alexametrics
28.1 C
Kudus
Tuesday, July 26, 2022

BPBD Rembang Salurkan 450 Tangki Air selama Musim Kemarau

REMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang selama musim kekeringan tahun ini telah total menyalurkan sekitar 450 tangki air bersih. Bantuan tersebut terakhir akan disalurkan pada Desember ini dengan prioritas di desa Pranti (Sulang), Ngotet Lor (Rembang), dan Sendangasri (Lasem).

Bantuan air bersih tersebut berasal dari dua sumber. Dari BPBD Rembang senilai Rp 50 juta atau 250 tangki. Selebihnya CSR 200 tangki. Setiap satu tangki berisi 5.000 liter. Artinya ada 2.250.000 liter yang telah diberikan masyarakat terdampak kekeringan. Mereka tersebar di 25 desa. Kecuali di Kecamatan Bulu, Gunem, Sale dan Kragan selama kekeringan masih banyak sumber mata airnya.

Plt Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang Budi Asmara melalui Kepala Seksi Logisik, Zainal Abidin saat dikonfirmasi membenarkan drooping air bersih pekan ini tuntas. Karena ada salah satu CSR yang seharusnya droping Nopember, cairnya awal Desember.


”Ada 75 tangki. Sudah selesai. Cairnya telat. Tetapi kita salurkan. Tinggal satu kali, rencana hari jumat kita droping terakhir untuk masyarakat Kabupaten Rembang,” keteranganya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus.

Pekan ini tersisa 5 tangki. Akan disalurkan di Pranti, Ngotet dan Sendangasri. Sekian desa yang mengajukan air bersih ketiganya masih membutuhkan. Meskipun di bulan Desember 2021 sudah turun hujan.

Baca Juga :  Lakukan Mitigasi, BPBD Rembang Tambah Tujuh Desa Tangguh Bencana

Khususnya di desa Ngotet Lor masih antri. Kemudian dua titik masih antri dan sebagian dimasukan di tower penampungan air yang mempunyai jaringan ke penduduk. Setiap tahun menjadi langganan kesulitan air bersih.

”Kita start dari APBD sekira akhir September 2021 sudah mulai. Hingga Desember tersisa 3 titik, dari 25 desa tersebar di sejumlah kecamatan,” jelasnya.

Sebagai catatan OPD terkait sempat evaluasi penanganan persoalan kekeringan. Manajemen air menjadi prioritas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTaru) setempat. Pengelola menjadi hal wajib. Jika hujan tidak menjadi banjir tetapi kemarau masih ada air. (ali)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang selama musim kekeringan tahun ini telah total menyalurkan sekitar 450 tangki air bersih. Bantuan tersebut terakhir akan disalurkan pada Desember ini dengan prioritas di desa Pranti (Sulang), Ngotet Lor (Rembang), dan Sendangasri (Lasem).

Bantuan air bersih tersebut berasal dari dua sumber. Dari BPBD Rembang senilai Rp 50 juta atau 250 tangki. Selebihnya CSR 200 tangki. Setiap satu tangki berisi 5.000 liter. Artinya ada 2.250.000 liter yang telah diberikan masyarakat terdampak kekeringan. Mereka tersebar di 25 desa. Kecuali di Kecamatan Bulu, Gunem, Sale dan Kragan selama kekeringan masih banyak sumber mata airnya.

Plt Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang Budi Asmara melalui Kepala Seksi Logisik, Zainal Abidin saat dikonfirmasi membenarkan drooping air bersih pekan ini tuntas. Karena ada salah satu CSR yang seharusnya droping Nopember, cairnya awal Desember.

”Ada 75 tangki. Sudah selesai. Cairnya telat. Tetapi kita salurkan. Tinggal satu kali, rencana hari jumat kita droping terakhir untuk masyarakat Kabupaten Rembang,” keteranganya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus.

Pekan ini tersisa 5 tangki. Akan disalurkan di Pranti, Ngotet dan Sendangasri. Sekian desa yang mengajukan air bersih ketiganya masih membutuhkan. Meskipun di bulan Desember 2021 sudah turun hujan.

Baca Juga :  Duh! Denny Caknan dan Happy Asmara Batal Manggung di Hari Jadi Rembang ke-281, Ini Penyebabnya

Khususnya di desa Ngotet Lor masih antri. Kemudian dua titik masih antri dan sebagian dimasukan di tower penampungan air yang mempunyai jaringan ke penduduk. Setiap tahun menjadi langganan kesulitan air bersih.

”Kita start dari APBD sekira akhir September 2021 sudah mulai. Hingga Desember tersisa 3 titik, dari 25 desa tersebar di sejumlah kecamatan,” jelasnya.

Sebagai catatan OPD terkait sempat evaluasi penanganan persoalan kekeringan. Manajemen air menjadi prioritas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTaru) setempat. Pengelola menjadi hal wajib. Jika hujan tidak menjadi banjir tetapi kemarau masih ada air. (ali)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/