Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Di Balik Diskualifikasi PSIR: Sepak Bola dan Politik Emosi

Ali Mahmudi • Senin, 16 Februari 2026 | 14:12 WIB

 

Rudy Heryanto, M.A. Pemerhati Komunikasi Publik Alumni Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM (Pandangan pribadi penulis)
Rudy Heryanto, M.A. Pemerhati Komunikasi Publik Alumni Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM (Pandangan pribadi penulis)

DISKUALIFIKASI PSIR Rembang dari Liga 4 Jawa Tengah bukan sekadar putusan disiplin. Ia adalah peristiwa sosial yang memantik emosi kolektif.

Sepak bola di Rembang bukan hanya kompetisi. Ia adalah identitas.

Ketika klub dihukum, yang terdampak bukan hanya manajemen, tetapi juga harga diri komunitas yang merasa menjadi bagian dari tim tersebut.

Di sinilah kita melihat bagaimana sepak bola bersinggungan dengan politik emosi.

Krisis dan Atribusi Tanggung Jawab

Dalam Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh W. Timothy Coombs, publik tidak sekadar bereaksi terhadap krisis.

Mereka melakukan proses yang disebut atribusi tanggung jawab. Publik menilai siapa yang dianggap paling bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Semakin tinggi atribusi tanggung jawab diarahkan kepada suatu pihak, semakin besar pula ancaman terhadap reputasi dan semakin kuat tuntutan publik terhadap transparansi dan keadilan.

Dalam konteks PSIR, sebagian publik Rembang tidak hanya membaca keputusan sebagai pelanggaran regulasi.

Mereka memaknainya sebagai peristiwa yang menyentuh identitas daerah. Karena itu, respons emosional muncul lebih cepat dibandingkan penjelasan formal.

Ini bukan semata soal aturan. Ini soal rasa memiliki.

Di sinilah komunikasi krisis menjadi krusial. Tanpa penjelasan yang empatik, terbuka, dan proporsional, publik akan membangun narasinya sendiri.

Dan dalam situasi penuh emosi, narasi alternatif sering kali lebih cepat menyebar dibanding klarifikasi resmi.

Klub sebagai Simbol Identitas Sosial

Teori Social Identity yang diperkenalkan oleh Henri Tajfel dan dikembangkan bersama John Turner menjelaskan bahwa individu membentuk sebagian harga dirinya melalui keanggotaan dalam kelompok sosial (in-group).

Dalam konteks ini, PSIR bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah simbol “kita”. Ia merepresentasikan kebanggaan lokal, sejarah, dan rasa kebersamaan.

Ketika simbol itu dikenai sanksi, solidaritas internal cenderung menguat. Anggota kelompok akan mempertebal batas antara “kita” dan “mereka”.

Ini adalah mekanisme psikologis yang wajar dalam dinamika identitas sosial.

Namun di tengah situasi emosional itu, penting untuk tetap jernih membedakan tindakan individu dengan komunitas secara keseluruhan.

Sejumlah dokumentasi pertandingan dan laporan lapangan menunjukkan bahwa tidak semua suporter terlibat dalam kericuhan.

Kelompok RBG 12 Curva Nord di tribun utara, misalnya, tetap berada di posisinya dan tidak turun ke lapangan.

Detail semacam ini penting. Karena dalam krisis, generalisasi berlebihan dapat memperluas luka sosial dan memperdalam polarisasi.

Regulasi dan Kedewasaan Ekosistem

Sepak bola membutuhkan aturan untuk menjaga legitimasi kompetisi.

Tanpa regulasi, kepercayaan publik terhadap hasil pertandingan akan runtuh.

Namun penegakan aturan di tengah tekanan emosional membutuhkan komunikasi yang matang.

Dalam perspektif komunikasi krisis, tujuan bukan hanya menjatuhkan sanksi, tetapi juga menjaga kepercayaan publik terhadap sistem.

Jika kepercayaan hilang, yang rusak bukan hanya satu klub. Yang terancam adalah ekosistem sepak bola daerah itu sendiri.

Politik Emosi dalam Sepak Bola Daerah

Dalam kajian komunikasi politik kontemporer, emosi dipahami sebagai bagian penting dalam pembentukan opini publik.

Ruang publik tidak pernah sepenuhnya rasional. Ia selalu dipengaruhi oleh rasa, pengalaman kolektif, dan simbol-simbol identitas.

Sepak bola daerah menyimpan energi kebanggaan yang besar. Ketika krisis terjadi, emosi menjadi bahasa utama.

Tantangannya bukan menghapus emosi. Itu mustahil.

Tantangannya adalah mengelolanya agar tidak berubah menjadi polarisasi destruktif.

Apakah peristiwa ini akan memperdalam sekat sosial?

Ataukah menjadi momentum refleksi untuk memperkuat tata kelola, manajemen pertandingan, dan edukasi suporter?

Jawabannya sangat bergantung pada cara semua pihak berkomunikasi.

Pada akhirnya, krisis seperti ini menunjukkan bahwa olahraga tidak pernah berdiri sendiri.

Ia selalu terkait dengan komunikasi publik, persepsi, dan identitas sosial masyarakatnya.

Karena itu, pengelolaan emosi kolektif menjadi sama pentingnya dengan penegakan regulasi.

Sepak bola daerah akan tumbuh bukan hanya karena prestasi di lapangan, tetapi karena kedewasaan dalam merespons setiap ujian.

Diskualifikasi ini mungkin menyakitkan. Tetapi cara meresponsnya akan menentukan masa depan.

Sepak bola bukan hanya tentang skor akhir. Ia tentang karakter kolektif.

Dan dalam politik emosi seperti ini, yang paling menentukan bukan seberapa keras kita bersuara, melainkan seberapa dewasa kita menjaga marwah.(*/ali)

Editor : Ali Mustofa
#Stadion Krida Rembang #Kominfo Rembang #sporter bobotoh #PSIR Rembang VS Persak Kebumen