RADAR KUDUS – Siapa sangka, Ratu Kalinyamat Jepara ternyata cicit dari Prabu Brawijaya V, sosok yang melarang warga Cepu Blora mendaki Gunung Lawu.
Dikutip dari buku Ratu Kalinyamat Sejarah atau Mitos yang ditulis oleh Bambang Sulistyanto, Ratu Kalinyamat merupakan putri dari Pengeran Trenggono dan Cucu dari Raden Patah, raja dari Kerajaan Demak Bintoro.
Raden Patah itu sendiri merupakan anak dari Prabu Brawijaya V dengan Siu Ban Ci, putri China anak dari saudagar sekaligus ulam Sykeh Bentong.
Tak heran, Ratu Kalinyamat merupakan cicit dari Prabu Brawijaya V. Itu artinya Ratu Kalinyamat masih keturunan dari Kerajaan Majapahit.
Profil Ratu Kalinyamat Jepara
Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Ratna Kencana. Ratu Kalinyamat dinikahkan dengan Pangeran Toyib, putra Sultan Ibrahim Sultan Mughayat Syah, raja Aceh pada 1514-1528.
Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, Pangeran Toyib menjadi anggora Kerajaan Demak lalu diberi gelar Sultan Hadliri.
Bersama Ratu Kalinyamat, Sultan Hadliri memerintah Jepara yang merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Demak.
Sayang pernikahan Ratu Kaliinyamat dengan Sultan Hadlirin tidak berlangsung lama. Sebab Sultan Hadlirin meninggal dunia pada 1549 karena dibunuh utusan Arya Penangsang.
Setelah Sultan Hadlirin meninggal dunia, Ratu Kalinyamat menggantikan Pangeran Hadlirin menjabat sebagai Ratu Jepara.
Selama masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara terus berkembang menjadi bandar terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang banyak dan kuat.
Ratu Kalinyamat Memiliki Anak Asuh
Kepergian Sultan Hadlirin tidak meninggalkan anak. Kendati demikian Ratu Kalinyamat memiliki anak asuh. Anak asuh itu merupakan anak dari adiknya. Namanya Pangeran Timur yang kelak menjadi Adipati Madiun.
Tak hanya Pangeran Timur, Ratu Kalinyamat juga mengasuh Pengeran Arya yang merupakan putra dari Maulana Hasanuddin, Raja Banten pada 1500-an yang kelak akan memerintah.
Selain Pangeran Timur dan Pangeran Arya, Ratu Kalinyamat juga memiliki putri angkat bernama Dewi Wuryan, putri dari Sultan Cirebon.
Ratu Kalinyamat Memiliki Armada Kapal yang Kuat
Ratu Kalinyamat dikenal pandai berpotik dan pertahanan. Saat Ratu Kalinyamat memimpin, Jepara menjadi pusat pengiriman ekspedisi militer. Ratu Klainyamat pun turut memperluas kekuasaan ke Kalimantan Selatan yakni Tanjung Pura dan Lawe serta Bangka.
Pada 1573, Ratu Kalinyamat diminta Sultan Ali Mukhayat Syah dari Aceh untuk membantu mengusir Purtugis di Malaka.
Ratu Kalinyamat pun mengirim 300 kapal. 80 kapal masing-masing berbobot 400 ton. Sekitar 40 kapal diisi empat hingga lima ribu prajurit. Bisa dibayangkan betapa besar kapal yang dikirim untuk menggempur Portugis kala itu.
Tak heran, Ratu Kalinyamat disebut-sebut sebagai ratu kaya raya dan berkuasa di Jepara. Orang Purtugis menyebutnya Rainha de Japoram senhora poderosa e ricam de kranigedame, yang berarti Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkyasa, seorang perempuan pemberani.
Ratu Kalinyamat mendirikan karejaan maritim kuat dan besar. Di bawah kekuasaannya, Jepara mengalami perkembangan sangat pesat. Sebab Jepara menjadi pelabuhan terbesar di tanah Jawa serta memiliki armada laut yang besar dan kuat.
Di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat, tepatnya pada abad ke-16, Jepara menjadi daerah yang ramai. Pedagang dari Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, dan Jepara menjalin hubungan dengan pasar internasional Malaka. Rakyat Jepara juga sejahtera.
Ratu Kalinyamat Terkenal Pemberani dan Ahli Strategi Perang
Selama menjadi punguasa Jepara, Ratu Klainyamat juga dikenal seorang patriot, pemberani, dan ahli strategi perang yang andal. Ratu Kalinyamat berhasil membangun kekuatan maritim yang ditakuti penjajah.
Ratu Kalinyamat tercatat menjadi penguasa Jepara selama 30 tahun. Yakni 1549-1579 masehi.
Sejak memerintah Jepara, ratu Kalinyamat memberi perhatian penuh pada bidang militer dan politik.
Ratu memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya dalam melawan bangsa Portugis abada ke-16.
Editor : Noor Syafaatul Udhma