BLORA - Tersisa 13 hari, progres pembangunan Pasar Ngawen Blora capai 82 persen. Bupati Blora Arief Rohman mengecek secara langsung pembangunan tersebut bersama jajaran dari Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora. Turut hadir Kepala Dindagkop UKM Kiswoyo dan Kepala Bidang Pasar Fiqri Hidayat.
Pembangunan Pasar Ngawen itu merupakan proyek yang didanai dan dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Pengecekan ke lapangan dilakukan untuk memastikan proyek fisik berlangsung dengan baik.
Dalam inspeksi tersebut Bupati Blora Arief Rohman mengingatkan pihak Kementerian PU maupun kontraktor pelaksana agar memaksimalkan sisa waktu yang ada. Sesuai target, proyek infrastruktur penunjang ekonomi masyarakat ini harus rampung pada 13 Agustus mendatang.
"Kami ke sini dalam rangka monitoring progres pembangunan Pasar Ngawen. Menurut laporan, ini sudah 82,72 persen. Kita berharap teman-teman dari PU maupun kontraktor pelaksana bisa merampungkannya, mengingat waktunya tinggal 13 hari lagi," ujar Arief di sela-sela peninjauan.
Berdasarkan informasi yang diterima dari pihak Kementerian PU, Arief mengungkapkan bahwa memang sempat terjadi penyesuaian waktu (adendum) kontrak pelaksanaan. Oleh karena itu, ia mewanti-wanti agar penyelesaian proyek ini bisa benar-benar tepat waktu sebelum tanggal 17 Agustus tanpa harus terkena denda keterlambatan.
"Kita berharap ini tidak molor biar tidak ada denda dan bisa tepat waktu. Kita inginnya 17 Agustus nanti salah satunya bisa kita rayakan di sini (Pasar Ngawen)," terangnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan Pasar Ngawen Fahrizal Patriaman menjelaskan perubahan adendum terjadi karena beberapa hal. Di antaranya terdapat tiang listrik di areal pasar.
"Ada tiang listrik menghalangi posisi bangunan. Sehingga kontraktor gak bisa kerja. Kemarin baru bisa diaction," tuturnya.
Selain itu pihaknya juga terkendala soal bahan bangunan. Terdampak konflik global.
"Secara umum terdampak. Material naik. Ada pengaruh dikit di sana," imbuhnya.
Sebab meski bahan material dari dalam negeri semua, tetapi ada komponen bahan baku dari luar. Sehingga produksi di pabrik terhambat.
Untuk mengejar target penyelesaian, pihaknya melakukan penambahan jam kerja alias lembur. Serta ada penambahan tenaga kerja.
"Kita monitor tiap hari, pekerjaan bagaimana, lemburannya sampai mana, sudah sesuai atau belum. Kita monitor, rapat, evaluasi setiap pekerjaan," terangnya.
Ia pun berharap dengan skema-skema itu bisa mempercepat pengerjaan. Sehingga target tercapai.
"Setiap hari kita ada sekitar 100 orang pekerja. Ya naik turun. Untuk tenaga kerja lokal terbatas di penjaga keamanan. Karena yang banyak dibutuhkan tenaga spesialis dari pusat," tambahnya. (tos)
Editor : Eko Santoso