REMBANG – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Rembang kini tengah menjadi sorotan tajam setelah munculnya laporan mengenai kualitas makanan yang dinilai tidak layak konsumsi.
Berdasarkan rekaman video yang beredar, ditemukan banyak ulat (set) yang masih hidup dan menggeliat di dalam menu bubur kacang hijau yang disajikan kepada siswa.
Temuan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pendidik dan orang tua murid karena dinilai sebagai ancaman serius bagi keselamatan dan kesehatan anak-anak sekolah.
Laporan bermula dari keluhan orang tua siswa di beberapa TK di Lasem yang menemukan larva atau ulat dalam paket makanan tambahan mereka.
Dalam bukti video yang diterima, terlihat seseorang mengaduk bubur kacang hijau dengan sendok dan menunjukkan banyaknya ulat berukuran kecil yang tercampur merata dalam makanan tersebut.
Kabar ini pun segera sampai ke meja PGRI melalui pesan berantai yang menunjukkan keresahan mendalam para wali murid, yang menegaskan bahwa program pemerintah ini seharusnya dijalankan dengan standar kualitas tinggi dan bukan sekadar "asal saji".
“Ngapunten Bapak Ibu Ngapunten Bu Isti dan Ketua PGRI Cabang Lasem. Dapat WA dari teman yang putrane sekolah di TK Aisyiyah Sumber Girang dan SD Aisyiyah Lasem. Mohon untuk pendampingan terkait MBG disana. Karena ini terkait nyawa anak bangsa,” ungkap pengunggah video.
Merespons temuan visual yang sangat memprihatinkan tersebut, perwakilan PGRI mendesak Satgas MBG Kabupaten Rembang dan Dindikpora melalui PIC terkait untuk segera melakukan tindakan nyata di lapangan.
Koordinasi serius antarinstansi sangat diharapkan agar masalah ini tidak berlarut-larut dan tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
PGRI Cabang Lasem juga diminta melakukan pendampingan khusus di sekolah-sekolah terdampak guna memastikan pengawasan ketat terhadap setiap vendor penyedia makanan yang ditunjuk.
Selain masalah higienitas yang terlihat jelas dalam video, masyarakat juga mulai menyoroti penggunaan anggaran pendidikan yang dialihkan untuk program ini namun menghasilkan kualitas konsumsi yang buruk.
”Anggaran pendidikan dialihkan jadi MBG malah dadi koyok ngene,” ujar anggota grup mengomentari temuan tersebut. (ali)
Editor : Ali Mustofa