BLORA - Para petani di Kabupaten Blora, Jawa Tengah (Jateng), termasuk yang berada di lereng Pegunungan Kendeng, diimbau untuk beralih ke pertanian organik.
Ini merupakan solusi atas tersendatnya distribusi pupuk bersubsidi di kawasan Blora, terlebih di kawasan hutan seperti Pegunungan kendeng.
Bahan utama pupuk organik yang merupakan kotoran hewan memang mudah didapatkan di kawasan Blora.
Tercatat ada lebih dari 285.000 hewan ternak di Blora yang rata-rata bisa menghasilkan 5.720 ton kotoran setiap harinya.
Selain karena tersendatnya distribusi pupuk organik, penggunaan kotoran hewan ini diharapkan bisa meningkatkan kesuburan lahan petani di Blora, termasuk di Pegunungan Kendeng, yang sudah mulai menurun akibat penggunaan pupuk anorganik.
"Berdasarkan uji sampel, kandungan bahan organik lahan pertanian di Blora rata-rata tinggal 1,5%," jelas Kepala Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (Dispertan) Blora, Ngaliman, seperti dikutip laman resmi Kementerian Pertanian, Oktober lalu.
terbaru, Ngaliman mengungkapkan petani di kawasan hutan seperti di lereng Pegunungan Kendeng memang tidak mendapatkan jatah pupuk bersubsidi. Sampai-sampai, petani rela tidak memupuk tanaman mereka.
Kini, petani bersama Dispertan Blora bekerja sama menyukseskan program Gerakan Sejuta Kotak Umat.
Melalui program itu, masyarakat bergotong royong membangun tempat pengumpul kotoran hewan yang kemudian diolah menjadi pupuk organik bagi para petani.
Program tersebut sudah berjalan beberapa bulan dengan pendampingan dari Dinas Pertanian Blora.
Menurut Ngaliman, para petani di Blora, termasuk di kawasan Pegunungan Kendeng cukup semangat dalam mendukung program Gerakan Sejuta Kotak Umat.
"Pemerintah daerah melalui dinas pertanian hanya membantu probiotik untuk petani. Selebihnya petani berswadaya membiayai pembutan kotak. Namun ada juga kepala desa yang tergerak membantu petaninya berupa terpal plastik," jelas Ngaliman. (*)
Editor : Kholid Hazmi