Silaturahim: Perjalanan yang Menghubungkan Hati

Redaksi Radar Kudus • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 11:01 WIB
A. Mahbub Djunaidi
A. Mahbub Djunaidi

Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Penulis Buku Membaca Zaman Menulis Makna

Ada yang terkesan saat memberikan materi Silaturahmi dan Bepergiaan di hadapan pejabat dan staf Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Blora.

Kepala DPUPR Bapak Nidzamudin Al Huda, ST mempelopori pengajian rutin dan  pembinaan kepada staf termasuk staf yang ada di 16 Cabang hadir untuk mengikuti  pembinaan.

Selain pembacaan Sholawat Nariah dan Asmaul Husna, ada staf yang ditugasi untuk membaca Al-Qur'an, perlu saya share kepada pembaca Jawa Pos Radar Kudus sebagai pembelajaran kita bersama. 

Hidup di zaman ketika perjalanan semakin mudah, tetapi kedekatan antarmanusia justru sering terasa semakin jauh.

Jalan raya diperlebar, jembatan dibangun, kendaraan semakin cepat, dan teknologi komunikasi mampu mempertemukan orang hanya dalam hitungan detik.

Namun, kemudahan itu tidak selalu diikuti dengan semakin eratnya hubungan antarsesama.

Fenomena ini mengingatkan bahwa hakikat perjalanan bukan semata berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam pandangan Islam, perjalanan memiliki dimensi yang lebih dalam, yaitu menghubungkan hati manusia. Inilah makna silaturahim yang sesungguhnya.

Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk menjaga hubungan persaudaraan (QS. An-Nisa: 1).

Rasulullah SAW bahkan menjanjikan keberkahan rezeki dan umur bagi mereka yang memelihara silaturahim. 

Pesan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia bukan sekadar urusan sosial, melainkan bagian dari ibadah.

Silaturahim menjadi sebuah perjalanan batin. Seseorang mungkin hanya menempuh beberapa kilometer untuk mengunjungi orang tua, saudara, guru, atau sahabat.

Namun yang sesungguhnya ditempuh adalah jarak emosional yang selama ini memisahkan hati. Kunjungan kepada orang sakit membawa empati, takziah menghadirkan penghiburan, sedangkan memenuhi undangan kerabat menumbuhkan rasa memiliki.

Setiap langkah menuju sesama sejatinya adalah langkah memperkuat ukhuwah.

Ironisnya, di era digital kita justru sering terjebak pada komunikasi tanpa kehadiran.

Pesan singkat, media sosial, dan panggilan video memang memudahkan interaksi, tetapi tidak selalu mampu menggantikan hangatnya tatap muka.

Banyak keluarga tinggal serumah, namun jarang berbincang. Banyak sahabat berada dalam satu kota, tetapi kehilangan waktu untuk saling mengunjungi.

Sebaliknya, ada saudara yang dipisahkan ratusan kilometer, tetapi tetap dekat karena saling mendoakan dan menjaga perhatian.

Pelajaran ini juga relevan dalam kehidupan birokrasi dan pelayanan publik.

Pembangunan infrastruktur memang penting, tetapi pembangunan hubungan antarmanusia tidak kalah penting. Jalan dan jembatan menghubungkan wilayah, sedangkan silaturahim menghubungkan hati.

Pelayanan publik yang baik tidak hanya lahir dari sistem yang rapi, melainkan juga dari empati, komunikasi, dan rasa saling menghargai.

Karena itu, setiap perjalanan dinas, kunjungan kerja, maupun aktivitas pelayanan hendaknya dipandang sebagai kesempatan memperkuat hubungan dengan masyarakat.

Kehadiran seorang aparatur bukan sekadar menjalankan prosedur administratif, tetapi juga menghadirkan rasa aman, kepedulian, dan kepercayaan.

Infrastruktur yang kokoh akan memperlancar mobilitas, sedangkan kepercayaan masyarakat akan memperkokoh pembangunan itu sendiri.

Pada akhirnya, seluruh perjalanan manusia bermuara pada satu tujuan, yaitu kembali kepada Allah SWT.

Maka, ukuran sebuah perjalanan bukanlah seberapa jauh langkah ditempuh, melainkan seberapa banyak manfaat yang ditinggalkan. 

Bukan berapa banyak tempat yang dikunjungi, tetapi berapa banyak hati yang disentuh.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, mungkin sudah saatnya kita tidak hanya menjadi pembangun jalan bagi kendaraan, tetapi juga pembangun jalan bagi persaudaraan.

Sebab, ketika silaturahim mampu menghubungkan hati, di sanalah sesungguhnya peradaban dibangun. Semoga ada manfaatnya untuk pembaca Jawa Pos Radar Kudus, khususnya kepada penulis. Amin (*).

Editor : Ali Mustofa
mahbub djunaidi silaturahim blora asmaul husna