Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harta Kekayaan dan Rekam Jejak Wakapolri Asal Blora Komjen Pol Agus Andrianto, Miliki 2 Alphard hingga Tangani Kasus Besar

Zainal Abidin RK • Kamis, 1 Agustus 2024 | 17:01 WIB
BANTU WARGA: Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto (tengah) meninjau kegiatan baksos berupa layanan fisioterapi kepada warga Blora baru-baru ini.
BANTU WARGA: Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto (tengah) meninjau kegiatan baksos berupa layanan fisioterapi kepada warga Blora baru-baru ini.

BLORA - Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Wakapolri Komjen Agus Andrianto berdasarkan laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan pada 8 Juni 2023/periodic 2022 sebesar Rp 18,9 miliar atau detailnya Rp18.969.569.025.

Diketahui, kekayaan Agus terdiri dari aset tanah dan bangunan jumlahnya 19 unit yang letaknya di beberapa daerah.

Totalnya sendiri sekitar Rp 61,4 miliar atau sekitara Rp16.479.134.446.

Menariknya Agus tak memiliki utang. 

Dalam laporannya dirinya memiliki dua unit mobil Toyota Alphard tahun 2019 dengan taksiran harga sekitar 500 juta.

Kemudian Innova G AT tahun 2016 dengan nilai sekitar Rp 160 juta.  

Selain itu, jenderal asal Blora ini, dirinya juga memiliki tiga tanah dan bangunan sekitar 420 meter persegi/306 meter persegi nilainya sekitar Rp 4 miliar di Jakarta Selatan.

Ada juga tanah dan bangunan lainnya sekitar 1.015 meter persegi/280 meter persegi. Nilainya sekitar Rp 3 miliar. 

Sementara harga bergeraknya sekitar Rp 685 juta, surat berharga Rp 900 juta, serta kas dan setara kas sekitar Rp 255 juta.

Diberitakan sebelumnya, Wakapolri asal Blora yaitu Komjen Pol. Agus Andrianto dan Kabaintelkam Polri, Komjen. Pol. Syahar Diantono pulang kampong ke Blora Jumat, 27 Juli 2024.

Kedatangannya disambut Bupati Blora Arief Rohman.

Keduanya datang naik helipad dan mendarat di Yonif 410/Alugoro Jumat (26/7/2024).

Agenda keduanya membahas perkembangan RS Bhayangkara di Kunduran, Blora. Juga melihat pembangunan Indoensia Safety Drving Center (ISDC) Korlantas Polri.

 

Profil dan Rekam Jejak Komjen Pol Agus Andrianto

Agus Andrianto sendiri lahir di Blora 16 februari 1967, di mana sejak 24 Juni menjabat sebagai wakapolri. 

Agus sendiri lulus Akpol 1989, pengalamannya di bidang reserse.

Sebagaimana jabatan sebelumnya di Kepala Badan Reserse Kriminal Polri. 

Pendidikan pertamanya di SDN Tempelan, kemudian melanjutkan di SDN 1 Blora.

Setelah lulus melanjutkan di SMAN 1 Blora. 

Agus lahir di kalangan PNS Camat. Sehingga pendidikannya cukup terjamin. 

Dia merupakan anak dari sebelas saudara.

Sementara pendidikan tinggi atau kuliah magister atau sekolah luar kedinasan sempat mengenyam pendidikan di S-2 Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. 

Pendidikan kepolisiannya dia yaitu di AKBARI 1989, PTIK 1995, SESPIM, dan SESPIMTI pada tahun 2012.

Baca Juga: Melihat Masa Kecil Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto di Blora, Rajin Beribadah hingga Pintar Menyambal

Kasus besar yang pernah ditanganinya adalah masalah penistaan agama oleh eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di tahun 2016.

Saat itu, dia masih menjabat sebagai Dirtipidum Bareskrim Polri.

Lebih keren lagi ternyata dia pernah main di dunia perfilman yaitu pada 2019. 

Akhir tahun 2023 sosok Agus menggelar pesta pernikahan anaknya Andre Azhar mempersunting Asyifa Dewi.

 Baca Juga: Cerita Wong Kanung yang Hidup di Pegunungan Lasem Rembang Ribuan Tahun Lalu, Konon Lebih Tua dari Manusia Kalang di Blora

Agus juga tercatat sebagai sosok yang gencar mensosialisasikan penggunaan produk dalam negeri di institusi Polri. 

Penghargaan lainnya adalah Bintang Bhayangkara Pratama, SL Kstaria Bhayangkara, SL Pengabdian XXIV, dan SL Operasi Kepolisian sampai pada france medal.

Kasus Besar yang Diungkap Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto 

1. Pembunuhan Hakim Jamaluddin

Pembunuhan Hakim PN Medan Jamaluddin terjadi pada tahun 2019.

