengan SPPG tersebut.
SPPG Sukorejo 2 diketahui mendistribusikan makanan MBG ke sejumlah lembaga pendidikan, yakni SMAN 1 Tunjungan, Pondok Pesantren Al Banjari, dan SD Islam Terpadu (IT).
Dengan adanya kejadian tersebut, Satgas SPPG Blora menyatakan akan mengusulkan agar operasional SPPG tersebut dihentikan secara permanen.
“Kami mau tidak mau harus mengusulkan untuk tutup,” jelas Setyorini.
Menurut Setyorini, pihaknya telah memberikan peringatan kepada SPPG Sukorejo 2 sebanyak tiga kali.
Kendati demikian, keputusan akhir mengenai penutupan permanen berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN).
Ia menyebut menu MBG yang dikonsumsi siswa SMAN 1 Tunjungan antara lain ayam, tempe goreng, dan brokoli.
Persoalan kualitas makanan juga menjadi perhatian karena adanya laporan lain dari lokasi penerima MBG.
Setyorini mengatakan pihaknya memperoleh informasi mengenai temuan belatung pada lauk ayam yang dibagikan di SD Al Banjari.
“Bahkan kami menerima laporan bahwa di SD Al Banjari tadi itu di ayam ada belatung lagi. Artinya kebersihan dapur tersebut masih kurang,” ungkapnya.
Setyorini menjelaskan, keluhan kesehatan mulai muncul setelah siswa membawa dan mengonsumsi makanan MBG pada Senin (7/9).
Sesampainya di rumah, sejumlah siswa mulai mengalami mual dan perut mulas.
Ketika masuk sekolah pada hari berikutnya, ternyata banyak siswa mengeluhkan gejala yang hampir sama.
Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap siswa yang mengalami gangguan kesehatan.
Pendataan tersebut dilakukan sekitar pukul 10.00. Dari proses tersebut diketahui cukup banyak siswa yang mengeluhkan kondisi serupa.
Melihat rangkaian kejadian tersebut, Satgas SPPG Blora menyiapkan sejumlah langkah terhadap SPPG Sukorejo 2.
Setyorini mengatakan pihak SPPG diminta mengembalikan dana kepada BGN sesuai jumlah penerima manfaat dikalikan dengan nilai biaya makanan.
Bukti pengembalian dana tersebut juga diminta untuk disampaikan sebagai bentuk pertanggungjawaban.
“Usulan saya ke SPPG Sukorejo, pertama hari ini dia harus mengembalikan dana ke BGN dengan total jumlah penerima manfaat dikali harga. Harus dikembalikan dan saya minta bukti transfer,” tuturnya.
Selain pengembalian dana, Satgas juga mengusulkan agar SPPG Sukorejo 2 dihentikan secara permanen.
Usulan tersebut disampaikan setelah SPPG dinilai telah menerima tiga kali peringatan dan kembali muncul kejadian yang diduga berkaitan dengan makanan MBG.
“Yang kedua saya usul ditutup permanen karena peringatan tiga kali dan ada kejadian luar biasa,” pungkasnya. (ari)
Editor : Ali Mustofa