Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Ruwatan Suro di Blora, Merawat Tradisi Perkuat Harmoni

Ali Mustofa • Jumat, 10 Juli 2026 | 14:36 WIB
A. Mahbub Djunaidi
A. Mahbub Djunaidi

Oleh : A. Mahbub Djunaidi, Pensiunan ASN Kab. Blora

 

Bulan Muharram dalam kalender Hijriah atau yang lebih dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro memiliki makna yang sangat istimewa bagi masyarakat Blora. 

Bukan sekadar pergantian tahun, Suro dipandang sebagai momentum untuk melakukan introspeksi, memanjatkan doa, memohon keselamatan, serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Tradisi Suronan telah berlangsung turun-temurun di berbagai desa di Blora. Bentuknya beragam, mulai dari doa bersama, tahlil, pengajian, sedekah bumi, kirab budaya, hingga pagelaran wayang kulit, lamporan, dan prosesi ruwatan.

Bagi masyarakat Jawa, ruwatan dimaknai sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari marabahaya, musibah, dan berbagai kesulitan hidup.

Tradisi ini juga menjadi simbol penyucian diri sekaligus harapan memasuki tahun baru Hijriah dengan semangat baru.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi tersebut tetap lestari. Salah satu contohnya terlihat pada penyelenggaraan Ruwatan dannSironan DPRS Kab. Blora 2–4 Juli 2026.

Kegiatan tersebut memadukan unsur religius dan budaya melalui manaqiban, khataman Al-Qur'an, prosesi ruwatan, hingga pagelaran wayang kulit yang terbuka untuk masyarakat.

Puncak acara ditandai dengan pementasan wayang kulit lakon Sesaji Rajasuya oleh dalang asli Blora, Ki Nuryanto, yang disaksikan ribuan warga di halaman Gedung DPRD Kabupaten Blora.

Pagelaran ini sebagai bentuk komitmen masyarakat Blora dalam melestarikan budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.

Tema yang diusung "Manunggaling Rasa, Sukra Mulya", mengandung pesan tentang persatuan, gotong royong, dan keselarasan antara pemerintah dengan masyarakat dalam membangun Kabupaten Blora yang aman, maju, dan sejahtera.

Pagelaran wayang dalam tradisi Suronan bukan hanya hiburan rakyat.

Setiap lakon mengandung nilai-nilai moral, kepemimpinan, kejujuran, pengabdian, serta pentingnya menjaga persatuan.

Nilai-nilai tersebut menjadi media pendidikan budaya yang diwariskan kepada generasi muda agar tetap mengenal jati diri bangsa.

Di sisi lain, kegiatan budaya seperti Suronan juga memberikan dampak ekonomi. Kehadiran ribuan masyarakat dalam pagelaran wayang membuka peluang usaha bagi pedagang makanan, minuman, hingga pelaku UMKM di sekitar lokasi.

Tradisi budaya pun tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Di Kabupaten Blora, tradisi ruwatan bulan Suro menjadi bukti bahwa budaya dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan beriringan.

Doa-doa dipanjatkan kepada Allah SWT sebagai bentuk penghambaan, sementara seni budaya Jawa tetap dirawat sebagai warisan leluhur yang sarat makna.

Dengan demikian, Suronan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, memperkuat gotong royong, dan meneguhkan harapan agar Kabupaten Blora senantiasa diberi keselamatan, keberkahan, serta kemajuan (*).

Editor : Ali Mustofa
#bulan Muharram #mahbub djunaedi #tradisi suronan #blora #bulan Suro