BLORA – Bupati Blora Arief Rohman memperoleh apresiasi tinggi dari lima Dewan Juri Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (AK PWI) Pusat 2026.
Penghargaan tersebut diberikan atas komitmen dan kepeduliannya dalam menjaga serta menghidupkan nilai-nilai ajaran Samin di Kabupaten Blora.
Salah satu anggota Dewan Juri AK PWI 2026, Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menilai langkah Bupati Blora terbilang menarik.
Baca Juga: Miris, Jalan di Desa Kalangan Blora Dipasangi Batu Kumbung, Begini Penampakannya
Ia menyebut Arief Rohman dikenal sebagai sosok berlatar belakang santri atau putra kiai, namun justru berani mengangkat dan menerapkan budaya Samin dalam tata kelola pemerintahan.
“Beliau seorang Gus, tetapi mampu mengimplementasikan nilai-nilai budaya Samin dalam pemerintahannya. Bahkan tidak sungkan menyebut Blora sebagai daerah Samin. Ini hal yang patut diapresiasi,” ungkap Yusuf.
Menurut Yusuf, nilai utama yang menonjol dari ajaran Samin adalah kejujuran.
Nilai inilah yang dinilai telah diinternalisasikan dalam kinerja pemerintahan Kabupaten Blora, khususnya di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Kejujuran ala Samin diterapkan di OPD dengan harapan setiap aparatur bekerja secara jujur, apa adanya, dan tidak menyalahgunakan kewenangan,” lanjutnya.
Atas kepedulian dan konsistensi tersebut, Dewan Juri AK PWI Pusat menetapkan Bupati Blora sebagai salah satu kepala daerah penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.
Penghargaan berupa Trofi Abyakta dan piagam rencananya akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Banten, 9 Februari mendatang.
Baca Juga: Tak Seperti Tahun Sebelumnya, Dana Desa di Blora Turun Drastis, Kini Tinggal Rp200–300 Juta per Desa
Bupati Blora tercatat menjadi satu dari sepuluh kepala daerah yang masuk dalam nominasi penerima penghargaan bergengsi tersebut.
Sebelumnya, pengamat dan penulis seni budaya Agus Dermawan T juga mendorong Pemerintah Kabupaten Blora untuk menetapkan busana Samin sebagai pakaian adat daerah.
Menurutnya, pakaian Samin memiliki kekhasan yang layak diangkat sebagai identitas budaya.
“Busana Samin itu khas. Sudah selayaknya ditetapkan sebagai pakaian adat Blora,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Blora Arief Rohman menegaskan bahwa Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 bukan semata soal capaian pribadi.
Baca Juga: RSUD Blora Optimalkan Pelayanan Usai Terima Bantuan Alat Kesehatan dari Kemenkes
Ia memandang penghargaan ini sebagai momentum untuk meneguhkan bahwa upaya pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kebebasan pers.
“Kami berharap penghargaan ini mampu menjadi pemantik semangat bagi pemerintah daerah, insan pers, budayawan, dan masyarakat untuk terus bersinergi membangun Blora yang berakar pada nilai-nilai budaya, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (tos)