18 Tahun KBM TNI Grobogan, Membangun dari Desa untuk Kesejahteraan Warga

Intan Maylani Sabrina • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:23 WIB
AWARD: Dandim 0717/Grobogan Letkol Inf Wefri Sandiyanto saat menunjukkan piala dan penghargaan Radar Kudus Award 2026.
AWARD: Dandim 0717/Grobogan Letkol Inf Wefri Sandiyanto saat menunjukkan piala dan penghargaan Radar Kudus Award 2026.

GROBOGAN – Selama hampir dua dekade, Program Karya Bhakti Mandiri (KBM) TNI menjadi salah satu motor penggerak pembangunan di Kabupaten Grobogan. 

Program yang mengedepankan kolaborasi dan gotong royong itu telah menjangkau 181 desa sejak kali pertama dilaksanakan pada 2008.

Dandim 0717/Grobogan Letkol Inf Wefri Sandiyanto mengatakan, selama 18 tahun pelaksanaannya, KBM telah menghasilkan berbagai pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Tak tanggung-tanggung, sebanyak 82.500 meter jalan desa telah dibangun melalui program tersebut. 

Selain itu, 193 musala direhabilitasi, 269 pos kamling diperbaiki, 1.265 unit jamban dibangun, serta 13 rumah tidak layak huni (RTLH) direnovasi.

Pembangunan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada infrastruktur.

KBM juga menjadi wadah untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong yang selama ini menjadi identitas masyarakat pedesaan.

Pelaksanaan program melibatkan berbagai unsur, mulai dari personel TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga masyarakat setempat.

Tahun ini, KBM kembali dilaksanakan di 12 desa, yakni Desa Jambangan, Rejosari, Kapung, Kradenan, Suru, Guyangan, Geyer, Mojoagung, Genengadal, Kedungwungu, Suwatu, dan Teguhan.

"Seluruh rangkaian pembangunan dilaksanakan selama 30 hari pengerjaan," imbuhnya.

Adapun sasaran KBM 2026 meliputi pembangunan jalan sepanjang 3.600 meter, rehabilitasi sembilan musala, perbaikan sembilan pos kamling, serta pembangunan 45 unit jamban.

Jika dihitung sejak 2008, rata-rata setiap tahun KBM mampu menjangkau 10 desa di Kabupaten Grobogan. 

Program tersebut tak hanya membuka akses transportasi, pembangunan jalan juga berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat. 

Sementara itu, pembangunan sarana sanitasi dan rehabilitasi fasilitas umum turut meningkatkan kualitas hidup warga.

Semangat kebersamaan yang dibangun melalui KBM menjadi modal penting dalam mempercepat pembangunan di wilayah pedesaan.

Selama 18 tahun, program tersebut tidak hanya meninggalkan jejak berupa jalan yang lebih baik atau bangunan yang lebih layak. KBM juga meninggalkan warisan berupa tumbuhnya kembali budaya gotong royong di tengah masyarakat. (int)

Editor : Admin
Radar Kudus Award 2026 grobogan KBM tni