MUSEUM Jenang dan Gusjigang Mubarok tidak hanya hadir sebagai destinasi wisata edukasi, tetapi juga terus mengambil peran dalam mendukung dunia pendidikan.
Keberadaan museum menjadi ruang pembelajaran alternatif yang mempertemukan peserta didik dengan sejarah, budaya, kearifan lokal, serta nilai kewirausahaan secara langsung.
Melalui berbagai koleksi dan visualisasi, pelajar dapat mengenal lebih dekat sejarah jenang Kudus, perjalanan Mubarokfood dari generasi ke generasi, filosofi Gusjigang, hingga perkembangan budaya dan kehidupan masyarakat Kudus.
Pembelajaran itu, menjadi lebih menarik, karena siswa tak hanya memeroleh materi secara teori, tetapi juga dapat melihat dan mengeksplorasi berbagai koleksi secara langsung.
Museum Jenang juga terbuka bagi kunjungan sekolah, perguruan tinggi, maupun berbagai komunitas pendidikan. Kegiatan kunjungan dapat menjadi sarana learning by experience, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya dan potensi lokal.
Selain sejarah dan budaya, Museum Jenang dan Gusjigang turut mengenalkan nilai Gusjigang, yakni bagus akhlaknya, pintar ngaji, dan terampil berdagang.
Nilai tersebut, menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas, berpengetahuan, sekaligus memiliki jiwa kewirausahaan.
Sinergi dengan dunia pendidikan juga diwujudkan melalui kerja sama dan kegiatan yang berkaitan dengan Tridharma Perguruan Tinggi.
Khususnya pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Museum dapat menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa dan akademisi untuk belajar, melakukan kajian, sekaligus mengembangkan berbagai potensi budaya dan ekonomi kreatif lokal.
Direktur Mubarokfood sekaligus Pendiri Museum Jenang dan Gusjigang Muhammad Hilmy menegaskan, museum diharapkan tidak berhenti sebagai tempat menyimpan dan memamerkan sejarah.
“Museum harus menjadi ruang belajar yang hidup. Anak-anak dan generasi muda dapat mengenal sejarah, budaya, nilai perjuangan, sekaligus belajar tentang pentingnya menjaga dan mengembangkan potensi lokal,” ujarnya.
Oleh karena upaya tersebut, Muhammad Hilmy mendapatkan penghargaan Radar Kudus Award 2026 sebagai “Pelestari Kearifan Lokal dan Wisata Edukasi Terbaik”.
Penghargaan tertinggi dari media regional ini, diberikan atas kontribusi nyata beliau melalui Museum Jenang Gusjigang.
Sebab, dinilai sukses memadukan pelestarian budaya lokal Kudus dengan konsep wisata edukasi inovatif bagi masyarakat luas.
Hilmy menuturkan, penghargaan ini bukan semata-mata sebuah apresiasi bagi saya pribadi maupun Mubarokfood, tetapi menjadi bentuk penghargaan terhadap upaya bersama dalam menjaga, merawat, dan mengenalkan kearifan lokal Kudus kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kami menyam paikan terima kasih kepada Radar Kudus dan juga seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan Museum Jenang dan Gusjigang. Penghargaan ini, akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas Museum Jenang dan Gusjigang sebagai destinasi wisata edukasi yang memberikan pengalaman, pengetahuan, sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya lokal,” katanya. (lin)
Editor : Ali Mustofa