Kisahnya berlanjut meski kegiatan telah usai. Keduanya saling tukar nomor whatsapp, intens berkomunikasi, semakin dekat. Habib terlebih dahulu menyampaikan rasa dan ketertarikannya kepada Habibati. Habibati juga mengaku tertarik dengan paras Habib, karakter pribadinya yang serba bisa menjadikan Habibati kecantol.
Hari terus berlalu, romantisme semakin kuat. Tiga tahun berjalan, banyak yang tidak menyangka akan perubahan yang dialami Habibati. Habib berhasil merubah karakter pujaannya yang semula kolot, jalan nyeret, suka bicara kotor, pecicilan hingga tak mau kuliah menjadi pribadi yang rajin dan ramah. Keduanya semakin lengket, meski jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
Kondisi berat dialami Habib. Kariernya menjadi seorang jurnalis baru merangkak, perekonomian belum stabil, dan harus menuntaskan studi di perguruan tinggi. Sementara Habibati sementara itu masih menanti Habib untuk menghadap orang tuanya.
Keretakan-keretakan dalam jalinan cinta hanya dianggap sepele, mereka berusaha berpikir dewasa. Sebenarnya Habib berniat meminang Habibati untuk dihalalkan. Hanya saja ia masih meniti karier sembari menyiapkan modal menikah. Apalagi, sudah banyak pengeluaran dana untuk pernikahan Kakak Habib. Dia yang juga berposisi sebagai kepala keluarga mesti memutar otak untuk menabung kembali.
Di saat yang bersamaan, muncul orang ketiga bernama Agam yang mencoba menikung Habibati. Langkah Agam lebih taktis. Membawa orang tuanya ke rumah orang tua Habibati dengan maksud untuk meminangnya.
Habibati yang merupakan anak penurut tak bisa mengelak. Kedua belah pihak orang tua bertemu dan langsung mendiskusikan untuk menentukan tanggal pernikahan. Rasa bimbang dan resah sebenarnya masih membayangi Habibati. Dia masih berharap bahwa Habib lah yang datang meminangnya.
"Saya sebenarnya sudah berjanji akan melamarnya setelah kakak saya menikah. Tapi sepekan sebelum pernikahan kakak, Habibati sudah dilamar Agam dan tak bisa menolaknya," ungkap Habib dengan penuh sesal.
Keputusan Habibati untuk menerima pinangan agam juga bukan tanpa alasan. Beberapa teman seumuran di desanya sudah pada menikah. Ayahnya juga tak ingin anak perempuannya itu menjadi perawan tua. Sehingga pernikahan Habibati dan Agam pun berlangsung, meninggalkan Habib yang sedang bekerja keras meniti karir. (cha/him) Editor : Ali Mustofa