MUSEUM Jenang dan Gusjigang Mubarok terus mendapat perhatian dan apresiasi dari berbagai kalangan. Baik tokoh nasional maupun tamu dari luar negeri.
Kehadiran museum ini, dinilai tidak sekadar menjadi destinasi wisata, tetapi juga ruang edukasi dan pelestarian sejarah, budaya, serta kearifan lokal Kudus.
Apresiasi dari berbagai tokoh menjadi salah satu bukti, Museum Jenang memiliki daya tarik yang semakin luas.
Sejumlah tokoh yang berkunjung memberikan perhatian terhadap konsep museum yang memadukan unsur sejarah, budaya, kuliner, pendidikan, dan pengembangan ekonomi kreatif.
Tak berhenti pada tokoh dalam negeri, Museum Jenang juga memiliki rekam jejak kunjungan dari kalangan internasional.
Dalam program Modul Nusantara misalnya, Museum Jenang menjadi salah satu tujuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Termasuk kunjungan mahasiswa dari universitas di Malaysia dan Thailand.
Museum ini juga pernah menjadi tujuan kunjungan peserta Visit Lisia dari Asia Tenggara serta rombongan Presidential Friends of Indonesia yang melibatkan peserta dari sejumlah negara, antara lain Jepang, Australia, Mesir, Korea Selatan, dan Mongolia.
Direktur Mubarokfood sekaligus Pendiri Museum Jenang dan Gusjigang Muhammad Hilmy mengatakan, apresiasi tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan museum, agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, Museum Jenang mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini menjadi amanah sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menjaga warisan budaya dan mengemasnya menjadi sarana edukasi yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Keberadaan museum juga telah mendapat pengakuan nasional. Pada September 2022, Museum Jenang Mubarok memeroleh Rekor Muri sebagai Museum Jenang Pertama di Indonesia.
Sebuah capaian yang sekaligus menjadi kebanggaan bagi Mubarokfood dan Kabupaten Kudus.
Dengan semakin luasnya apresiasi yang diterima, Museum Jenang Mubarok diharapkan dapat terus berkembang sebagai salah satu ikon wisata edukasi Kudus.
Sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat Indonesia dan dunia.
“Harapan kami, Museum Jenang bisa menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tradisi tetap dijaga, tetapi terus dikembangkan agar dapat memberikan nilai edukasi, ekonomi, dan kebanggaan bagi generasi berikutnya,” harap Hilmy. (lin)
Editor : Ali Mustofa