Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Pegunungan Kendeng Sekarang: Orang Samin Masih Ada!

Ali Mustofa • Jumat, 27 Oktober 2023 | 01:24 WIB
Peringatan satu abad perjuangan Samin Surosentiko yang digelar di Pendopo Pengayoman, Desa Ploso Kediren, Kecamatan Randublatung, Blora, pada Selasa (15-3-2022).
Peringatan satu abad perjuangan Samin Surosentiko yang digelar di Pendopo Pengayoman, Desa Ploso Kediren, Kecamatan Randublatung, Blora, pada Selasa (15-3-2022).

BLORA - Pegunungan Kendeng dan sekitarnya dikenal sebagai kawasan persebaran kelompok masyarakat yang disebut sebagai Orang Samin.

Hingga sekarang, Orang Samin pun masih eksis di kawasan Pegunungan Kendeng dan sekitarnya.

Orang Samin atau Sedukur Sikep adalah kelompok masyarakat yang mempunyai sesepuh bernama Eyang Buyut Samin Surosentiko.

Mereka tersebar di sekitar Pegunungan Kendeng, dari Kabupaten Pati hingga Kabupaten Blora di Jawa Tengah.

Sugiartono, tokoh masyarakat Sedulur Sikep di Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, menjelaskan sebutan Orang Samin sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Namun untuk mengelabuhi Belanda, Wong Samin mengubah identitas diri menjadi Sedulur Sikep.

"Samin itu ajaran Mbah Samin Surosentiko, makanya disebut Samin. Kalau Sedulur Sikep itu saudara yang merengkuh atau memeluk. Tapi kalau di Klopoduwur, bukan Eyang Samin, tapi Eyang Buyut Engkrek. Menurut cerita, Eyang Buyut Engkrak itu murid Eyang Samin," kata Sugiarto kepada wartawan, Kamis (6/10/2023).

Di tengah kondisi sekitar Pegunungan Kendeng sekarang yang sudah terjamah modernisasi, beberapa ajaran Sedulur Sikep masih terjaga, salah satunya gaya bicaranya yang khas, yakni seakan-akan seperti orang ngeyel dan membantah.

Gaya bicara yang khas ini tujuannya untuk melawan penjajah di zaman dahulu.

Permainan kata yang khas oleh Sedulur Sikep yang dahulu disebut Samin ini mampu menjadi strategi yang membingungkan pemerintah kolonial.

Dengan berpura-pura lugu dan berlagak bodoh, Orang Samin akhirnya mampu melawan ketidakadilan.

Di sisi lain, Sugiarto mengakui Orang Samin yang tersebar di sekitar Pegunungan Kendeng dan wilayah lain sekarang lebih terbuka.

Jika dulu ada larangan berdagang, larangan sekolah, hingga tidak mau mencatatkan pernikahan di KUA, Orang Samin sekarang sudah tidak begitu.

Pria berusia 57 tahun itu menjelaskan Orang Samin dulunya memang hanya bertani.

Namun kini, mereka ada yang bekerja di kantor-kantor hingga rumah sakit.

Di masa sekarang, Orang Samin di sekitar Pegunungan Kendeng dan wilayah lain tidak bisa lagi disebut sebagai masyarakat kuno.

Mereka adalah masyarakat modern yang tetap berpegang teguh menjaga kerukunan sesama manusia.

"Yang penting rukun, wong Jawa kan terkenal rukun karena semua saudara. Manusia hidup juga harus punya agama sebagai pegangan. Kalau enggak punya agama, ya bukan manusia itu," tegas Sugiarto. (*)

 

Editor : Ali Mustofa
#kerukunan #samin #blora #pegunungan kendeng #sedulur sikep