BLORA – Ratusan umat Katolik di Kabupaten Blora larut dalam suasana khidmat saat menyaksikan drama visualisasi Jalan Salib di Gua Maria Wireskat, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora, Jumat (18/4).
Pementasan ini menjadi bagian dari peringatan Jumat Agung, untuk mengenang sengsara dan wafatnya Yesus Kristus di kayu salib.
Berbeda dari tahun sebelumnya yang digelar di Gereja Katolik Santo Pius X, tahun ini visualisasi dipentaskan di alam terbuka, menghadirkan nuansa berbeda yang lebih menyatu dengan suasana batin perenungan.
Drama ini memerankan 14 perhentian Jalan Salib, diperankan oleh para Orang Muda Katolik (OMK) dan sejumlah umat dari lingkungan serta kelompok kategorial.
Selama lebih dari satu jam lima belas menit, mereka membawakan adegan demi adegan dengan penuh penghayatan.
"Persiapannya cukup panjang, kurang lebih sebulan. Kami libatkan banyak OMK, tokoh lingkungan, serta umat lainnya.
Tujuannya agar semakin banyak yang ikut terlibat secara rohani dan emosional," ujar Maximiana Pancastuti, koordinator visualisasi Jalan Salib.
Menurutnya, pementasan tahun ini dilakukan dengan format berbeda, karena hanya menggunakan jalur utama di sekitar Gua Maria, tidak melewati seluruh perhentian sebagaimana dua tahun sebelumnya.
Meski demikian, rangkaian peristiwa yang ditampilkan tetap merujuk pada kisah sengsara Yesus yang penuh makna.
"Harapan kami, umat yang menyaksikan bisa benar-benar menghayati dan meneladani semangat pengorbanan Yesus. Supaya kita berani melayani seperti yang telah Dia ajarkan," tambahnya.
Romo Benediktus Prima Novianto Saputro, Kepala Paroki Santo Pius X Blora, turut memberikan apresiasi atas totalitas dan semangat yang ditunjukkan para pemeran serta tim pendukung visualisasi tersebut.
"Ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah bentuk refleksi iman yang luar biasa, untuk membantu kita merenungkan sabda Tuhan yang diwujudkan secara nyata melalui visualisasi ini," ucapnya dalam sambutan.
Romo Novi mengungkapkan, sejak pukul 04.00 WIB para pemeran sudah bersiap dan menjalankan peran mereka dengan sungguh-sungguh.
Menurutnya, ini mencerminkan semangat pelayanan dan cinta kasih yang tumbuh di tengah komunitas Katolik Blora.
"Peristiwa Jumat Agung adalah misteri kasih Tuhan yang luar biasa. Dia rela menjadi manusia dan wafat demi menebus dosa umat-Nya. Maka mari kita buka mata hati kita, bukan hanya untuk merasa sedih atau menyesal, tetapi juga untuk menumbuhkan cinta dan pengabdian kepada Tuhan serta sesama," pesannya.
Romo Novi berharap kegiatan semacam ini bisa terus menjadi sarana pembinaan iman, khususnya bagi kaum muda, dan menjadi momen yang menghidupkan semangat kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Mahendra Aditya"Semoga peristiwa ini menginspirasi kita semua untuk membangun hidup berdasarkan kasih, bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga dalam relasi dengan sesama. Tuhan memberkati kita semua," pungkasnya.