Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Cinta Siu Ban Ci dan Prabu Brawijaya V yang Melarang Warga Cepu Blora Mendaki Gunung Lawu, Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Noor Syafaatul Udhma • Selasa, 13 Agustus 2024 | 20:41 WIB
Ilustrasi Siu Ban Ci, selir Prabu Brawijaya V sekaligus ibu dari Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak Bintoro.
Ilustrasi Siu Ban Ci, selir Prabu Brawijaya V sekaligus ibu dari Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak Bintoro.

RADAR KUDUS – Kisah cinta memang selalu indah diceritakan, tak terkecuali kisah cinta orangtua Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak atau Kesultanan Demak.

Kisah cinta Siu Ban Ci dan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit yang melarang warga Cepu Blora dan Bojonegoro, khususnya keturunan Adipati Cepu mendaki Gunung Lawu yang berada di perbatasan Karanganyar Jawa Tengah dengan Magetan Jawa Timur memang unik dan menarik.

Prabu Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi dikenal sebagai raja di Kerajaan Majapahit itu menyukai sosok perempuan China muslim.

Siu Ban Ci diketahui putri dari saudagar sekaligus ulama Syekh Bentong sekaligus cucu dari Syekh Quro.

Syekh Bentong dan Syekh Quro memiliki peran penting dalam menyebarkan agalam Islam di Jawa.

Siu Ban Ci diperkirakan pertama kali datang ke Indonesia pada 1416 M bersama keluarganya.

Setibanya di Indonesia, ayah dan kakeknya tinggal di Karawang untuk menyebar agama di Jawa Barat.

Setelah beberapa tahun tinggal di Karawang, Syekh Bentong mengajak keluarganya pindah ke Gresik, Jawa Timur untuk menyebar agama Islam.

Prabu Brawijaya V dan Siu Ban Ci Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Saat tinggal di Gresik, Syekh Bentong atau Kiai Bentong menjadi bagian dari gerakan dakwah Sunan Ampel dan menjalin hubungan dengan Prabu Brawijaya V.

Suatu hari Syekh Bentong datang ke istana Kerjaan Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya V.

Tujuannya untuk meminta izin berdagang di wilayah Keling.

Saat menghadap itulah, Syekh Bentong membawa seserahan batu giok dari China, keramik Tiongkok, Dupa, Mutiara, dan Kain Sutra.

Tak hanya membawa seserahan, Syekh Bentong juga membawa anak gadisnya yang cantik jelita.

Gadis itu tak lain dan tak bukan Siu Ban Ci.

Prabu Brawijaya V yang melihat Siu Ban Ci lanmgsung jatuh hati pada pandangan pertama.

Bhre Kertabhumi mulai terpikat dengan Siu Ban Ci.

Diam-diam, permaisuri Kerajaan Majapahit Putri Campa cemburu menyaksikan Prabu Brawijaya V terpikat Siu Ban Ci.

Saat Putri Campa cemburu, Prabu Brawijaya V malah mengajak Syekh Bentong dan Siu Ban Ci beristirahat di Puri Kanuruhan.

Esok harinya, Syekh Bentong dipanggil untuk menghadap Prabu Brawijaya V.

Saat itulah Bhre Kertabhumi menyampaikan niatnya untuk menikahi Siu Ban Ci untuk dijadikan selir.

Syekh Bentong pun menyetujui keinginan Prabu Brawijaya V untuk meminang putrinya.

Setelah itu, Siu Ban Ci diminta menghadap Prabu Barwijaya V.

Kedatangan Siu Ban Ci ke Istana Majapahit dibawa menggunakan tandu terbaik dari Puri Kanuruhan.

Prabu Brawijaya V sangat mencintai Siu Ban Ci. Hal itu membuat Putri Campa semakin cemburu dan marah.

Dalam Babad Tanah Jawi, dikisahkan Putri Campa belum memiliki keturunan, justru Siu ban Ci justru hamil dari buah cintanya dengan Prabu Barwijaya V.

Kehamilan Siu Ban Ci semakin memperburuk hubungan antara Putri Campa dengan Prabu Brawijaya V.

Karena amarah yang membara, Putri Campa meminta Prabu Brawijaya V menceraikan Siu Ban Ci meski sedang hamil anak dari Prabu Brawijaya V.

Namun cinta Prabu Barwijaya V yang tumbuh tak bisa langsung dipadamkan.

Meski sudah diulur-ulur, akhirnya Prabu Brawijaya V tak bisa menolak permintaan permaisuri.

Siu Ban Ci akhirnya diceraikan lantas dikirim ke Palembang.

Setelah Dibuang dari Istana Majapahit, Siu Ban Ci Pindah ke Palembang

Di Palembang, Siu Ban Ci dititipkan kepada Adipati Palembang yakni Arya Damar.

Palembang masih menjadi daerah kekuasaan kerajaan Majapahit. Di wilayah tersebut banyak penduduk asal China.

Dengan menitipkan ke Arya Damar, Prabu Brawijaya V berharap Siu Ban Ci lebih betah di Palembang.

Baca Juga: SOSOK Raja Majapahit Prabu Brawijaya V yang Moksa ke Gunung Lawu: Muallaf Berkat Sunan Kalijaga

Arya Damar diketahui merupakan putra Raja Majapahit Bathara Prabu Wikramawardhana dengan seorang selir berdarah China.

Arya Damar masih terhitung masih paman dari Prabu Barwijaya yang memiliki nama Swan Liong.

Prabu Brawijaya V harus merelakan kepergian orang yang dia cintai ke Pelambang. Dia juga merelakan Arya Damar menikahi orang yang dia sayangi, tetapi dengan syarat Siu Ban Ci jangan disentuh hingga anaknya lahir ke dunia.

Prabu Brawijaya V juga meminta agar anaknya diberi nama Naraprakosa yang berarti laki-laki perkasa. Namun setelah lahir, anak tersebut diberi nama Raden Hasan atau Jin Bun.

Itulah kisah pertemuan Prabu Brawijaya V dengan Siu Ban Ci, ibu dari Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak Bintoro.

 

 

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#Raden Patah #gunung lawu #Bojonegoro Cepu #palembang #kerajaan majapahit #Adipati Cepu #cepu #Kerajaan Demak #Prabu Brawijaya V #selir #china #blora