alexametrics
28.1 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Tambah 2 Lagi, Total Ada 14 Ekor Sapi Positif Penyakit Mulut dan Kuku di Rembang

REMBANG – Belum ada kebijakan penututupan pasar ternak di Kabupaten Rembang. Meski ditemukan lagi dua sapi penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun, jika ada perkembangan tidak bagus kemungkinan ditutup sementara. Skenario itu diambil agar dapat memutus mata rantai perkembangan PMK.

Kemarin, Bupati Rembang Abdul Hafidz bersama Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’ blusukan ke Pasar Hewan Pamotan. Bersama Dandim 0720 Rembang Letkol Kav Donan Wahyu Sejati, Kapolres Rembang Kapolres Rembang AKBP Dandy Ario Yustiawan, Kepala Kejaksaan Rembang Syahrul Juaksha Subuki, Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpaan), serta Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dinindagkop UKM).

”Di Rembang saat ini sudah ada 14 ekor sapi positif PMK. Lokasinya di Kecamatan Kaliori, Sarang, dan Kragan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.


Dengan adanya kasus ini, pihaknya terus memantau perkembangan. Namun, dia mengimbau agar masyarakat tidak panik. Sebab, PMK bukan penyakit yang menakutkan bagi masyarakat luas, tetapi memang merugikan peternak. Angka kesembuhan PMK juga tinggi. ”Tapi sapi yang kena PMK memang tak mau makan. Akhirnya mengganggu pertumbuhan, sehingga sapi menjadi kurus. Akhirnya merugikan peternak,” ungkapnya.

Baca Juga :  Mau Ganti Tahun, Tiga Paket Jalan di Rembang Tak Kunjung Rampung

Kepala Dintanpan Rembang Agus Iwan Haswanto menambahkan, hingga pemantauan kemarin, ada tambahan dua sapi suspek. Sebelumnya sudah ada 12 ekor sapi yang kena PMK. ”Disebut suspek karena geja klinis belum lengkap. Di antaranya, sapi masih mau makan, tapi kakinya ada yang luka. Lokasinya di Kecamatan Kaliori,” ujarnya.

Dia menambahkan, sapi yang sehat bias, tapi ada tanda-tanda yang mengarah ke PMK harus dikarantina. Sebab, masa inkubasi virus selama 14 hari. ”Jadi, begitu kena virus PMK tidak langsung diketahui seketika. Karena inkubasi virus selama 14 hari. Jika diketahui gejala-gejala seperti itu, segera hubungi petugas,” imbaunya. (noe/lin)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Belum ada kebijakan penututupan pasar ternak di Kabupaten Rembang. Meski ditemukan lagi dua sapi penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun, jika ada perkembangan tidak bagus kemungkinan ditutup sementara. Skenario itu diambil agar dapat memutus mata rantai perkembangan PMK.

Kemarin, Bupati Rembang Abdul Hafidz bersama Wakil Bupati Rembang Mochamad Hanies Cholil Barro’ blusukan ke Pasar Hewan Pamotan. Bersama Dandim 0720 Rembang Letkol Kav Donan Wahyu Sejati, Kapolres Rembang Kapolres Rembang AKBP Dandy Ario Yustiawan, Kepala Kejaksaan Rembang Syahrul Juaksha Subuki, Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpaan), serta Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dinindagkop UKM).

”Di Rembang saat ini sudah ada 14 ekor sapi positif PMK. Lokasinya di Kecamatan Kaliori, Sarang, dan Kragan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dengan adanya kasus ini, pihaknya terus memantau perkembangan. Namun, dia mengimbau agar masyarakat tidak panik. Sebab, PMK bukan penyakit yang menakutkan bagi masyarakat luas, tetapi memang merugikan peternak. Angka kesembuhan PMK juga tinggi. ”Tapi sapi yang kena PMK memang tak mau makan. Akhirnya mengganggu pertumbuhan, sehingga sapi menjadi kurus. Akhirnya merugikan peternak,” ungkapnya.

Baca Juga :  Gus Hanies Wabup Rembang: Tak Ada Intervensi Seleksi ASN

Kepala Dintanpan Rembang Agus Iwan Haswanto menambahkan, hingga pemantauan kemarin, ada tambahan dua sapi suspek. Sebelumnya sudah ada 12 ekor sapi yang kena PMK. ”Disebut suspek karena geja klinis belum lengkap. Di antaranya, sapi masih mau makan, tapi kakinya ada yang luka. Lokasinya di Kecamatan Kaliori,” ujarnya.

Dia menambahkan, sapi yang sehat bias, tapi ada tanda-tanda yang mengarah ke PMK harus dikarantina. Sebab, masa inkubasi virus selama 14 hari. ”Jadi, begitu kena virus PMK tidak langsung diketahui seketika. Karena inkubasi virus selama 14 hari. Jika diketahui gejala-gejala seperti itu, segera hubungi petugas,” imbaunya. (noe/lin)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/