BLORA - Angka pengangguran di Kota Sate mengalami penurunan 3,1 persen dibandingkan pada 2022 lalu.
Namun, warga Blora yang mangadu nasib menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran cukup banyak. Data pada awal 2024 ini sudah ada 24 orang yang berangkat ke luar negeri.
Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Blora Endro Budi Darmawan memaparkan, jumlah TKI dari Blora alami peningkatan, sedangkan angka pengangguran mengalami penurunan.
Pada 2022 sebanyak 171 orang jadi TKI, lalu pada 2023 kemarin itu datanya naik menjadi 199 orang.
"Sedangkan untuk jumlah pengangguran turun ini kami menghitung dari jumlah para pencari kerja yang ingin mendapat kartu kuning. Sebagai syarat untuk masuk ke dunia kerja. Data penurunan itu menjadi 158 ribu pada akhir tahun lalu. Daripada tahun sebelumnya yakni 164 ribu orang," ucapnya.
Dia menambahkan, tren menjadi TKI ini meningkat di Blora disebabkan oleh faktor ekonomi.
Gaji di luar negeri lebih besar daripada gaji di kota sendiri. Hal itu juga didukung dengan minimnya pabrik atau industri yang bergerak di Blora.
"Kebanyakan pekerja migran ini menjadi asisten rumah tangga, pekerja perkapalan, dan pekerja pabrik. Tercatat pada awal April ini ada 24 orang yang berangkat jadi TKI. Didominasi oleh masyarakat Kecamatan Todanan, Kedungtuban, Tunjungan, Cepu dan Japah," ujarnya.
Pihaknya masih terus berusaha untuk mengurangi angka pengangguran di Blora dengan membuka pelatihan kerja sesering mungkin. Pelatihan-pelatihan itu disediakan di balai latihan kerja (BLK) yang nantinya akan membekali para lulusan baru dalam menghadapi dunia kerja.
Ketua DPRD Blora M Dasum menyampaikan, membuka lapangan kerja masih menjadi program prioritas yang harus diselesaikan pemerintah kabupaten (Pemkab) Blora.
Aspirasi warga agar bisa memperoleh pekerjaan sudah diajukan dalam proses penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD).
"Kami selalu mendorong Pemkab jika ingin membuka investasi di Blora. Harapannya bisa berdampak pada terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat," ujarnya. (ari/khim)
Editor : Abdul Rokhim