Sebagai seorang suami, dirinya dianggap gagal. ”Lha wong suami kok gak bisa menafkahi kebutuhan istrinya to, Mas. Masak apa-apa saya yang keluar uang,” ujar Parni ketus.
Sebelumnya, sikap Parni tidak begitu. Menurut Parno, istrinya dulu orang yang neriman. Cenderung manut apa kata suami. ”Tapi nggak tahu, Mas. Semenjak kerja (di perusahaan garmen), dia sekarang sering belanja-belanja gitu. Sama teman-temannya,” terang Parno memelas.
Maklum, Parni yang kerja di perusahaan punya penghasilan tetap dan terjamin. Sementara Parno, hanya tukang mebel yang pendapatannya harian.
Dengan kenyataan itu, Parno harus rela ditinggalkan istrinya. ”Biar bagaimana pun dia juga berhak bahagia. Saya juga bahagia kalau dia bahagia. Bila memang ini yang terbaik, agar dia bahagia. Saya ikhlas,” kata Parno sambil terisak usai mengikuti sidang perceraiannya baru-baru ini. (lin) Editor : Ali Mustofa