BLORA – Sebanyak 65 siswa SD Negeri Jetak, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, untuk sementara harus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di tiga rumah milik warga.
Langkah ini dilakukan selama proses revitalisasi gedung sekolah yang sedang berlangsung melalui program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tahun 2026.
Kepala SD Negeri Jetak, Ngatmin, menjelaskan bahwa pemindahan lokasi pembelajaran dilakukan demi menjaga keselamatan siswa.
Sebab, sebagian besar bangunan sekolah saat ini sedang dibongkar sebagai bagian dari proyek renovasi, sehingga area sekolah tidak memungkinkan digunakan untuk kegiatan belajar.
Tak hanya siswa SD, sebuah taman kanak-kanak (TK) yang berada di kompleks sekolah juga ikut dipindahkan sementara.
Selama pekerjaan berlangsung, aktivitas belajar anak-anak TK dialihkan ke balai desa yang berada tepat di samping lingkungan sekolah.
Menurut Ngatmin, penggunaan rumah warga sebagai ruang belajar merupakan hasil kesepakatan bersama masyarakat sekitar.
Tiga rumah yang dipilih dinilai memenuhi syarat sebagai tempat belajar sementara, sekaligus mendapat dukungan penuh dari para pemilik rumah.
"Selama revitalisasi berlangsung, kegiatan belajar mengajar kami laksanakan di tiga rumah warga. Ini menjadi solusi agar siswa tetap bisa belajar, tanpa menghentikan proses pembelajaran," terang Ngatmin, Kamis (23/07/2026).
Meski harus belajar di lokasi yang berbeda dari biasanya, seluruh siswa tetap mengikuti proses pembelajaran sesuai jadwal yang telah disusun pihak sekolah.
Dengan demikian, kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa harus dihentikan selama pembangunan berlangsung.
Ngatmin mengungkapkan, jumlah peserta didik SD Negeri Jetak pada tahun ajaran 2026/2027 mencapai 65 siswa.
Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berkisar antara 50 hingga 55 siswa.
Peningkatan jumlah murid dipengaruhi oleh bertambahnya siswa baru di kelas I, adanya tambahan siswa di kelas V, serta kedatangan beberapa murid pindahan dari Semarang dan Tangerang.
Kondisi tersebut menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
Pihak sekolah berharap proses revitalisasi dapat selesai sesuai target sehingga para siswa dapat kembali belajar di gedung sekolah yang lebih layak, aman, dan nyaman.
Sementara itu, penanggung jawab lapangan proyek revitalisasi, Suparman, menjelaskan bahwa pekerjaan mencakup sejumlah perbaikan fasilitas utama sekolah.
Program tersebut meliputi rehabilitasi enam ruang kelas dengan anggaran sekitar Rp742,9 juta, renovasi ruang administrasi senilai Rp123,9 juta, penataan lingkungan sekolah sebesar Rp150 juta, serta perbaikan kamar mandi dan toilet dengan anggaran sekitar Rp19,2 juta.
Ia mengatakan revitalisasi difokuskan untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana sekolah agar seluruh fasilitas menjadi lebih aman, nyaman, dan mendukung kegiatan belajar mengajar setelah proyek selesai.
"Revitalisasi ini difokuskan memperbaiki sarana prasarana dasar sekolah. Sehingga seluruh bangunan dipastikan aman dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar," ujarnya. (ari)
Top of Form
Bottom of Form
Editor : Ali Mustofa