
Jakarta - Gelombang eksodus talenta digital tingkat tinggi di sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memicu kepanikan massal di bursa saham Wall Street.
Raksasa teknologi Google baru saja mencatatkan hari terburuknya di pasar modal dalam lebih dari satu tahun terakhir setelah saham perusahaan induknya, Alphabet, ditutup merosot tajam sekitar 5% pada perdagangan Senin waktu Amerika Serikat.
Penurunan ini menjadi rapor merah paling ekstrem bagi Alphabet sejak menderita kejatuhan saham hingga 7% pada Mei 2025 lalu.
Anjloknya nilai kapitalisasi pasar ini dipicu oleh hengkangnya dua ilmuwan AI paling berpengaruh di Google ke perusahaan kompetitor, tepat di tengah ketatnya persaingan produk kecerdasan buatan global.
Eksodus Dua Otak di Balik Teknologi Gemini dan AlphaFold
Kekhawatiran para investor memuncak menyusul pengumuman mundurnya Noam Shazeer selaku Wakil Presiden Teknik Google sekaligus salah satu pimpinan proyek AI Gemini.
Kurang dari dua tahun sejak kembali ke Google lewat kemitraan dengan startup Character.AI pada Agustus 2024, Shazeer memutuskan untuk menyeberang ke OpenAI.
Kepergian ini dinilai ironis karena terjadi hanya beberapa minggu setelah Google memamerkan lini AI teranyarnya, Gemini 3.5 Flash dan agen AI Gemini Spark, dalam ajang tahunan Google I/O.
Tak lama berselang, pukulan telak kembali menghantam unit Google DeepMind.
John Jumper selaku Vice President DeepMind mengumumkan pengunduran dirinya setelah sembilan tahun mengabdi demi bergabung dengan Anthropic.


