JUMI (bukan nama sebenarnya) sepertinya sudah merasa jenuh dengan Kaspo (nama samaran), suaminya.
Dia sudah tak bisa lagi bersama Kaspo, karena perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.
Ia merasa sikap Kaspo berubah seiring berjalannya masa pernikahan.
Jumi sebelumnya dikenal sebagai orang yang mudah bergaul. Ia kerap menghabiskan waktu luang bersama teman-temannya.
Hingga suatu hari, Jumi bertemu dengan Kaspo. Mereka pun saling mengenal.
Pada awal-awal penjajakan itu, Kaspo juga menunjukkan sosok yang asyik, sehingga Jumi merasa klop jika menjalin hubungan dengan Kaspo.
Jumi pun merespons pendekatan tersebut. Sampai mereka bersepakat menjalin hubungan serius.
Setelah keluarga juga cocok, mereka pun melaksanakan pernikahan.
Awalnya Kaspo tidak menunjukkan sikap yang sama saat masa perkenalan. Lelaki pilihan Jumi itu, tetap tampil sebagai pribadi yang asyik.
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, sikap tersebut seakan berubah. Kaspo selalu meminta Jumi mengikuti kemana pun ia pergi.
Dari situ, Jumi pun merasa tidak cocok. Sebab, waktu untuk berkumpul bersama teman-teman dan keluarga semakin dibatasi.
Jumi pun merasa lelah dengan perlakuan tersebut. Sebab, ia butuh waktu untuk dirinya sendiri.
Bahkan, untuk menyambangi keluarganya pun tidak leluasa. Kebiasaan itu terus berlanjut, hingga jumi merasa terkekang.
Jumi mencoba berkomunikasi dengan Kaspo, tapi tidak mendapatkan titik temu. Kaspo masih tetap pada pendiriannya.
Di sisi lain, Jumi menganggap jika suaminya itu egois. Hal ini pun menimbulkan cekcok antara mereka.
Problem ini terus berlarut. Sampai memuncak dan mereka pun memutuskan berpisah.
”Lebih leluasa seperti ini (berpisah dengan Kaspo, Red)," ujar Jumi. Ia merasa lebih lega dengan keputusan tersebut, karena memiliki waktu yang lebih leluasa. (vah/lin)
Editor : Ali Mustofa