alexametrics
31 C
Kudus
Saturday, June 4, 2022

Akibat Gelombang Pasang, Puluhan Kapal di Dermaga Tasikagung Rembang Ambyar

REMBANG – Dampak ROB di Kabupaten Rembang meluas. Tak hanya merusak perumahan dan fasilitas umum (fasum), tapi juga kapal eks cantrang. Kapal-kapal besar itu, saling bertabrakan saat bersandar di dermaga pelabuhan Tasikagung Kamis (26/5) sore, akibat badai gelombang pasang.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus kemarin (27/5), puluhan kapal itu bersandar di bagian barat dermaga Pelabuhan Tasikagung. Kapal jaring tarik berkantong (JTB) itu, sempat terpontang-panting diterjang badai. Seperti yang beredar dalam video amatir warga yang dibagikan ke media sosial (medsos). Kapal-kapal ukuran besar itu, terlihat rusak berat dengan lambung kapal pecah saat kondisi hujan dan gelombang laut tinggi.

Di tengah guyuran hujan, para penjaga mengamankan kapal masing-masing. Ada yang menambah tali jangkar. Sebab, banyak yang tergeser. Badai mulai melandai sore menjelang petang. Kemarin pagi, kondisinya sudah tenang.


Kemarin, tampak para tukang dan anak buah kapal (ABK) memperbaiki kapal. Mereka membawa peralatan gergaji, mesin serut kayu, dan peralatan tukang lain. Sedangkan di sisi utara ada juga dua kapal kecil menepi. Ada yang melakukan penyelaman. Mencari jangkar yang sempat tergeser.

Satu kapal ada yang mengerahkan lima hingga belasan tukang. Tergantung kerusakannya. Mereka mengganti beberapa kayu merbau yang berasal dari Kalimantan itu.

Muklis, salah satu warga Tasikagung yang berada di lokasi menyampaikan, Kamis (25/5) lalu hujan turun di Tasikagung sejak siang hari. Sekitar pukul 12.00 ombak semakin kencang. Puncaknya sekitar pukul 15.00. ”Kondisi ini paling parah sepanjang musim timuran di tahun ini,” katanya.

Baca Juga :  Kejar Deadline, Proyek Mal Publik Rembang Tambah Tenaga

Dia menambahkan, saat ini para nelayan tidak melaut karena masih memperbaiki kapal. Sebagian juga masih menunggu kelengkapan surat. ”Apalagi prakiraan cuaca dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) kondisi cuaca beberapa hari ke depan masih sama (berpotensi badai),” imbuhnya.

Para tukang dan ABK memperbaiki kapal eks cantrang yang rusak kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Sementara itu, Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polres Rembang gerak cepat menyikapi puluhan kapal yang ambyar itu. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 1,8 miliar. Kepala Satpolair Polres Rembang AKP Sukamto mengungkapkan, jumlah kerugian itu belum termasuk kapal-kapal kecil.

Selain di Pelabuhan Tasikagung di pesisir daerah Rembang lain, juga banyak kapal rusak. Bahkan tenggelam. ”Kapal di pantai Sarang sampai Tayu yang rusak ada sekitar 20 unit,” jelasnya.

Kepala Unit Penegakan Hukum (Kanit Gakkum) Satpolair Polres Rembang Aipda Muhamad Subhkan menjelaskan, Kamis (26/5) pagi lalu sudah ada peringatan cuaca buruk dari kantor Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung.

Ketika peristiwa berlangsung terjadi angin kencang dan hujan. Mengakibatkan kapal berbenturan. Setelah didata ada sekira 25 kapal yang rusak. Kapal-kapal itu, ukuraannya mulai 30 gross tonnage (GT) sampai 102 GT.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang Fahrudin menyampaikan, rob dan gelombang tinggi merupakan bencana. Pemkab akan membantu kepada masyarakat yang kena musibah itu, sesuai prosedur.

