alexametrics
25.2 C
Kudus
Tuesday, May 24, 2022

Paket Buku Plus CD Panduan Guru Digital Tematik Tuai Sorotan

REMBANG – Pengadaan paket CD (Compact Disc) plus buku panduan guru digital tematik jenjang SD menuai sorotan. Selain dianggap kurang efektif. Hingga kemarin paket buku digital itu belum bisa diterapkan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus paket CD dan buku panduan guru itu dibanderol Rp 4.080.000 per SD. Sementara harga per mata pelajaran dalam satu keping CD dihargai Rp 120 ribu. Ini digunakan media pengajaran K13 guru sekolah untuk semester I dan 2 2020-2021, daring 2 semester.

Dari data yang dihimpun nyaris semua SD di Kota Garam telah memesan paket itu. Pembayarannya melalui Virtual Account lewat salah satu bank milik pemerintah. Informasi yang dihimpun koran ini di lapangan hingga kemarin penggunaan CD tersebut belum ada sosialisasi sama sekali.


Seorang guru Matematika di Kecamatan Sarang mengaku paket CD pembelajaran itu ia terima belum lama ini. Namun saat hendak diaplikasikan pada anak-anak didiknya ternyata CD tak bisa dibuka. ”Ada yang tidak bisa dibuka. Sementara yang bisa dibuka materi tidak bisa dicopy untuk tugas anak-anak. Akhirnya saya bikin materi sendiri,” ungkap pria 39 tahun itu.

Ia mengaku kurang tau persis berapa harga paket CD itu. Sebab semua dibelikan sekolah. ”Pakai dana BOS kayaknya. Karena CD itu panduan guru,” ujarnya.

Sementara soal paket CD tersebut menurutnya terlalu dipaksakan. Terlebih di internet materi pembelajaran juga banyak yang bisa di-Download. Banyak guru-guru yang akhirnya memilih cari di internet dan di aplikasi. “Apalagi kabarnya mau PTM (pembelajaran tatap muka),” imbuhnya.

Data Jawa Pos Radar Kudus jumlah SD sederajat di Kabupaten Rembang ada 423 sekolah. Untuk yang SD ada 375 sekolah, negeri 363 dan swasta 12 sekolah. Untuk MI ada 48, negeri 2 dan swasta 46.

Sementara itu di sejumlah SD di Kota Rembang hingga kemarin sama sekali belum menerapkan paket CD pembelajaran tersebut. Salah satunya di SDN Turusgede, Rembang. Kepala sekolah SD Turusgede, Sri Sulamiati mengaku baru akan sosialisasi terkait program.

”Kita juga ngikut, sudah pesan. Tinggal ada sosialisasinya,” ujarnya.

Terkait penerapan rencana SD. Ia mengaku belum ada sosialisasi. Sehingga belum bisa membuka.” Ada passwordnya. Harapan kami sekolah punya fi le.

Baca Juga :  Renovasi Rumah Singgah di Rembang Dikucuri Setengah Miliar

Biar anak juga bisa membuka. Karena teknis di dalam tidak tahu. Apakah ada berapa jenis total bukunya. Mungkin bisa diakses seperti internet,” bebernya.

Ia mengaku masih tetap menggunakan buku cetak untuk referensi. ”Mungkin banyak ribuan judul buku. Itu juga buat perpustakaan juga.

Mungkin ada cerita fiksi dan nonfiksi. Saya belum tahu, hanya dengar-dengar banyak,” keteranganya.

Lebih lanjut soal efektifitasnya. Ia mengaku belum bisa mengukurnya. Namun jika bisa dimanfaatkan secara bijak tentu efektif. “Sayangnya di lapangan ada juga guru yang usianya sudah sepuh. Untuk yang muda tentu bisa menyesuaikan. Namun dengan telaten akhirnya bisa menyesuaikan seperti pembelajaran via video,” ujarnya.

Soal sumber anggaran untuk pembelian buku memanfaatkan bantuan operasional sekolah (BOS). “Sebentar lagi ada mau pertemuan. Semoga bisa bermanfaat,” imbuhnya.

Sementara itu Kasi Kurikulum Penilaian SD, pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dindikpora), Muhammad Basroh disinggung soal buku digital tematik dinas kurang tau pasti. Sebab untuk pengadaan menyerahkan penuh sekolah. Karena yang tahu persis kondisi lingkungan masing-masing.

”Sebenarnya sudah. Yang mau beli beli, begitupun sebaliknya. Jadi tidak wajib. Seperti terbitan Erlangga yang beredar di SD ada barcode sama. Jadi terkait digitalisasi dan era sekarang semua serba digital, dikembali kan kemampuan dan kondisi sekolah masing-masing.

Karena tidak semua sekolah sarprasnya tercukupi. Apalagi yang pinggiran. Kaitanya dengan signal, sebab ada pegunungan dan daratan. Namun alhamdulilah pendataan TI untuk persiapan assessment nasional juga bagus Rembang,” bebernya.

Terkait pengadaan buku digital merupakan programnya pusat dan muncul di juknis BOS. Jadi sekolah bisa beli digital dengan dana BOS. “Kami yang di dinas tidak boleh misalnya harus beli. Makanya sekolah diberikan kebebasan. Ketika beli alasan apa, begitupun sebaliknya,” imbuhnya.

Soal teknis tersebut Basroh tidak tahu detailnya. Karena kalau BOS sudah urusan sarpras. Lebih -lebih terkait harga juga belum tahu. Termasuk apakah sekolah harus ambil dalam bentuk paket atau bisa ecer.






