Blora Menuju Kabupaten Organik: Sinergi Bupati dan NU Panen Raya Padi Organik
Redaksi Radar Kudus• Rabu, 4 Juni 2025 | 01:15 WIB
HARAPAN: Bupati Blora Arief Rohman saat bersama jajaran NU melakukan panen raya.
BLORA – Upaya menjadikan Blora sebagai kabupaten pelopor pertanian organik nasional mulai menunjukkan hasil.
Salah satunya terlihat saat Bupati Blora Arief Rohman bersama jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) melakukan panen raya padi organik di Desa Sonokidul, Kecamatan Kunduran, akhir pekan lalu.
Momentum ini bukan sekadar seremoni panen, tetapi menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah daerah, organisasi keagamaan, dan petani lokal dalam mendorong pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Kami ingin Blora menjadi pionir pertanian organik nasional, dan itu butuh gerakan bersama dari desa,” tegas Bupati Arief Rohman dalam sambutannya.
Bupati Arief menyampaikan komitmennya untuk memperluas sistem pertanian organik hingga ke seluruh desa.
Ia mendorong LPPNU untuk melatih kader secara masif, dengan target satu kader organik di setiap ranting NU.
Total, ditargetkan terbentuk sekitar 300 kader petani organik yang siap mengembangkan model pertanian ini di tingkat akar rumput.
“Pelatihan harus merata, tidak hanya simbolis. Kepala Dinas Pertanian saya minta terlibat penuh melatih kelompok tani. Bahkan TNI dan Polri pun kami harap turut bersinergi,” imbuhnya.
Untuk memperkuat implementasi di lapangan, Bupati juga menginstruksikan para kepala desa agar menyiapkan lahan bengkok sebagai lokasi percontohan.
Minimal satu hektare per desa. Langkah ini akan dikoordinasikan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD).
Tak hanya aspek budidaya, pemasaran hasil tani juga menjadi perhatian. Pemkab Blora telah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk diaspora Blora, untuk mendukung aspek hilir seperti sertifikasi, standardisasi, dan pengemasan produk agar lebih kompetitif di pasar luas.
Bupati juga membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki program studi pertanian untuk memperkuat riset dan inovasi.
Sebab, karakteristik tanah di Blora dinilai masih membutuhkan pendekatan ilmiah agar pertanian organik benar-benar optimal.
“Kami juga akan menggandeng BUMN seperti Pertamina dalam pendampingan petani. Peran NU, khususnya LPPNU, sangat strategis untuk menjaga semangat gerakan ini menyebar ke seluruh desa. Harapan kami, Blora dikenal sebagai Kabupaten Organik,” tegas Arief.
Dukungan NU dan Testimoni Petani
Ketua PCNU Blora, Muhammad Fatah, menyambut positif inisiatif Pemkab dan menyatakan bahwa NU akan berada di garda depan mengawal gerakan pertanian organik ini. Menurutnya, ini bagian dari ijtihad ekologis NU yang selaras dengan prinsip rahmatan lil alamin.
“Kami bersama LPPNU dan kelompok tani ‘Kadang Tani Sarwo Tulus’ siap mendampingi proses ini. Pertanian organik ini bukan hanya menguntungkan manusia, tapi juga menjaga air, tanah, dan lingkungan secara keseluruhan,” ujar Fatah.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari para petani. Mas Duwi, petani binaan LPPNU, mengaku telah merasakan manfaat sistem organik yang diterapkannya sejak tiga tahun terakhir.
“Dari segi biaya jauh lebih hemat karena pupuknya alami. Hasil panen meningkat juga. Di musim tanam kedua ini, saya bisa panen sampai 6,3 ton. Itu angka yang memuaskan,” ucapnya.
Awal Kebangkitan Pertanian Organik Blora
Panen raya ini menjadi tonggak awal kebangkitan pertanian organik di Kabupaten Blora.
Pemerintah berharap, gerakan ini tidak hanya menjadi model lokal, tetapi juga mampu menginspirasi daerah lain untuk mengadopsi pola pertanian yang sehat, berkelanjutan, dan mensejahterakan petani tanpa merusak lingkungan.
Dengan konsolidasi yang melibatkan semua elemen, dari pemerintah, NU, akademisi, hingga korporasi, Blora tampaknya serius menapaki jalan panjang menuju kemandirian pangan berbasis organik. (Arif Fakhrian Khalim)