BLORA - Komjen Pol Agus Andrianto, lahir 16 Februari 1967 di Blora, Jawa Tengah, kini menjabat sebagai Wakapolri sejak Juni 2023.
Sebelum ini, ia menjabat sebagai Kabareskrim Polri dan dikenal berpengalaman di bidang reserse sejak lulus Akpol 1989.
Agus Andrianto adalah anak ke-11 dari 12 bersaudara, dengan ayahnya, Sukarsono, seorang PNS di Blora.
Dalam kehidupan pribadinya, ia menikah dengan Evi Celiyanti dan memiliki tiga anak: Andre Azhar, Starrisya Andhita, dan Flowrenia Andhyta.
Kariernya mencakup posisi strategis seperti Kapolres Tangerang, Kapolda Sumut, hingga Kabareskrim.
Pendidikan umum Agus termasuk SDN 1 Tempelan, SMPN 1 Blora, dan SMAN 1 Blora, serta S2 Ilmu Hukum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Di kepolisian, ia telah menempuh pendidikan Akabri, PTIK, hingga Sespimti.
Penyesalan Sang Jenderal
Meski sudah menyandang status sebagai orang nomor dua di Polri, hal itu tak lantas membuat Komjen Pol Agus Andrianto bahagia.
Pasalnya, putra asli Blora itu ternyata punya penyesalan mendalam selama menjadi Wakapolri.
Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto merasa belum bisa membahagiakan sang ibunda.
Sehingga, ia merasa menyesal sekalipun sudah menjadi orang penting di kancah nasional.
Untuk diketahui, jenderal bintang tiga Polri itu merupakan anak ke-11 dari 12 saudara.
Dari 11 saudaranya itu Andri -sapaan masa kecil Komjen Agus Andrianto- terbilang paling sukses.
Meski demikian, ia punya penyesalan paling mendalam.
Penyesalan itu karena meski jadi Wakapolri ia tidak sempat membahagiakan sang ibunda.
Sang ibunda Sri Sudaryati berpulang saat sang jenderal bintang tiga itu masih menjalani pendidikan tingkat satu di Akpol 1986.
Cerita itu disampaikan langsung oleh adik bungsu Jenderal Agus Andrianto, Agus Oni Setiawan.
"Beliau (Komjen Agus Andrianto, Red) pernah bercerita kepada saya. Satu hal yang sangat disesalkan beliau adalah belum sempat membahagiakan ibu kandung kami," tambahnya.
Saat kehilangan sang ibu itu, semua anak merasa sangat kehilangan. Termasuk Komjen Pol Agus Andrianto.
Oni bercerita pada saat sang jenderal masih usia sekolah, Andri merupakan seorang yang patuh dengan kedua orang tuanya.
Setiap pagi, dialah yang bangun paling dulu, kemudian membantu ibunya untuk memasak.
Dilanjutkan dengan membantu bapaknya untuk mencuci.
"Yang paling saya ingat adalah beliau itu pribadi yang sangat rajin membantu orang tua dan ibadah," imbuhnya.
Tak hanya itu sang jenderal juga pintar menyambal.
"Beliau juga fasih dalam marut klopo (memarut kelapa) untuk bikin santan, untuk masak yang bersantan," tambahnya.
Kini, saat pulang kampung, Komjen Pol Agus Andrianto tetap menunjukkan rasa baktinya kepada sang ibunda.
Setiap pulang ia selalu berziarah ke makam almarhumah sang ibunda.
Hal itulah yang menurutnya bisa jadi menjadi kunci sukses sang kakak. Yakni kepatuhanya dan baktinya pada kedua orang tua.
"Setiap berkunjung ke kampung halaman, satu yang beliau pasti laksanakan adalah ziarah di makam orang tua," tuturnya.
Mungkin jalan beliau yang mulus itu adalah berkah dari kepatuhan beliau dengan orang tua.
Saat masih sekolah, Oni memandang bahwa perjalanan pendidikan kakak kandungnya itu juga terhitung mulus.
Sebab, yang bersangkutan tidak pernah neko-neko.
Mulai dari SD Tempelan, SMPN 1 Blora, SMAN 1 Blora, serta mendaftar di Akpol dan langsung diterima.
Kasus-Kasus Besar yang Ditangani Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto
1. Pembunuhan Hakim Jamaluddin
Pembunuhan Hakim PN Medan, Jamaluddin, terjadi pada tahun 2019.
Jamaluddin ditemukan tewas di dalam mobil yang terperosok di Dusun II Nako Rindang, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat, 29 November 2019.
Saat ditemukan, jasad korban terbaring di kursi belakang mobil. Agus Andrianto saat itu memastikan bahwa Jamaluddin menjadi korban pembunuhan oleh orang dekatnya. Sejumlah saksi, termasuk istri Jamaluddin, turut diperiksa.
Namun, sebelum mengungkap pelaku, Agus Andrianto dipindahkan ke jabatan baru sebagai Kabaharkam Polri.
Setelah penyelidikan, diketahui bahwa istri Jamaluddin, Zuraida Hanum, adalah dalang di balik pembunuhan ini, dibantu dua orang eksekutor.