BLORA – PC Fatayat NU Blora libatkan 1.000 siswa dan santri dalam seminar anti bullying dan kesehatan remaja.
Acara itu merupakan wujud kepedulian kepada remaja dan atas persoalan yang belakangan terjadi.
Ketua PC Fatayat NU Blora Imatul Imro'ah menyebut dalam kegiatan itu pihaknya bekerjasama dengan Yayasan pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora. Acara digelar di gedung Graha Nusantara.
Acara itu diikuti skitar 1.000 peserta dari siswa MTs, MA, dan pondok beserta seluruh guru pondok.
Kegiatan itu menghadirkan psikolog, advokat dan dari Dinsos P3A sebagai narasumber.
Ada beberapa hal yang disampaikan dalam acara tersebut. Yakni tentang upaya pencegahan dan penanganan segala bentuk bullyng.
Baik dari siswa maupun santri pondok. Hingga hal-hal lain yang berpotensi mengarah pada kasus hukum.
Imatul Imro'ah menambahkan PC Fatayat NU Blora mempunyai sebuah wadah lembaga pemberdayaan perlindungan perempuan dan anak.
"Lembaga ini siap untuk selalu memfasilitasi penanganan kasus kekerasan baik terhadap perempuan dan anak serta masyarakat, termasuk bullying," katanya.
Ini sebagai upaya turut berkontribusi mengurai perilaku negatif yang belakangan marak terjadi di berbagai wilayah. Sehingga Fatayat menaruh perhatian lebih.
"Kami berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan pencerahan supaya kasus bullying bisa berkurang dan kasus kekerasan bisa dicegah khususnya terhadap anak," ujarnya.
Hal tersebut juga merupakan rangkaian kegiatan dalam memeriahkan hari santri nasional. Sekaligus memberikan pendalaman pengetahuan kepada santri dan lingkungan pondok agar anti bullying.
Wakil ketua LKP3A Ratih menyampaikan bahwa bullyng yang sifatnya kekerasan bisa memenuhi unsur pidana apabila mempunyai bukti sehingga pelaku pun bisa terkena hukuman.
Selain itu, pihaknya juga menekankan menjaga perilaku dan akhlak yang baik secara individu maupun kelompok. Terutama dalam sistem manajemen sekolah.
"Dengan sistem sekolah yang baik, akan ada proteksi atas anti bullying sehingga mengurangi bullyng yang terjadi di sekolah," tambahnya.
Dalam menerapkan anti bullying di sekolah maupun lembaga pesantren, pihaknya menekankan adanya keterlibatan semua pihak. Baik siswa, guru, dan pengelola pendidikan hingga orang tua.
"Semua harus saling berkoordinasi dengan baik supaya tercipta suasana aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar," terangnya. (tos)
Editor : Ali Mustofa