BLORA - Tingginya harga beras selama dua bulan terakhir membuat masyarakat menjerit.
Bahkan, ada warga yang harus mengurangi pengeluaran lainnya hingga memangkas uang saku anak. Lantaran, kebutuhan beras tak bisa dikurangi.
Seorang warga Blora Sumini yang sedang membeli beras di Pasar Sidomakmur Blora menjelaskan jika tingginya harga beras selama dua bulan terakhir membuat keluarganya kesusahan.
Baca Juga: Rekapitulasi Tingkat Kecamatan Rampung, Berikut Prediksi Nama Caleg yang Lolos ke DPRD Blora
"Mahal sekali. Kami kesusahan. Harga beras, ini sembako lain ikut mahal," imbuhnya.
Pihaknya menjelaskan dalam sehari kebutuhan beras di keluarga dua kilogram.
Satu kilogram dipakai untuk dimasak guna membuat lemper dan dijual.
Sementara untuk konsumsi keluarga satu kilogram.
Karena kebutuhan membeli beras tak bisa dihemat, sebab itu kebutuhan pokok, maka sebagai solusi berhemat ia mengurangi kebutuhan lain supaya bisa mengirit.
"Kalau makan gak bisa diirit. Makannya segitu ya segitu," tuturnya.
Akhirnya pihaknya pun mengurangi uang saku anaknya selama dua bulan terakhir.
Baca Juga: Sukses Sabet Gelar Kabupaten Terinovatif, Bupati Blora Arief Rohman bakal Wujudkan Perkebunan Buah Lokal Organik, Ini Salah Satu Langkahnya
Agar pengeluaran tetap stabil. Selain itu kebutuhan sekunder lain juga dikurangi.
"Uang saku sekolah anak dikurangi. Yang lain gak penting dikurangi. Bisanya begitu agar hemat," paparnya.
Seorang penjual beras Fatonah menyebut sudah dua bulan ini harga beras naik. Sebelum naik harganya dikisaran Rp 10 ribu.
"Sementara saat naik seperti saat ini mencapai Rp 14-16 ribu untuk beras umum. Kalau yang kategori mapan super saat ini Rp 17 ribu. Dulunya sih Rp 13 ribu," tuturnya.
Meski harga mahal, menurutnya pembeli tidak berkurang. Lantaran beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Sehingga pihaknya tak berdampak.
"Mahal ya tetap laku. Pada beli, jadi ya kami nggak masalah," tuturnya.
Sementara stok beras juga aman. Sebab banyak suplai. Pihaknya membeli beras di lokalan Blora. Selain langsung ke petani juga ke penggilingan.
"Kami sih aman. Cuma pembeli itu pada komen. Kok mahal. Naik terus," tambahnya. (tos/khim)
Editor : Abdul Rokhim