Oleh : A. Mahhub Djunaisi, Pensiunan ASN Kab. Blora
RADAR KUDUS - Gagasan Bupati Blora, Arief Rohman, mendirikan Politeknik Agroindustri patut diapresiasi sebagai langkah strategis dalam membangun sumber daya manusia yang sesuai dengan karakteristik daerah.
Gagasan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Kita tahu Blora dikenal sebagai daerah dengan potensi besar di sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Karena itu, kebutuhan akan lembaga pendidikan vokasi yang mampu mencetak tenaga terampil memang semakin mendesak.
Keseriusan Arief Rohman disambut positif guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) dan diaspora asal Blora untuk menyiapkan naskah akademik, kurikulum, hingga sumber daya dosen.
Empat bidang yang diproyeksikan menjadi fokus pendidikan adalah pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pendirian politeknik bukan sekadar wacana, melainkan sedang dipersiapkan secara serius.
Namun demikian, sebagaimana setiap kebijakan publik, rencana ini juga perlu dikaji secara objektif agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Dari sisi positif, keberadaan Politeknik Agroindustri akan menjadi jawaban atas masih rendahnya angka lulusan SMA dan SMK di Blora yang melanjutkan pendidikan tinggi.
Selama ini banyak anak Blora yang tidak kuliah karena keterbatasan biaya atau jauhnya lokasi perguruan tinggi. Dengan hadirnya kampus vokasi di daerah sendiri, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi akan semakin terbuka.
Selain itu, politeknik dapat menjadi pusat inovasi pertanian modern. Dunia pertanian saat ini tidak lagi hanya mengandalkan tenaga fisik, tetapi membutuhkan teknologi, mekanisasi, digital farming, hingga hilirisasi produk. Lulusan politeknik diharapkan mampu menjadi petani muda, peternak modern, wirausahawan pangan, maupun pendamping masyarakat desa.
Efek ekonomi yang ditimbulkan juga tidak kecil. Kehadiran ribuan mahasiswa akan menggerakkan sektor kos-kosan, rumah makan, transportasi, percetakan, UMKM, hingga jasa lainnya.
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa sebuah kampus mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Lebih jauh lagi, politeknik dapat menjadi penghubung antara dunia pendidikan, dunia usaha, dan industri. Selama ini hasil pertanian Blora sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Padahal nilai tambah akan jauh lebih besar apabila diolah menjadi produk pangan, pakan ternak, pupuk organik, atau produk olahan lainnya.
Namun di balik optimisme tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang tidak boleh diabaikan.
Pertama, pendirian kampus membutuhkan biaya besar dan berkelanjutan. Tidak cukup hanya membangun gedung, tetapi juga memerlukan laboratorium, kebun praktik, kandang ternak, peralatan modern, serta dosen yang kompeten.
Kedua, kualitas harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai politeknik hanya berdiri secara fisik tetapi tidak mampu menghasilkan lulusan yang dibutuhkan dunia kerja. Kurikulum harus mengikuti perkembangan industri pertanian modern dan melibatkan dunia usaha sejak awal.
Ketiga, perlu dipastikan adanya kepastian pasar kerja bagi lulusan. Tanpa jaringan industri, koperasi, BUMDes, perusahaan pangan, maupun akses permodalan, lulusan dikhawatirkan tetap kesulitan memperoleh pekerjaan.
Keempat, pemerintah juga harus berhati-hati agar pendirian kampus baru tidak mengurangi perhatian terhadap pengembangan kampus-kampus yang sudah ada di Blora.
Sinergi antarlembaga pendidikan jauh lebih penting dibandingkan kompetisi.
Apabila dikembangkan lebih luas menjadi Politeknik Agribisnis, potensi Blora justru semakin besar. Kabupaten ini memiliki lahan pertanian yang luas, sentra jagung, padi, tebu, peternakan sapi, kambing, unggas, kawasan hutan jati, hingga potensi perikanan air tawar. Semua itu merupakan laboratorium alam yang sangat ideal bagi pendidikan vokasi.
Keunggulan lain adalah letak Blora yang berbatasan dengan Jawa Timur sehingga memiliki peluang menjadi pusat pendidikan agro bagi wilayah eks Karesidenan Pati, Bojonegoro, Ngawi, Tuban, Rembang, Grobogan, hingga sekitarnya.
Ke depan, program studi tidak hanya berkutat pada budidaya. Bidang teknologi pangan, agribisnis digital, logistik hasil pertanian, pemasaran produk, energi terbarukan berbasis biomassa, hingga kecerdasan buatan untuk sektor pertanian perlu mulai dipersiapkan. Dengan demikian lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.
Pada akhirnya, keberhasilan pendirian Politeknik Agroindustri tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari kemampuan melahirkan generasi muda yang mampu mengolah potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi.
Jika dikelola secara profesional, melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat, politeknik ini dapat menjadi tonggak transformasi Blora dari daerah penghasil komoditas menjadi daerah penghasil inovasi agroindustri.
Inilah momentum bagi Blora untuk membuktikan bahwa daerah agraris tidak harus tertinggal. Justru dari sektor pertanian modern, peternakan, kehutanan, dan agroindustri, masa depan ekonomi daerah dapat dibangun dengan lebih kokoh dan berkelanjutan (*).
Editor : Mahendra Aditya