BLORA - Pemerintah Kabupaten Blora mengapresiasi peran Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia atau HIMPAUDI yang telah 21 tahun berkontribusi dalam dunia pendidikan anak usia dini.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Blora, saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-21 kepada keluarga besar HIMPAUDI. Semoga HIMPAUDI semakin jaya, profesional dan semakin kuat dalam berperan membangun generasi emas Indonesia," ujar Bupati Blora Arief Rohman.
Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru, tutor dan pendidik PAUD di Kabupaten Blora.
"Pengabdian panjenengan semua merupakan investasi besar bagi masa depan bangsa,"ungkapnya.
Pemkab Blora menyatakan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini. Dukungan diwujudkan melalui program peningkatan kualitas layanan, fasilitas, dan kompetensi pendidik.
Dalam peringatan HUT ke-21 ini, HIMPAUDI Kabupaten Blora menggelar sejumlah kegiatan. Rangkaian acara meliputi lomba membuat buku cerita bergambar dan menggambar yang nantinya dibukukan untuk anak-anak, jalan sehat, serta santunan dari BAZNAS.
"Pendidikan anak tidak bisa hanya dilakukan oleh sekolah atau guru saja, tetapi membutuhkan sinergi yang kuat antara pendidik, orang tua, dan lingkungan masyarakat," jelasnya.
Arief Rohman juga mengajak orang tua untuk terus memberikan perhatian dan pendampingan kepada anak. Pemkab berharap HIMPAUDI Kabupaten Blora terus menjadi organisasi yang solid dan mampu memperjuangkan kepentingan para pendidik PAUD sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini.
Ketua Himpunan guru Pendidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kabupaten Blora Martini juga menyampaikan harapan agar profesi pendidik PAUD segera mendapat pengakuan sebagai tenaga pendidik. Hingga 21 tahun ini, pendidik PAUD non formal belum disebut guru. Saat ini mereka baru menerima kesra sebesar Rp300 ribu dari pemerintah kabupaten. Ia juga mendorong agar profesi pendidik PAUD segera mendapat pengakuan sebagai tenaga pendidik.
"Selama 21 tahun ini kami belum disebut guru karena masih non formal. Saat ini kami hanya mendapatkan kesra sebesar Rp300 ribu dari kabupaten," ujarnya. (ari)