Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Sosok dan Profil Sri Suhita, Pemimpin Perempuan Kedua di Kerajaan Majapahit yang Menginspirasi Tokoh Suhita dalam Film Hati Suhita

Noor Syafaatul Udhma • Senin, 19 Agustus 2024 | 22:51 WIB
Ilustrasi Sri Suhita atau Ratu Kencana Wungu, pemimpin perempuan kedua di Kerajaan Majapahit.
Ilustrasi Sri Suhita atau Ratu Kencana Wungu, pemimpin perempuan kedua di Kerajaan Majapahit.

RADAR KUDUS – Namanya Sri Suhita yang memiliki asli Ratu Kencana Wungu. Dia merupakan raja keenam Kerajaan Majapahit yang memerintah sejak 1429 hingga 1447 sekaligus pemimpin perempuan kedua di kerajaan Majapahit

Sri Suhita merupakan putri dari pasangan Wikramawardhana dan Bhre Daha II (putri Bhre Wirabhumi) yang menginsiprasi hadirnya tokoh Suhita dalam novel dan fim “Hati Suhita”.

Setelah ayahnya meninggal dunia, Sri Suhita naik tahta menjadi Raja Majapahit VI dengan gelar Bhatara Parameswara pada 1429. 

Bila dikait-kaitkan, Sri Suhita masih ada hubungan dengan dengan Prabu Brawijaya V yang melarang warga Cepu Blora khususnya keturunan Adipati Cepu mendaki Gunung Lawu.

Bila dilanggar mitos ini akan terkena petaka. 

Baca Juga: Luar Biasa, Prabu Brawijaya V yang Melarang Warga Cepu Mendaki Gunung Lawu Ternyata Punya 117 Anak, Salah Satunya Arya Damar, Suami dari Siu Ban Ci

Selama memimpin, Sri Suhita didampingi oleh suaminya, Bhra Hyang Parameswara Ratna Pangkaja.

Sesuai dengan Pararaton, Ratna Pangkaja memiliki nama asli Parameswara atau Aji Ratnapangkaja merupakan anak dari Surawardhani (Bhre Kahuripan), adik dari adik dari Wikramawhardhana. Ayah Ratna Pangkaja merupakan Raden Sumirat (Bhre Pendalansalas) bergelar Ranamanggala.

Saat naik tahta, Sri Suhita diperkirkan berusia 20 tahunan.

Suhita memerintah Kerajaan Majapahit bersama dengan suaminya Ratnapangkaja. Pada 1433, Suhita embalas kematian kakeknya Bhre Wirabhumi dengan cara menghukum, mati Raden Gajah alias Bra Narapati, penguasa Djinggan.

Masa Kepemimpinan Sri Suhita

Selama Suhita memimpin, ada dua peristiwa penting yang terjadi di Kerajaan Majapahit.

  1. Suhita menghukum mati Bhra Narapati alias Raden Gajah. Suhita memblaskan dendam atas kematian Bhre Wirabhumi, kakeknya dengan cara memenggal kepala Raden Gajah.
  2. Menganggak Arya Teja sebagai pemimpin masyrakat China di Tuban

Sesuai dengan Kronik China, Arya Teja memiliki nama Gan-eng-cu. Dia merupakan ayah dari Tumenggung Wilwatikta atau kakek dari Raden Said (Sunan Kalijaga), salah satu wali songo.

Sunan Kalijaga menjabat sebagai Majelis Dakwah Wali Songo pada masa pemerintahan Raden Patah di Kesultanan Demak Bintoro.

Merujuk pada Babad Tuban, Arya Teja bukan orang Jawa, melainkan berdarah Arab, yang masih memiliki hubungan saudara dengan Sunan Ampel.

Perempuan yang Memimpin Kerajaan Majapahit Lebih dari 10 Tahun

Sri Suhita diketahui memimpin Kerajaan Majapahit pada 1429 hingga 1447. Dia merupakan satu di antara dua pemimpin perempuan di Kerajaan Majapahit.

Setelah memerintah lebih dari 10 tahun, Sri Suhita meninggal dunia pada 1447. Tahtanya digantikan oleh sang adik kandung, Dyah Kertawijaya.

Nama Suhita juga muncul dalam kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong sebagai Su-king-ta yakni raja Majapahit yang mengangkat Gang En Cu sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa di Tuban dengan pangkat A-lu-ya. Gang Eng Cu ini merupakan Arya Teja, kakek Sunan Kalijaga.

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#gunung lawu #demak #hati suhita #kerajaan majapahit #Prabu Brawijaya V #blora #SUHITA #Cepu Blora