BLORA – Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogowanti di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, untuk sementara dihentikan menyusul dugaan kasus keracunan yang dialami 19 siswa SD Negeri 1 Sendangrejo.
Penghentian layanan dilakukan sebagai langkah evaluasi sambil menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Blora, Artika Diannita, menjelaskan bahwa penghentian operasional berlaku sejak Selasa (21/7/2026), sehari setelah belasan siswa mengalami gangguan pencernaan yang diduga berkaitan dengan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Artika, dugaan awal mengarah pada susu UHT yang disajikan dalam menu MBG dan diduga sudah tidak layak konsumsi.
Meski demikian, penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Ia menyebutkan, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan dapur SPPG Bogowanti kembali beroperasi. Penghentian operasional baru akan dicabut setelah ada keputusan resmi dari pihak berwenang.
Saat ini, sampel makanan dan minuman yang disajikan kepada para siswa masih menjalani pengujian di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) tingkat kabupaten maupun provinsi.
Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab insiden tersebut.
Selain menunggu hasil uji laboratorium, pengelola SPPG juga diwajibkan melakukan pembenahan terhadap sistem pengelolaan dapur beserta fasilitas pendukungnya sebelum diizinkan kembali beroperasi.
Perbaikan yang harus dipenuhi antara lain peningkatan tata kelola dapur, pemenuhan standar infrastruktur, sertifikasi halal, uji kelayakan air, sertifikat bagi juru masak, hingga penggunaan peralatan yang memenuhi standar operasional SPPG.
Sementara itu, Kepala SDN 1 Sendangrejo, Yuliati, memastikan seluruh siswa yang sebelumnya mengalami keracunan kini telah pulih dan kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Ia mengungkapkan, seluruh 19 siswa sudah kembali masuk sekolah dan beraktivitas seperti biasa, termasuk mengikuti latihan gerak jalan.
“Hari ini (kemarin, Red) semua siswa (yang sebelumnya keracunan) sudah masuk sekolah. Sudah beraktivitas dengan ceria. Sudah latihan
gerak jalan juga,” ujarnya.
Menurutnya, para siswa tidak lagi mengeluhkan gangguan kesehatan.
Yuliati juga menyampaikan bahwa seluruh biaya perawatan siswa selama menjalani penanganan di puskesmas ditanggung oleh pihak SPPG.
Selain itu, pengelola program juga mendatangi rumah para siswa untuk memantau kondisi kesehatan mereka setelah kejadian tersebut. (ari)
Editor : Ali Mustofa