”Nanti sifat bantuan sesuai kemampuan keungan daerah. Nanti setelah bencana, juga akan dianggarkan untuk pencegahan. Sebagai antisipasi jika peristiwa seperti itu terulang,” ujarnya. (noe/lin)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Dampak ROB di Kabupaten Rembang meluas. Tak hanya merusak perumahan dan fasilitas umum (fasum), tapi juga kapal eks cantrang. Kapal-kapal besar itu, saling bertabrakan saat bersandar di dermaga pelabuhan Tasikagung Kamis (26/5) sore, akibat badai gelombang pasang.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus kemarin (27/5), puluhan kapal itu bersandar di bagian barat dermaga Pelabuhan Tasikagung. Kapal jaring tarik berkantong (JTB) itu, sempat terpontang-panting diterjang badai. Seperti yang beredar dalam video amatir warga yang dibagikan ke media sosial (medsos). Kapal-kapal ukuran besar itu, terlihat rusak berat dengan lambung kapal pecah saat kondisi hujan dan gelombang laut tinggi.

Di tengah guyuran hujan, para penjaga mengamankan kapal masing-masing. Ada yang menambah tali jangkar. Sebab, banyak yang tergeser. Badai mulai melandai sore menjelang petang. Kemarin pagi, kondisinya sudah tenang.

Kemarin, tampak para tukang dan anak buah kapal (ABK) memperbaiki kapal. Mereka membawa peralatan gergaji, mesin serut kayu, dan peralatan tukang lain. Sedangkan di sisi utara ada juga dua kapal kecil menepi. Ada yang melakukan penyelaman. Mencari jangkar yang sempat tergeser.

Satu kapal ada yang mengerahkan lima hingga belasan tukang. Tergantung kerusakannya. Mereka mengganti beberapa kayu merbau yang berasal dari Kalimantan itu.

Muklis, salah satu warga Tasikagung yang berada di lokasi menyampaikan, Kamis (25/5) lalu hujan turun di Tasikagung sejak siang hari. Sekitar pukul 12.00 ombak semakin kencang. Puncaknya sekitar pukul 15.00. ”Kondisi ini paling parah sepanjang musim timuran di tahun ini,” katanya.

Baca Juga :  Dua Tahun Vakum, Kampung Ramadan Rembang kembali Digelar

Dia menambahkan, saat ini para nelayan tidak melaut karena masih memperbaiki kapal. Sebagian juga masih menunggu kelengkapan surat. ”Apalagi prakiraan cuaca dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) kondisi cuaca beberapa hari ke depan masih sama (berpotensi badai),” imbuhnya.

Para tukang dan ABK memperbaiki kapal eks cantrang yang rusak kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Sementara itu, Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polres Rembang gerak cepat menyikapi puluhan kapal yang ambyar itu. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 1,8 miliar. Kepala Satpolair Polres Rembang AKP Sukamto mengungkapkan, jumlah kerugian itu belum termasuk kapal-kapal kecil.

Selain di Pelabuhan Tasikagung di pesisir daerah Rembang lain, juga banyak kapal rusak. Bahkan tenggelam. ”Kapal di pantai Sarang sampai Tayu yang rusak ada sekitar 20 unit,” jelasnya.

Kepala Unit Penegakan Hukum (Kanit Gakkum) Satpolair Polres Rembang Aipda Muhamad Subhkan menjelaskan, Kamis (26/5) pagi lalu sudah ada peringatan cuaca buruk dari kantor Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung.

Ketika peristiwa berlangsung terjadi angin kencang dan hujan. Mengakibatkan kapal berbenturan. Setelah didata ada sekira 25 kapal yang rusak. Kapal-kapal itu, ukuraannya mulai 30 gross tonnage (GT) sampai 102 GT.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang Fahrudin menyampaikan, rob dan gelombang tinggi merupakan bencana. Pemkab akan membantu kepada masyarakat yang kena musibah itu, sesuai prosedur.

”Nanti sifat bantuan sesuai kemampuan keungan daerah. Nanti setelah bencana, juga akan dianggarkan untuk pencegahan. Sebagai antisipasi jika peristiwa seperti itu terulang,” ujarnya. (noe/lin)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/