Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gadis Asal Blora Dikira Kecelakaan di Semarang, Ternyata Dibunuh Pacar

Ali Mustofa • Selasa, 24 Agustus 2021 | 16:15 WIB
MAHENDRA ADITYA/RADAR KUDUS
MAHENDRA ADITYA/RADAR KUDUS
BLORA – Keluarga tak menyangka kalau Silvi Ayu Nugraha meninggal karena dibunuh. Mereka mengira Silvi meninggal akibat kecelakaan. Sadisnya, gadis 23 tahun itu dibunuh dalam keadaan hamil delapan bulan.

Warga Desa Ngliron, Kecamatan Randublatung itu jadi korban pembunuhan di DJ Kost, Jalan Condrokusumo, Gisikdrono, Semarang Barat, Jumat (20/8). Dia lalu dikenal sebagai anak yang periang. Cerdas  dan aktif.

Pembunuhnya tak lain orang dekat korban. Pacar sendiri. Yaitu Agung Dwi Saputro warga Surakarta. Korban juga sempat diinjak perutnya oleh pelaku. Bahkan sebelum meninggal, korban sempat kesakitan, namun sengaja dibiarkan. Sampai akhirnya meninggal.

Alasan dibunuh, karena hubungan mereka direstui keluarga korban. Selain itu, korban tidak mau menggugurkan kandungannya. Dari hasil otopsi, diduga korban mati lemas karena adanya tekanan pada mulut.

Kemudian terdapat resapan darah di belakang kepala korban yang diduga dibenturkan ke benda keras atau tembok. Serta organ hati dari korban robek.

Supratno, Kades Jeruk, Kecamatan Randublatung mengaku, informasi awal korban mengalami kecelakaan. Namun warga baru tahu kalau korban dibunuh setelah jenazah sampai rumah duka. Dia mengaku, keluarga korban rumahnya memang ada di Desa Jeruk. Namun, mereka merupakan warga Desa Ngliron, Kecamatan Randublatung. Beda desa. Sehingga dimakamkan di Desa Jeruk.

Korban sendiri merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sekolahnya juga pindah-pindah. Dulu di SMA Randublatung. Kuliah di Semarang. Kerja sudah sekitar setahunan. Juga di Semarang.

”Infonya sudah hamil, tapi tidak disetujui orang tuanya. Belum disetujui karena (pelaku, Red) belum lulus dan belum bekerja.Usianya lebih tua korban. Laki-laki dari Solo dan usia 18 tahun,” tegasnya.

Muntono, Kades Ngliron, Kecamatan Randublatung mengaku, korban dan keluarganya memang terdaftar sebagai warga Ngliron. Tapi berdomisili di Desa Jeruk. Bapaknya pegawai Perhutani di Nganjuk, Jawa timur.

”Korban dimakamkan di Desa Jeruk. Karena belum pindah domisili, sehingga data kependudukan masih di Desa Ngliron,” ucapnya. Editor : Ali Mustofa
#pembunuhan #semarang #randublatung #blora #kriminal