BLORA – Diprediksi temuan fosil di wilayah Kabupaten Blora masih banyak.
Terutama di sepanjang daerah pinggiran aliran sungai Bengawan Solo. Seperti di Kecamatan Kradenan dan Kedungtuban.
Pengelola Rumah Artefak sekaligus Petugas Cagar Budaya Dinporabudpar Blora, Lukman Wijayanto menjelaskan jika Kabupaten Blora memiliki potensi temuan fosil luar biasa.
"Terutama di wilayah selatan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo," katanya.
Secara historis, Blora pernah dijadikan pusat penelitian arkeolog dunia. Yakni Teer Harr dan GHR Von Koenigswald.
Kedua arkeolog itu sampai membuat stasiun penelitian manusia purba di Dusun Ngandong, Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan pada 1930,an.
Bahkan stasiun penelitian itu masih tegak berdiri sampai hari ini dan dijadikan situs cagar budaya.
"Melihat kondisi fisik dan kebiasaan kami menangani dalam 10 tahun terakhir, dari struktur tanah dan lainnya kami prediksi masih banyak," paparnya.
Hanya untuk melakukan penggalian atau ekskavasi bukan perkara mudah. Sebab harus ada alokasi anggaran. Dan itu tergantung niat pemerintah.
"Kalau itu tergantung niat dan kebijakan dari pemkab ya," tambahnya.
Ia pun mencontohkan beberapa waktu lalu jika bukti potensi temuan fosil masih banyak yakni dibuktikan dengan penemuan fosil tanduk kerbau purba berusia 250 ribu tahun ditemukan di Kabupaten Blora.
Tepatnya di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban.
"Potensinya ada. Banyak," tambahnya. (tos)
Editor : Ali Mustofa