Jamaluddin ditemukan tewas di dalam mobil yang terperosok ke di Dusun II Nako Rindang, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Jumat, 29 November 2019.

Saat ditemukan, jasad korban terbaring di posisi bangku belakang.

Agus Andrianto saat itu memastikan bahwa Jamaluddin menjadi korban pembunuhan.

Menurutnya, pelaku pembunuhan Jamaluddin itu juga merupakan orang dekat.

Polisi pun terus mengusut kematian Jamaluddin itu.

Sejumlah saksi, termasuk istri dari Jamaluddin juga turut diperiksa.

Namun, belum sempat mengungkap pembunuh hakim Jamaluddin itu, Agus Andrianto dimutasi untuk jabatan baru, yakni Kabaharkam Polri. Jabatan Kapolda Sumut kemudian diisi oleh Irjen Martuani Sormin.

Setelah dilakukan penyelidikan lanjutan, otak pembunuhan hakim Jamaluddin itu adalah istrinya Zuraida Hanum.

Zuraida membunuh suaminya dengan dibantu oleh dua orang eksekutor.

2. Bom Bunuh Diri Polrestabes Medan

Bom bunuh diri di Mapolresta Medan terjadi pada 13 November 2019. Bom bunuh diri itu dilakukan Rabbial Muslim Nasution.

Pria berusia 24 tahun itu masuk ke Mapolrestabes Medan dengan menggunakan jaket ojek online.

Petugas jaga sempat memeriksa jaket dan tas dari Rabbial, tapi tidak ada yang mencurigakan.

Setelah itu, dia pergi menuju halaman dekat kantin ruangan SKCK. Sekitar pukul 08.45 WIB Rabbial meledakkan bom yang dililitkannya di tubuhnya.

Atas kejadian itu, ada 23 tersangka yang ditangkap oleh Densus 88/Antiteror.

Setelah dilakukan penyelidikan, para pelaku ternyata berlatih di Kabupaten Karo. Dari penggeledahan di kediaman para tersangka juga ditemukan sejumlah senjata rakitan.

"Sampai saat ini, sudah 23 tersangka yang sudah diamankan," kata Agus Andrianto saat itu.

Dia menyebut, dari 23 orang itu tiga orang di antaranya tewas.

3. Pembunuhan Eks Caleg di Labuhanbatu

Polda Sumatera Utara (Sumut) menangkap lima orang terkait kasus pembunuhan eks caleg NasDem Maraden Sianipar dan simpatisannya bernama Martua P Siregar alias Sanjay.

Kasus ini dilatarbelakangi konflik lahan perkebunan sawit.

"Awalnya dua tersangka ditangkap oleh petugas Polres Labuhanbatu. Kemudian, tiga lainnya oleh tim Jatanras Polda Sumut. Motifnya karena masalah konflik lahan sawit di Labuhanbatu," kata Agus Andrianto saat paparan.

Jasad Maraden ditemukan di area perkebunan Dusun VI, Desa Wonosari, Panai Hilir, Labuhanbatu, pada Rabu (30/10/2019).

Sementara jasad Martua Siregar ditemukan di area perkebunan PT SAB pada Kamis (31/10).

Adapun dua pelaku, yakni VS (49) alias Pak Revi dan SH (50) alias Pak Tati, ditangkap Polres Labuhanbatu, Sementara tiga pelaku lainnya, yakni DS alias Neil ditangkap di Kabupaten Humbahas, JH ditangkap di Jamin Ginting Kabanjahe, dan WP alias Harry di Medan Polonia.

Kelima pelaku memiliki peranan berbeda dalam kasus ini.

WP alias Harry berperan sebagai penyedia uang untuk melakukan pembunuhan.
Harry merupakan pemilik kebun sawit KSU Amelia.

Harry memberi perintah kepada JH yang merupakan eksekutor pembunuhan yang juga perekrut DS alias Neil, JS, RK, dan HS.

Lalu, VS dan SH berperan menarik dan memasukkan korban ke dalam parit. Para eksekutor dibiayai mencapai Rp 40 juta untuk menghabisi nyawa korban.

 

4. Kasus Penistaan Agama Basuk Tjahaja Purnama (Ahok)

Komjen Pol Agus juga ikut terlibat dalam penanganan kasus penistaan agama yang menyeret nama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 27 September 2016.

Saat itu Ahok dilaporkan oleh sejumlah ormas ke polisi atas tuduhan penistaan agama.

Kemudian, pada 16 November 2016, Jaksa menuntut Ahok dengan hukuman penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun.

5. Kasus Ferdy Sambo

Saat menjabat sebagai Kepala Kabareskrim Agus Andrianto mengungkap Peran Ferdy Sambo dalam Pembunuhan Brigadir Joshua (J).

