alexametrics
26.5 C
Kudus
Sunday, June 5, 2022

Tolak Pembongkaran Pagar Masjid Lasem, Aliansi Masyarakat Santri Gelar Aksi Damai

REMBANG – Aliansi Masyarakat Santri (Amanat) Lasem menggelar aksi damai di proyek penataan Lasem Kota Pusaka, Mingggu (22/5) petang. Aksi yang digelar sekitar sepuluh menit itu menyampaikan dua tuntutan. Yakni, menolak pembongkaran pagar masjid serta menolak area makan jadi tempat parkir.

Baca Juga : Bulan Ini Gaji ASN di Rembang Mulai Dipotong 2,5 Persen, Ini Alasannya

Aksi Amanat di barat masjid Lasem itu tak menyoal kejanggalan pembangunan. Tetapi hanya, memberikan masukan-masukan pada pihak terkait. ”Pemerintah harus tanggap kepada usulan masyarakat. Khususnya Amanat Lasem,” tandasnya Ketua Amanat Lasem, H. Slamet kepada awak media.


Sambil membentangkan spanduk warna putih dengan tulisan cat merah mereka menyerukan penolakan bertulis “Jangan Bongkar Pagar Masjid Kami !!!”, ”Jangan jadikan area makam lahan parkir !!!”. Spanduk itu pun dibawa berkeliling dibelakang masjid. Di tengah aktivitas pekerja melakukan pembangunan.

Sesuai rencana sekitar lokasi akan dibangun pertokoan. Lantainya tingkat. Serta rencana digunakan areal tempat parkir. Di areal halaman beberapa material lain ditumpuk. Ada lampu penerangan jalan, u-ditch untuk saluran drainase dan material konstruksi besi.

Para santri berkeliling sebanyak dua kali. Setelah itu balik kanan. Usai mereka menyuarakan masukan. Lalu naik colt. Aksi dilakukan ujung dari beberapa kali suarakan namun belum ada respons. “Sebelumnya ada pemasangan spanduk, namun esok harinya dicopot,” kata seorang peserta aksi.

Ketua Amanat Lasem, H. Slamet menyampaikan jika aksi digelar dalam rangka memberi masukan pemerintah. Khususnya tentang pembangunan Kota Pusaka Lasem yang tengah berjalan.

Menurutnya, pemerintah harus menyentuh situs-situs yang belum tersentuh. Selain itu ia menyampaikan ketidaksetujuannya terkait pembongkaran pagar masjid bagian depan. Alasan penolakan karena pertimbangan dari sisi keamanan. “Kami minta dipertahankan. Karena beberapa kali saat masih ada sering kemalingan. Ada pagar saja sering kemalingan. Apalagi tidak ada? Rencananya mau dibongkar. Masjid terbuka tidak enak!,” tegasnya.

Baca Juga :  Sedekah Laut di Rembang Berlangsung Singkat Hanya Satu Jam

“Usul tetap dipagar. Dirubah atau renovasi. Sesuai program yang akan dibangun. Kalau itu Amanat Lasem tidak apa-apa alias setuju. Namun pagar harus ada. Demi keamanan masjid Lasem,” tandasnya.

Selain itu, tanah makam, seperti parkir harus diganti. Pemda memfasilitasi pindah. Tujuannya untuk perekonomian Lasem bertambah. ”lokasi yang dibangun saat ini merupakan tanah wakaf yang peruntukannya pemakaman keluarga Adipati pangeran Tejokusomo. Makam di sana merupakan peninggalan pusaka bersejarah yang harus dijaga dan dirawat secara bersama-sama,” imbuhnya

Menurutnya, amanat Lasem sempat memberikan usulan pada Pemkab, konsultan dari Menteri PUPR. Pagar harus tetap berdiri. Jangan dibongkar. Kemudian prasasti yang berada di masjid Lasem dipindah di alun-alun. Sehingga solusi pembangunan Lasem Kota Pusaka berjalan baik.”Kami tidak akan menolak dan mengganggu!. Tapi masukan kami harus diperhatikan,” pintanya.

Slamet memberikan contoh pembangunan yang berada di daerah Karangturi. Disitu daerah pecinan. Menurutnya sejarah bukan di sana saja. Cuma ada situs-situs yang ada di Kota Lasem harus diperhatikan. Agar nanti bisa masyarakat mengetahui.