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Pengadaan paket CD (Compact Disc) plus buku panduan guru digital tematik jenjang SD menuai sorotan. Selain dianggap kurang efektif. Hingga kemarin paket buku digital itu belum bisa diterapkan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus paket CD dan buku panduan guru itu dibanderol Rp 4.080.000 per SD. Sementara harga per mata pelajaran dalam satu keping CD dihargai Rp 120 ribu. Ini digunakan media pengajaran K13 guru sekolah untuk semester I dan 2 2020-2021, daring 2 semester.

Dari data yang dihimpun nyaris semua SD di Kota Garam telah memesan paket itu. Pembayarannya melalui Virtual Account lewat salah satu bank milik pemerintah. Informasi yang dihimpun koran ini di lapangan hingga kemarin penggunaan CD tersebut belum ada sosialisasi sama sekali.

Seorang guru Matematika di Kecamatan Sarang mengaku paket CD pembelajaran itu ia terima belum lama ini. Namun saat hendak diaplikasikan pada anak-anak didiknya ternyata CD tak bisa dibuka. ”Ada yang tidak bisa dibuka. Sementara yang bisa dibuka materi tidak bisa dicopy untuk tugas anak-anak. Akhirnya saya bikin materi sendiri,” ungkap pria 39 tahun itu.

Ia mengaku kurang tau persis berapa harga paket CD itu. Sebab semua dibelikan sekolah. ”Pakai dana BOS kayaknya. Karena CD itu panduan guru,” ujarnya.

Sementara soal paket CD tersebut menurutnya terlalu dipaksakan. Terlebih di internet materi pembelajaran juga banyak yang bisa di-Download. Banyak guru-guru yang akhirnya memilih cari di internet dan di aplikasi. “Apalagi kabarnya mau PTM (pembelajaran tatap muka),” imbuhnya.

Data Jawa Pos Radar Kudus jumlah SD sederajat di Kabupaten Rembang ada 423 sekolah. Untuk yang SD ada 375 sekolah, negeri 363 dan swasta 12 sekolah. Untuk MI ada 48, negeri 2 dan swasta 46.

Sementara itu di sejumlah SD di Kota Rembang hingga kemarin sama sekali belum menerapkan paket CD pembelajaran tersebut. Salah satunya di SDN Turusgede, Rembang. Kepala sekolah SD Turusgede, Sri Sulamiati mengaku baru akan sosialisasi terkait program.

”Kita juga ngikut, sudah pesan. Tinggal ada sosialisasinya,” ujarnya.

Terkait penerapan rencana SD. Ia mengaku belum ada sosialisasi. Sehingga belum bisa membuka.” Ada passwordnya. Harapan kami sekolah punya fi le.

Baca Juga :  Antrean Penyaluran Bansos Membeludak, Pukul 09.30 Petugas Baru Datang

Biar anak juga bisa membuka. Karena teknis di dalam tidak tahu. Apakah ada berapa jenis total bukunya. Mungkin bisa diakses seperti internet,” bebernya.

Ia mengaku masih tetap menggunakan buku cetak untuk referensi. ”Mungkin banyak ribuan judul buku. Itu juga buat perpustakaan juga.

Mungkin ada cerita fiksi dan nonfiksi. Saya belum tahu, hanya dengar-dengar banyak,” keteranganya.

Lebih lanjut soal efektifitasnya. Ia mengaku belum bisa mengukurnya. Namun jika bisa dimanfaatkan secara bijak tentu efektif. “Sayangnya di lapangan ada juga guru yang usianya sudah sepuh. Untuk yang muda tentu bisa menyesuaikan. Namun dengan telaten akhirnya bisa menyesuaikan seperti pembelajaran via video,” ujarnya.

Soal sumber anggaran untuk pembelian buku memanfaatkan bantuan operasional sekolah (BOS). “Sebentar lagi ada mau pertemuan. Semoga bisa bermanfaat,” imbuhnya.

Sementara itu Kasi Kurikulum Penilaian SD, pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dindikpora), Muhammad Basroh disinggung soal buku digital tematik dinas kurang tau pasti. Sebab untuk pengadaan menyerahkan penuh sekolah. Karena yang tahu persis kondisi lingkungan masing-masing.

”Sebenarnya sudah. Yang mau beli beli, begitupun sebaliknya. Jadi tidak wajib. Seperti terbitan Erlangga yang beredar di SD ada barcode sama. Jadi terkait digitalisasi dan era sekarang semua serba digital, dikembali kan kemampuan dan kondisi sekolah masing-masing.

Karena tidak semua sekolah sarprasnya tercukupi. Apalagi yang pinggiran. Kaitanya dengan signal, sebab ada pegunungan dan daratan. Namun alhamdulilah pendataan TI untuk persiapan assessment nasional juga bagus Rembang,” bebernya.

Terkait pengadaan buku digital merupakan programnya pusat dan muncul di juknis BOS. Jadi sekolah bisa beli digital dengan dana BOS. “Kami yang di dinas tidak boleh misalnya harus beli. Makanya sekolah diberikan kebebasan. Ketika beli alasan apa, begitupun sebaliknya,” imbuhnya.

Soal teknis tersebut Basroh tidak tahu detailnya. Karena kalau BOS sudah urusan sarpras. Lebih -lebih terkait harga juga belum tahu. Termasuk apakah sekolah harus ambil dalam bentuk paket atau bisa ecer.






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/