Puluhan Perpustakaan di Blora Terancam Tak Terima Hibah Buku Perpusnas, Ini Penyebabnya

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:58 WIB
MENYERAP ILMU: Anak-anak SDN Balong, Kecamatan Jepon membaca dan meminjam buku di Perpustakaan Desa Balong saat jam istirahatat sekolah. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)
MENYERAP ILMU: Anak-anak SDN Balong, Kecamatan Jepon membaca dan meminjam buku di Perpustakaan Desa Balong saat jam istirahatat sekolah. (ARIF FAKHRIAN KHALIM/RADAR KUDUS)

BLORA – Sebanyak 30 lokasi perpustakaan desa, pojok baca masyarakat, hingga perpustakaan di tempat ibadah di Kabupaten Blora berpotensi tidak mendapatkan bantuan hibah buku dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2026.

Kondisi tersebut terjadi setelah anggaran Perpusnas mengalami pemangkasan cukup besar.

Dana yang sebelumnya mencapai Rp721 miliar pada 2025, kini turun menjadi sekitar Rp377,9 miliar.

Dampaknya, sejumlah program bantuan, termasuk distribusi buku dan dukungan pembangunan maupun renovasi fasilitas perpustakaan daerah, ikut terdampak.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora, Mohamad Toha Mustofa, menjelaskan bahwa salah satu program Perpusnas yang selama ini dinantikan masyarakat adalah pemberian hibah buku gratis bagi berbagai jenis perpustakaan.

Mulai dari perpustakaan desa, perpustakaan tempat ibadah, hingga perpustakaan di puskesmas.

Pada 2026, pihaknya telah mengusulkan sebanyak 30 titik perpustakaan agar mendapatkan bantuan hibah buku dari Perpusnas. Namun hingga kini, belum ada kepastian apakah program tersebut tetap berjalan.

“Pada 2024 kami pernah mengajukan 25 titik dan seluruhnya mendapat persetujuan untuk menerima hibah buku. Kemudian pada 2025 ada pengajuan 30 titik dan juga disetujui,” ujar Toha.

Sementara untuk tahun 2026, usulan kembali diajukan dengan jumlah yang sama, yakni 30 lokasi.

Namun, akibat adanya penyesuaian anggaran di tingkat pusat, program tersebut diperkirakan belum dapat direalisasikan.

“Untuk perpustakaan desa memang menjadi yang paling banyak mengajukan tambahan koleksi buku. Biasanya satu lokasi mendapat sekitar 1.000 buku yang dikirim antara Agustus hingga Desember,” jelasnya.

Toha mengatakan, pihaknya hingga kini masih menunggu informasi resmi dari Perpusnas terkait kelanjutan program tersebut.

Menurutnya, penghentian bantuan hibah buku akan cukup disayangkan karena kebutuhan tambahan koleksi bacaan di masyarakat masih tinggi.

“Pengajuan ke Perpusnas memiliki sejumlah syarat, seperti harus memiliki tempat, pengelola, komitmen dari pengurus, serta koleksi awal yang sudah tersedia, khusus untuk perpustakaan desa,” terangnya.

Tetap Dorong Budaya Literasi Lewat Sedekah Buku

Meski ada kemungkinan bantuan dari Perpusnas tidak turun, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora tetap berupaya menjaga perkembangan budaya membaca di masyarakat.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui program sedekah buku.

Program tersebut mengajak masyarakat untuk menyumbangkan buku secara sukarela agar dapat dimanfaatkan oleh taman baca maupun pojok baca di berbagai wilayah.

“Kami tetap berusaha mengembangkan perpustakaan desa dan tempat ibadah. Salah satunya melalui gerakan sedekah buku dari masyarakat,” ungkap Toha.

Ia menambahkan, kebutuhan buku bacaan masih cukup tinggi, terutama untuk anak-anak usia dini.

Beberapa taman kanak-kanak misalnya masih membutuhkan buku cerita dan dongeng sebagai pendukung proses pembelajaran.

“Inovasi ini sudah kami luncurkan pada 2 Mei lalu bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Harapannya masyarakat bisa ikut berkontribusi memperluas akses bacaan bagi anak-anak,” pungkasnya. (ari)

 

Editor : Ali Mustofa
bloran hibah buku koleksi buku perpustakaan blora Perpusnas