Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Jejak dan Kontribusi Kiai Blora Sejak Awal Berdirinya NU Dipamerkan

Eko Santoso • Sabtu, 4 Juli 2026 | 15:59 WIB
ANTUSIAS: Ketua lembaga seni budaya muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blora Dalhar Muhammadun (paling kanan) saat memberikan penjelasan kepada Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh (dua dari kanan) bersama Bupati Blora Arief Rohman (tiga dari kanan). (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Ketua lembaga seni budaya muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blora Dalhar Muhammadun (paling kanan) saat memberikan penjelasan kepada Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh (dua dari kanan) bersama Bupati Blora Arief Rohman (tiga dari kanan). (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

 

BLORA- Jejak dan kontribusi para kiai Blora sejak masa awal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) terekam dalam catatan sejarah. Mulai dari arsip, kitab hingga foto. Dokumentasi itu disajikan di gedung serba guna NU Blora dalam bentuk pameran pada Sabtu (04/07). 

Pameran historiografi NU Blora tersebut menjadi satu dari rangkaian acara musyawarah kitab yang diselenggarakan PCNU Blora. Acara itu dihadiri Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh.

Kitab-kitab, foto, arsip dipajang secara menarik. Di bagian depan tengah terdapat almari kaca yang di dalamnya memuat kitab-kitab kuno. Juga arsip yang memuat catatan saat Mukhtamar pada masa-masa awal berdirinya NU. 

Sementara pada bagian belakang dan sisi kanan-kiri terdapat foto-foto lama yang menandai peristiwa bersejarah dan keterlibatan para kiai Blora waktu itu. 

Kiai Ubaid pun tampak antusias menilik arsip-arsip dan foto-foto tersebut. Ia terlihat beberapa kali memfoto arsip-arsip yang terpajang.

Selain Kiai Ubaid, Bupati Blora Arief Rohman juga hadir. Ia menemani Kiai Ubaid melihat-lihat catatan sejarah itu.

Ketua Lesbumi PCNU Blora Dalhar Muhammadun memandu keduanya dan para pengunjung lain. Menjelaskan foto-foto dan arsip-arsip yang tersaji. 

Dalhar Muhammadun mengatakan salah satu koleksi utama yang dipamerkan adalah kitab-kitab kuno yang ditemukan di sejumlah desa di Kabupaten Blora.

"Ini menjadi bukti keberadaan kampung-kampung santri tua di Blora sebelum berdirinya NU," ujarnya.

Selain kitab kuno, panitia juga memamerkan arsip-arsip Muktamar NU, di antaranya Muktamar NU di Semarang tahun 1929 dan Pekalongan tahun 1930. Dari arsip tersebut ditemukan daftar hadir yang memuat nama sejumlah kiai asal Blora.

Menurut Dalhar Muhammadun dokumen itu memperkuat fakta bahwa para ulama Blora telah terlibat dalam perjalanan organisasi sejak masa-masa awal berdirinya NU.

"Di sana ada nama-nama kiai dari Blora. Itu membuktikan bahwa sejak awal kiai-kiai Blora sudah terlibat di Nahdlatul Ulama," katanya.

Ia menjelaskan, arsip tertua yang berhasil ditemukan berasal dari tahun 1928. Dalam dokumen tersebut tercatat seorang ulama Blora KH. Muhammad Idris mengajukan tiga usulan penting dalam Muktamar NU di Surabaya.

Ketiga usulan tersebut adalah agar NU memiliki toko kitab yang menyediakan kitab-kitab Ahlussunnah wal Jamaah secara lengkap, menerjemahkan Al-Qur'an, serta meringkas kitab-kitab besar agar lebih mudah dipelajari oleh santri pemula.

"Usulan itu disampaikan pada Muktamar Surabaya tahun 1928 dan kemudian dibahas pada Muktamar Semarang. Karena itu arsip-arsip ini penting ditampilkan," jelasnya.

Menurut Dalhar, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah memberikan apresiasi terhadap upaya penulisan ulang sejarah lokal.

"Beliau menilai sejarah di daerah memang penting untuk dieksplorasi dan ditulis ulang. Kalau sejarah lokal ditulis oleh orang yang tidak memahami konteks daerahnya, sering kali justru merugikan subjek sejarah yang ditulis," ungkapnya.

Ke depan, hasil riset yang dilakukan tim peneliti akan disusun menjadi buku sejarah lokal berdirinya NU di Blora. Kajian tersebut tidak hanya mengulas lahirnya NU di Blora, tetapi juga perkembangan Islam di wilayah tersebut sejak awal abad ke-20, bahkan menelusuri jejaknya hingga pertengahan abad ke-19.

Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh menyampaikan pentingnya penulisan sejarah dalam perspektif lokal dan Indonesiasentris. 

Ia mencontohkan ketika sejarah ditulis oleh kolonial, maka memuat sudut pandang yang tidak tepat. Seperti penulisan Samin. Dalam catatan kolonial, Samin dianggap keyakinan. 

"Padahal Samin itu bukan keyakinan, atau agama. Samin adalah gerakan nonkooperatif dan perlawanan terhadap kolonialisme," bebernya. 

Atas hal itu, menurutnya, sampai hari ini muncul cara pandang bahwa seolah-olah Samin tidak berkaitan dengan Islam. (tos)

Editor : Eko Santoso
#pcnu blora #Lesbumi NU #samin #blora #samin blora