REMBANG – 61 sekolah SMP di Kabupaten Rembang Senin lalu (2/6) serentak mengumumkan kelulusan anak didiknya.
Terkonfirmasi ada 4 sekolah yang tidak 100 persen kelulusanya di tahun ajaran ini.
Dinas Pendikan, Pemuda dan Olahraga (Dindikpora), Rembang sudah konfirmasi. Sebaliknya sekolah juga sudah melaporkan dinas.
Didapatkan anak tersebut sudah tidak berminat melanjutkan ke sekolah atau jenjang lebih tinggi.
Guru, kepala sekolah, guru BK, wali kelas sudah berupaya. Pendekatan secara humanis sudah dilakukan.
Kemudian mengirimkan surat undangan ke orang tua, termasuk kunjungan ke rumah siswa lebih 3 kali.
Ternyata anak tidak berkeinginan lagi melanjutkan sekolah. Sudah sekira satu semester. Sekolah pun sudah menyarankan pindah sekolah.
Mereka di sarankan ke pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Namun yang bersangkutan tetap tidak mau.
Terakhir di jumpai anak ada yang sudah bekerja ikut miyang, selain dipicu permasalahan keluarga.
Kabid Pembinaan SMP, pada Dindikpora Rembang, Isti Choma Wati saat dikonfirmasi membenarkan semua sekolah sudah laporan kelulusan.
Hingga selasa (3/6) seluruh sekolah SMP di Kabupaten Rembang sudah lengkap.
”Dari 61 SMP, 6000 ribu siswa kelas IX diantaranya 4 yang tidak lulus. Bisa saya konfirmasi ke sekolah-sekolah tersebut. Intinya permasalahan tidak berasal dari sekolah,” penekanan Isti kepada Jawa Pos Radar Kudus.
4 siswa yang tidak lulus bukan karena nilai. Bukan karena kehadiranya. Bukan karena perilaku keseharian.
Tetapi kebanyakan dari pola asuh di rumah. Diantaranya ada anak yang bapak dan ibunya pisah alias broken home (keluarga tidak utuh).
”Bapaknya sudah berkeluarga dengan orang lain di luar kota. Sementara ibunya tidak tahu posisinya dimana hingga saat ini. Selama ini diasuh oleh mbahnya. Pola asuh ini juga ikut menentukan berhasil tidaknya anak,” evaluasinya.
Memang sekuat apa mengajar di sekolah, tetapi tidak didukung parenting (mengasuh anak) di rumah korbanya anak.
Untuk yang anak kedua pun sama. Keluarganya juga broken home. Bapak dan ibunya pisah.
“Anaknya diajak bapaknya ke luar jawa sebelum menyelesaikan rangkaian ujian. Sebetulnya anak ingin sekolah. Cuma di paksa bapaknya ke luar jawa akhirnya tidak selesai,”kata Isti saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus.
”Kasihan. Kita ke sekolah-sekolah itu. Dan mengundang komite dan perwakilan orang tua kita adakan sosialisasi sistem perlindungan anak,” perhatiannya.
Ketiga anak sudah kenal uang. Sudah bekerja. Ikut miyang. Dan satunya hampir sama permasalahan dari keluarga.
Dari empat sekolah sudah ditanya semua. Apakah mengarahkan anak-anak tetap melanjutkan sekolah ke pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).
Semua sekolah menjawab sudah dirayu dan daftarkan. Tetapi tidak mau, kecuali yang diajak bapaknya. Upaya sekolah sudah sedemikian.
Ada bukti kunjungan. Bukti pembinaan. Hingga saat ini yang didapatkan dari kepala sekolah. Bahkan ada yang ke kantor Dindikpora langsung. (Wisnu Aji)
Editor : Ali Mustofa