BLORA - Datangnya Bulan Suro membawa berkah bagi Mulyono, warga Blora yang telah puluhan tahun membuka jasa jamas pusaka.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia kembali membuka layanan di kawasan kompleks eks Stasiun Blora, tepatnya di depan Blok T.
Sejak pagi sekitar pukul 08.30 WIB hingga sore hari, Mulyono melayani masyarakat yang ingin membersihkan sekaligus merawat berbagai pusaka, seperti keris dan benda-benda bersejarah lainnya.
Tradisi jamas pusaka memang sudah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa, terutama saat memasuki Bulan Suro.
Menurut Mulyono, proses menjamas pusaka tidak bisa dilakukan sembarangan.
Seseorang yang melakukannya harus menjalani tirakat sebagai bentuk persiapan batin sebelum membersihkan pusaka milik orang lain.
"Ya harus tirakat," ujar Mulyono.
Pria yang akrab disapa Mbah Mulyono itu mengaku telah menekuni profesi sebagai penjamas pusaka selama sekitar 24 tahun.
Sejak 2002, ia rutin membuka layanan penjamasan di kawasan eks Stasiun Blora setiap Bulan Suro.
Dahulu, kata dia, terdapat dua orang yang membuka jasa serupa di lokasi tersebut.
Namun seiring berjalannya waktu, kini hanya dirinya yang masih mempertahankan tradisi itu.
Pelanggan yang datang tidak hanya berasal dari Kabupaten Blora.
Banyak pula warga dari daerah lain seperti Purwodadi, Rembang, Pati, hingga Bojonegoro yang sengaja datang untuk merawat pusaka mereka.
Dalam setiap Bulan Suro, sedikitnya sekitar 40 orang memanfaatkan jasa yang ia tawarkan.
Untuk sekali proses penjamasan, Mbah Mulyono menetapkan tarif sekitar Rp30 ribu.
Ia sengaja memasang harga yang terjangkau agar masyarakat dari kalangan menengah ke bawah tetap bisa merawat pusaka warisan keluarga.
"Saya memang menyasar masyarakat menengah ke bawah. Banyak petani yang punya pusaka. Sayang kalau tidak dirawat," tuturnya.
Dalam proses penjamasan, Mbah Mulyono menggunakan bahan-bahan tradisional, seperti air jeruk dan air warangan.
Warangan sendiri merupakan material menyerupai batu yang akan larut ketika dicampur air.
Ia menjelaskan, perubahan warna air warangan selama proses penjamasan dipercaya dapat menunjukkan kondisi pamor pada pusaka.
Semakin pekat atau hitam warna air yang muncul, semakin jelas pula karakter pamor yang dimiliki pusaka tersebut. (tos)
Editor : Ali Mustofa