REMBANG — Indikasi adanya anggaran ganda pada layanan internet di lingkungan kantor dinas Pemkab Rembang mencuat.
Ternyata selama dua tahun anggaran (2024–2025), Pemda melalui Dinkominfo telah mengucurkan anggaran sebesar Rp1,6 miliar.
Sementara dinas-dinas lain tetap melakukan langganan mandiri.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus. Tahun 2024 Dinas Komunikasi dan
total anggaran mencapai Rp804 juta, dengan rincian IndiHome untuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD), 14 kecamatan, dan CBFM sebesar Rp348 juta.
Mainstream ISP Data Center (termasuk Mainstream + IP Transit) sebesar Rp336 juta; serta Backup ISP Data Center sebesar Rp120 juta.
Sementara itu, untuk tahun 2025, anggaran meningkat menjadi Rp819 juta, meliputi IndiHome untuk OPD, 14 kecamatan, dan CBFM sebesar Rp342 juta.
Mainstream ISP Data Center (termasuk Mainstream + IP Transit) sebesar Rp357 juta; dan Backup ISP Data Center tetap Rp120 juta.
Anggaran ini dialokasikan untuk mendukung layanan pusat data (data center) yang mencakup aplikasi, situs web (website), upstream CCTV, dan layanan kependudukan, dengan konsep standar yang mengharuskan adanya dua Penyedia Jasa Internet (ISP).
Yaitu utama dan cadangan (backup), untuk memastikan ketersediaan layanan tanpa gangguan, sesuai praktik umum dalam pengelolaan infrastruktur TI (IT) pemerintahan.
Di luar anggaran pusat Dinkominfo, hampir semua dinas di Kabupaten Rembang dilaporkan memiliki langganan internet berbayar sendiri, dengan tagihan bulanan yang bervariasi mulai dari Rp300.000,00 hingga Rp600.000,00 per bulan.
Bahkan di lingkungan kantor dinas bupati, langganan internet mencapai Rp9,5 juta per bulan per dinas.
Dikonfirmasi soal anggaran tersebut, Kabid Tata Kelola Layanan Informasi pada Dinkominfo Rembang, Muntohar membenarkannya.
Namun, ia mengoreksi terminologi yang digunakan dalam pemberitaan.
“Angka benar, tapi konsep internet terpusat itu yang menyebut sebenarnya kurang tepat, karena programnya juga tidak seperti itu,” ujar Muntohar.
Saat ditanya mengenai sejak tahun berapa program internet dengan anggaran sekitar Rp800 juta per tahun itu, ia memperkirakan sekitar 2019-2020-an.
“Mungkin 2019 atau 2020-an ya,” tambahnya. (ali)
Editor : Ali Mustofa