Sedekah Bumi Merawat Tradisi  Perkokoh Jati Diri

Ali Mustofa • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 10:29 WIB
A. Mahbub Djunaidi
A. Mahbub Djunaidi

 
Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Penulis buku “Membaca Zaman Menulis Makna”

Di tengah berbagai kegiatan yang lazim mengiringi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat Blora diajak kembali menengok sesuatu yang jauh lebih tua daripada usia republik: tradisi Sedekah Bumi.

Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman dan Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini mengajak kepada masyarakat agar tradisi tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai ritual kampung, tetapi mulai diberi ruang sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

Bahkan Sedekah Bumi Blora dan Ngalungi Sapi telah masuk dalam Calendar of Events Jawa Tengah 2026.  Sedekah Bumi bukan sekadar selamatan, makan bersama, atau keramaian tahunan.

Di balik nasi berkat, hasil bumi, kesenian dan berbagai ritual yang menyertainya terdapat pesan sederhana tetapi mendalam: manusia tidak hidup sendirian.

Ada tanah yang memberi kehidupan. Ada air yang menyuburkan. Ada petani yang menanam. Ada peternak yang memelihara. Ada tetangga yang membantu. Ada masyarakat yang bergotong royong.

Dan di atas semua itu ada Tuhan yang diyakini sebagai sumber kehidupan dan rezeki. 

Karena itu, Sedekah Bumi sesungguhnya merupakan cara masyarakat mengucapkan kalimat yang sangat sederhana: terima kasih.

Dalam kehidupan modern yang sering diukur dengan angka pertumbuhan ekonomi, investasi, pendapatan dan produktivitas, pesan seperti ini justru semakin penting.

Kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan untuk bersyukur.  Ada nilai lain yang tidak kalah penting: gotong royong.

Sedekah Bumi mempertemukan masyarakat dalam satu ruang sosial. Orang kaya dan sederhana, petani dan pedagang, orang tua dan anak muda, duduk dalam suasana kebersamaan.

Makanan yang dibawa bukan sekadar makanan. Ia menjadi simbol berbagi. Dalam konteks inilah Sedekah Bumi memiliki relevansi dengan kemerdekaan.

Republik ini lahir dari kemampuan anak bangsa untuk menyatukan perbedaan dan bekerja bersama.

Maka memperingati kemerdekaan melalui Sedekah Bumi sesungguhnya bukan sesuatu yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya bertemu pada satu nilai: kebersamaan. 

Pada Sedekah Bumi Blora 2025, tradisi Ngalungi Sapi  tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual. Melestarikan budaya tidak cukup dengan mengatakan, "Ini tradisi leluhur kita."  

Pada Maret 2026 tradisi Manganan Janjang di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Pada saat yang sama, Desa Janjang juga ditetapkan sebagai Desa Budaya Kabupaten Blora.

Artinya, budaya lokal mulai mendapatkan pengakuan sekaligus peluang baru. Namun di sinilah pekerjaan rumah Blora sebenarnya dimulai. Jangan sampai Sedekah Bumi hanya menjadi acara meriah setahun sekali. 

Budaya harus hidup setiap hari. Anak-anak sekolah perlu mengenalnya. Generasi muda perlu diberi kesempatan mempelajarinya. Dokumentasi harus dilakukan secara serius.

Sejarahnya perlu ditulis. Tokoh-tokoh pelestarinya perlu dihargai. Kesenian yang mengiringinya harus mendapatkan ruang. Dan yang tidak kalah penting, tradisi tersebut harus mampu memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya. 

Selama ini kadang muncul anggapan bahwa budaya adalah urusan masa lalu, sedangkan ekonomi adalah urusan masa depan. Padahal keduanya bisa berjalan beriringan.

Ketika sebuah tradisi menarik pengunjung, maka pedagang mendapatkan kesempatan. Ketika makanan tradisional dipromosikan, UMKM mendapatkan pasar.

Ketika kesenian lokal dipentaskan, seniman memperoleh ruang. Ketika kerajinan lokal digunakan dalam sebuah acara, perajin memperoleh manfaat.

Tetapi ingat: jangan sampai budaya hanya dijadikan komoditas.
Nilai spiritual, sejarah, filosofi dan keterlibatan masyarakat harus tetap menjadi jantungnya. Kalau tidak, kita hanya akan mendapatkan keramaian tanpa mendapatkan kebudayaan.

Karena itu, Sedekah Bumi Blora 2026 semestinya tidak berhenti sebagai seremoni memperingati kemerdekaan.

Ia bisa menjadi momentum untuk bertanya lebih jauh: Blora seperti apa yang hendak kita bangun? Blora  modern, tetapi tidak kehilangan akar. Blora  maju, tetapi tetap guyub.

Blora  mampu menerima investasi, teknologi dan perubahan zaman, tetapi tidak malu menunjukkan identitas budayanya.

Blora mampu menjadikan tradisi sebagai sumber inspirasi ekonomi kreatif tanpa menjual habis nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Itulah tantangan sesungguhnya.

Kemerdekaan yang kita rayakan setiap Agustus bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti kemampuan untuk menentukan masa depan dengan tetap mengenali siapa diri kita.

Dan Sedekah Bumi mengingatkan kita bahwa sebelum berbicara tentang masa depan, ada baiknya kita sesekali menengok tanah tempat kita berpijak.

Sebab dari tanahlah makanan tumbuh, kehidupan berlangsung, dan kebudayaan lahir. Dan dari kebudayaanlah masyarakat mengenali jati dirinya.

Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi masa lalu. Ia adalah cara masyarakat Blora merawat ingatan agar tidak kehilangan arah ketika melangkah menuju masa depan.

Barangkali inilah makna kemerdekaan yang sering kita lupakan: maju tanpa tercerabut dari akar, berubah tanpa kehilangan jati diri, dan membangun tanpa melupakan kebersamaan (*).

Editor : Ali Mustofa
mahbub djunaedi merawat tradisi identitas budaya daerah sedekah bumi blora