BLORA, Radar Kudus – Kiai Ma’shum Fathoni dikenal sebagai ulama sepuh yang produktif menerjemahkan kitab-kitab klasik ke dalam bahasa Jawa.
Di usianya yang menginjak 75 tahun, pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda ini tetap tekun menulis dan menerjemahkan, bahkan menggunakan tablet dalam prosesnya.
Di kediamannya yang teduh di Dukuh Kedungglonggong, Kecamatan Bogorejo, dua santri menyambut kedatangan tamu sebelum mempersilakan masuk ke rumah Mbah Ma’shum.
Setelah beberapa menit, beliau muncul dengan langkah perlahan, ditopang tongkat, dan duduk di ruang tamu.
Beberapa kitab terjemahannya tersusun rapi di hadapan tamu, lengkap dengan sampul cetakan yang apik.
Mbah Ma’shum menuturkan, terjemahannya disesuaikan dengan bahasa lokal agar lebih mudah dipahami santri.
“Saya itu berpikir, bagaimana kitab berbahasa Arab bisa dipahami, lalu saya terjemahkan sesuai bahasa Jawa Blora,” ujar Kiai Ma’shum.
Kitab-kitab klasik yang ia terjemahkan antara lain Matholiul Jauhariyah fi Terjemah Qawa’idul Fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih), ‘Aunul Bais (ilmu hadis), Sulam Munawaraq (ilmu logika), Halul Isyarah (aqidah Islam), dan Alfiyah (tata cara membaca kitab).
Semua diterjemahkan dengan tetap menggunakan aksara Arab Pegon.
Sebelum mulai menerjemahkan, Kiai Ma’shum terlebih dahulu membaca dan mengkhatamkan kitab yang akan diterjemahkan hingga enam kali.
“Sebelum saya terjemahkan, saya baca di pondok sampai enam kali,” ungkap pria kelahiran 1950-an itu.
Selain menerjemahkan, beliau juga menambahkan syarah (penjelasan) dalam setiap karyanya agar pembaca lebih memahami isi kitab tanpa keluar dari konteks yang dimaksud penulis aslinya.
Kecintaannya terhadap ilmu agama mendorongnya terus berkarya, meskipun usia tak lagi muda dan waktu mengajarnya padat.
Ia kerap menulis hingga larut malam. Menariknya, Kiai Ma’shum kini juga memanfaatkan teknologi digital.
“Beliau menulis menggunakan tablet, beberapa kali saya diminta membelikan,” ungkap Ilham Adnan, salah satu santri abdi dalem.
Selain menerjemahkan, beliau juga menulis kitab-kitab karyanya sendiri, seperti kitab kumpulan doa-doa khusus.
Ketekunan Mbah Ma’shum berakar dari perjalanan panjang menuntut ilmu, mulai dari pondok pesantren di Sarang, Rembang, hingga ke Makkah, Arab Saudi.
Ia pernah berguru kepada para ulama besar seperti Syaikh Abdullah bin Said Al-Lahji, Syaikh Yasin Al-Fadani Al-Makky, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dan Syaikh Ismail bin Utsman Al-Tamani. (*)
Editor : Mahendra Aditya