BLORA – Kemenangan pasangan Arief Rohman-Sri Setyorini (Asri) berdasarkan hasil quick count torehkan catatan bersejarah.
Lantaran tercatat sebagai kemenangan dengan prosentase suara terbesar dalam pilkada di Kabupaten Blora. Yakni mencapai 84%.
Sebagai perbandingan, Arief Rohman pada kemenangan pilkada 2020 saat berpasangan dengan Tri Yuli Setyowati hanya menang dengan prosentase perolehan suara 59%.
Sementara pada 2015, paslon pemenang saat itu (Djoko Nugroho–Arief Rohman) memperoleh suara dengan prosentase 51,2%.
Berdasarkan hasil Quick Count internal tim pemenangan, dari 470.302 suara sah yang masuk, Asri mendapatkan 393.333. Atau jika diprosentase mencapai 83,6%.
Sementara lawannya, Abu Nafi-Andika Adhikrisna (Abdi) memperoleh suara sah 76.969. Atau secara prosentase hanya 16,37%.
Jika dirinci dari 16 kecamatan, ada 15 kecamatan yang prosentase perolehan suara Asri lebih dari 80%.
Hanya satu kecamatan yang prosentase perolehan suara Asri di bawah 80%. Yakni Kecamatan Blora.
Di Kecamatan Blora, dari total 50.621 suara sah, Asri mendapatkan 37.170. Atau sekitar 73,4%. Sementara Abdi memperoleh 13.451 suara. Atau 26,57%.
Jika melihat peta persebaran kemenangan Asri, prosentase perolehan suara terbesar berada di wilayah Blora Selatan.
Seperti di Kecamatan Jati, Randublatung, Kradenan, Kedungtuban, hingga Banjarejo.
Di Kecamatan Jati prosentase suara Asri mencapai 87,9%, Randublatung 87,8%, Kradenan 85,4%, Kedungtuban 86,4%, Banjarejo 87,7%.
Ketua Dewan Kebudayaan Blora (DKB) Dalhar Muhammadun menjelaskan jika apa yang ditorehkan Asri ini tercatat sebagai kemenangan dengan prosentase terbesar dan pertama dalam sejarah pemilihan langsung di pilkada Blora.
Hal ini menurutnya menunjukkan bahwa kepuasan masyarakat cukup tinggi.
Hal itu dapat diukur sejak jauh-jauh hari. Terutama dari nilai kepuasan masyarakat atas kinerja petahana dan portofolio positif petahana yang secara objektif dapat dilihat dari berbagai survei.
Terlebih kinerja dan prestasi Arief Rohman tersampaikan secara masif ke masyarakat luas, baik melalui media, tim sukses maupun relawan.
"Blora itu 'sempit'. Para tokoh dan masyarakat cukup mengetahui portofolio masing-masing. Hal ini yang kemudian menjadi pangkal tolak untuk membangun kecenderungan dukungan. Sehingga pengorganisiran dukungan mudah, meluas dan masif," paparnya.
Selain itu, dari visi misi dan program Asri menyentuh kebutuhan masyarakat Blora. Sehingga berbagai kalangan di Blora merasa terakomodir.
"Visi misi dan program Asri juga tampak tersusun secara teknokratik, sistemik, juga cermat melihat kebutuhan masyarakat," tuturnya.
Hal ini menurutnya berbanding terbalik dengan visi misi dan program Abu Nafi-Andika Adhikrisna (Abdi).
Lantaran, belum bisa mengakomodir kepentingan banyak pihak. Bahkan menurutnya terkesan dibuat seadanya.
Sehingga secara ide, dialektika dan komunikasi politik menjadi problematik.
"Bagi sebagian masyarakat mungkin itu tidak penting, tapi bagi kalangan yang relatif terdidik, tentu visi misi dan program adalah argumen penting untuk menentukan kecenderungan dukungan," tambahnya.
Kekuatan Asri lainnya terletak dari dukungan para santri. Menurutnya kalangan santri di Blora secara bulat memberi dukungan. Baik pesantren, kyai kampung maupun kaum muda santri.
Selain itu, gaya kampanye juga berpengaruh. Asri menang telak lantaran gaya kampanye santun dan konsisten.
Juga pendekatan kepada simpul-simpul masyarakat yang berada di pelosok-pelosok.
"Tetap menjaga kesantunan, sekalipun sering mendapatkan serangan yang memancing dan tidak obyektif," tuturnya. (tos)
Editor : Ali Mustofa