Lalu rumah gedong peninggalan Mbah Sambu belum tersentuh. Harapannya juga disentuh. Benar-benar sejarah cagar budaya. ”Belum ada titik temu. Bappeda sudah akan fasilitasi (tapi belum ada titik temunya). Kami berharap setelah aksi ini, Bappeda dan Pemda mengambil sikap,” imbuhnya. (noe/ali)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Aliansi Masyarakat Santri (Amanat) Lasem menggelar aksi damai di proyek penataan Lasem Kota Pusaka, Mingggu (22/5) petang. Aksi yang digelar sekitar sepuluh menit itu menyampaikan dua tuntutan. Yakni, menolak pembongkaran pagar masjid serta menolak area makan jadi tempat parkir.

Baca Juga : Bulan Ini Gaji ASN di Rembang Mulai Dipotong 2,5 Persen, Ini Alasannya

Aksi Amanat di barat masjid Lasem itu tak menyoal kejanggalan pembangunan. Tetapi hanya, memberikan masukan-masukan pada pihak terkait. ”Pemerintah harus tanggap kepada usulan masyarakat. Khususnya Amanat Lasem,” tandasnya Ketua Amanat Lasem, H. Slamet kepada awak media.

Sambil membentangkan spanduk warna putih dengan tulisan cat merah mereka menyerukan penolakan bertulis “Jangan Bongkar Pagar Masjid Kami !!!”, ”Jangan jadikan area makam lahan parkir !!!”. Spanduk itu pun dibawa berkeliling dibelakang masjid. Di tengah aktivitas pekerja melakukan pembangunan.

Sesuai rencana sekitar lokasi akan dibangun pertokoan. Lantainya tingkat. Serta rencana digunakan areal tempat parkir. Di areal halaman beberapa material lain ditumpuk. Ada lampu penerangan jalan, u-ditch untuk saluran drainase dan material konstruksi besi.

Para santri berkeliling sebanyak dua kali. Setelah itu balik kanan. Usai mereka menyuarakan masukan. Lalu naik colt. Aksi dilakukan ujung dari beberapa kali suarakan namun belum ada respons. “Sebelumnya ada pemasangan spanduk, namun esok harinya dicopot,” kata seorang peserta aksi.

Ketua Amanat Lasem, H. Slamet menyampaikan jika aksi digelar dalam rangka memberi masukan pemerintah. Khususnya tentang pembangunan Kota Pusaka Lasem yang tengah berjalan.

Menurutnya, pemerintah harus menyentuh situs-situs yang belum tersentuh. Selain itu ia menyampaikan ketidaksetujuannya terkait pembongkaran pagar masjid bagian depan. Alasan penolakan karena pertimbangan dari sisi keamanan. “Kami minta dipertahankan. Karena beberapa kali saat masih ada sering kemalingan. Ada pagar saja sering kemalingan. Apalagi tidak ada? Rencananya mau dibongkar. Masjid terbuka tidak enak!,” tegasnya.

Baca Juga :  Diduga Ada Macan Tutul di Gunung Lasem, Lima Kamera Dipasang

“Usul tetap dipagar. Dirubah atau renovasi. Sesuai program yang akan dibangun. Kalau itu Amanat Lasem tidak apa-apa alias setuju. Namun pagar harus ada. Demi keamanan masjid Lasem,” tandasnya.

Selain itu, tanah makam, seperti parkir harus diganti. Pemda memfasilitasi pindah. Tujuannya untuk perekonomian Lasem bertambah. ”lokasi yang dibangun saat ini merupakan tanah wakaf yang peruntukannya pemakaman keluarga Adipati pangeran Tejokusomo. Makam di sana merupakan peninggalan pusaka bersejarah yang harus dijaga dan dirawat secara bersama-sama,” imbuhnya

Menurutnya, amanat Lasem sempat memberikan usulan pada Pemkab, konsultan dari Menteri PUPR. Pagar harus tetap berdiri. Jangan dibongkar. Kemudian prasasti yang berada di masjid Lasem dipindah di alun-alun. Sehingga solusi pembangunan Lasem Kota Pusaka berjalan baik.”Kami tidak akan menolak dan mengganggu!. Tapi masukan kami harus diperhatikan,” pintanya.

Slamet memberikan contoh pembangunan yang berada di daerah Karangturi. Disitu daerah pecinan. Menurutnya sejarah bukan di sana saja. Cuma ada situs-situs yang ada di Kota Lasem harus diperhatikan. Agar nanti bisa masyarakat mengetahui.

Lalu rumah gedong peninggalan Mbah Sambu belum tersentuh. Harapannya juga disentuh. Benar-benar sejarah cagar budaya. ”Belum ada titik temu. Bappeda sudah akan fasilitasi (tapi belum ada titik temunya). Kami berharap setelah aksi ini, Bappeda dan Pemda mengambil sikap,” imbuhnya. (noe/ali)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/