Komjen Pol Agus Andrianto mengungkap peran empat tersangka dalam peristiwa pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Mereka yang menjadi tersangka adalah Bharada E atau Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu (RE), Brigadir Polisi Kepala Ricky Rizal (RR), KM, dan Inspektur Jenderal Ferdy Sambo (FS)

Agus menjelaskan masing-masing peran dari empat tersangka tersebut.

Bharada E melakukan penembakan terhadap Brigadir J. Ricky Rizal dan KM diduga turut membantu dan menyaksikan penembakan Brigadir J.

“Irjen Pol FS menyuruh melakukan dan menskenario peristiwa seolah-olah terjadi peristiwa tembak-menembak di rumah dinas Irjen Pol Ferdy Sambo di Komplek Polri Duren Tiga,” tutur

Agus dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa, 9 Agustus 2022.

Menurut Agus, berdasarkan hasil pemeriksaan keempat tersangka menurut perannya masing-masing, penyidik menerapkan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55, 56 KUHP.

"Dengan ancaman maksimal hukuman mati, penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya 20 tahun,” ujarnya.

Komjen Pol Agus juga ikut terlibat dalam penanganan kasus penistaan agama yang menyeret nama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 27 September 2016.

Saat itu Ahok dilaporkan oleh sejumlah ormas ke polisi atas tuduhan penistaan agama.

Kemudian, pada 16 November 2016, Jaksa menuntut Ahok dengan hukuman penjara selama 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun.

Penyesalan Sang Jenderal

Meski sudah menyandang status sebagai orang nomor dua di Polri, hal itu tak lantas membuat Komjen Pol Agus Andrianto bahagia.

Pasalnya, putra asli Blora itu ternyata punya penyesalan mendalam selama menjadi Wakapolri.

Sebab, Komjen Pol Agus Andrianto merasa belum bisa membahagiakan sang ibunda.

Sehingga, ia merasa menyesal sekalipun sudah menjadi orang penting di kancah nasional.

Untuk diketahui, jenderal bintang tiga Polri itu merupakan anak ke-11 dari 12 saudara.

Dari 11 saudaranya itu Andri -sapaan masa kecil Komjen Agus Andrianto- terbilang paling sukses.

Meski demikian, ia punya penyesalan paling mendalam.

Penyesalan itu muncul karena meski jadi Wakapolri ia tidak sempat membahagiakan sang ibunda.

Untuk diketahui, Sang ibunda Sri Sudaryati berpulang saat sang jenderal bintang tiga itu masih menjalani pendidikan tingkat satu di Akpol 1986.

Cerita itu disampaikan langsung oleh adik bungsu Jenderal Agus Andrianto, Agus Oni Setiawan.

"Beliau (Komjen Agus Andrianto, Red) pernah bercerita kepada saya. Satu hal yang sangat disesalkan beliau adalah belum sempat membahagiakan ibu kandung kami," tambahnya.

Saat kehilangan sang ibu itu, semua anak merasa sangat kehilangan. Termasuk Komjen Pol Agus Andrianto.

Oni bercerita pada saat sang jenderal masih usia sekolah, Andri merupakan seorang yang patuh dengan kedua orang tuanya.

Setiap pagi, dialah yang bangun paling dulu, kemudian membantu ibunya untuk memasak.

Dilanjutkan dengan membantu bapaknya untuk mencuci.

"Yang paling saya ingat adalah beliau itu pribadi yang sangat rajin membantu orang tua dan ibadah," imbuhnya.

Tak hanya itu sang jenderal juga terntaya pintar menyambal.

"Beliau juga fasih dalam marut klopo (memarut kelapa) untuk bikin santan, untuk masak yang bersantan," tambahnya.

Kini, saat pulang kampung, Komjen Pol Agus Andrianto tetap menunjukkan rasa baktinya kepada sang ibunda.

Setiap pulang ia selalu berziarah ke makam almarhumah sang ibunda.

Hal itulah yang menurutnya bisa jadi menjadi kunci sukses sang kakak. Yakni kepatuhanya dan baktinya pada kedua orang tua.

"Setiap berkunjung ke kampung halaman, satu yang beliau pasti laksanakan adalah ziarah di makam orang tua," tuturnya.

Mungkin jalan beliau yang mulus itu adalah berkah dari kepatuhan beliau dengan orang tua.

Saat masih sekolah, Oni memandang bahwa perjalanan pendidikan kakak kandungnya itu juga terhitung mulus.

Sebab, yang bersangkutan tidak pernah neko-neko.

Mulai dari SD Tempelan, SMPN 1 Blora, SMAN 1 Blora, serta mendaftar di Akpol dan langsung diterima. (zen/khim)

Editor : Abdul Rokhim
#Jenderal blora #wakapolri #LHKPN #Komjen Pol Agus Andrianto #blora #Harta kekayaan #profil